Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Penyesalan Eriawan Dan Adriana


__ADS_3

"Apa?! Kita harus meninggalkan rumah ini juga?" Julia menggeleng tidak percaya dengan apa yang baru saja di ucapkan suaminya. "...Enggak, aku gak mau hidup susah. Aku gak mau meninggalkan rumah ini. Kau ini bagaimana si sebagai laki-laki. Kau harusnya bisa mempertahankan perusahaanmu sendiri"


Plakk...


Pria pendiam seperti Eriawan, yang selalu menuruti apa saja yang diinginkan istri dan anak bungsunya itu. Kini benar-benar naik darah, di saat seperti ini istrinya malah menyalahkannya. Padahal sudah jelas sekali jika dirinya yang menyebabkan semua ini terjadi. Eriawan benar-benar merasa telah di bodohi oleh istrinya ini.


"Kau diam! Jika kau tidak melakukan transaksi itu tanpa sepengetahuan ku. Semuanya tidak akan terjadi. Kau yang terlalu serakah, Julia! Kau yang membuat semuanya menjadi seperti ini" bentak Eriawan pada istrinya


"Terserah, tapi aku gak akan sudi tinggal sama pria miskin sepertimu. Yang aku inginkan adalah harta dan kekayaan. Bukan hanya pria tua bangka sepertimu" Julia berlalu dari hadapan Eriawan dengan masih memegangi pipinya yang terasa panas karena tamparan keras suaminya. Julia pergi ke kemarnya dan membereskan pakaian dan beberapa perhiasan yang masih dia miliki ke dalam koper dan tas miliknya.


Di sisi lain, Adriana menangis di balik dinding. Pertengkaran kedua orang tuanya terdengar jelas di telinganya. Keadaan keluarganya kini sedang tidak baik-baik saja. Adriana juga tidak mau hidup susah, tapi melihat keadaan Ayahnya saat ini. Dirinya juga tidak akan tega untuk meninggalkan Ayahnya sendiri. Apalagi setelah Adriana tahu jika Ibunya adalah penyebab dari yang terjadi pada keluarganya ini. Seolah Adriana mulai mengerti, dirinya hanya dijadikan atas nama oleh Ibunya. Sering kali Ibunya mengatakan jika semuanya untuk Adriana. Tapi, nyatanya semuanya untuk dirinya sendiri. Hanya untuk kepentingan sendiri. Adriana mulai menyadari ini.


Gadis itu berjalan menyusul Ibunya ke kamar, pintu kamar sedikit terbuka. Terlihat Ibunya yang sedang memasukkan pakaiannya ke dalam koper. Mungkin Ibunya akan segera pergi dari rumah ini karena tidak mau hidup susah bersama suaminya.


"Cih. Jangan harap aku masih mau menjadi istrinya setelah dia bangkrut seperti ini. Tidak ada harta juga tidak akan ada cinta"


Ya Tuhan, kenapa Mama sampai seperti itu. Aku benar-benar tidak menyangka jika Mama seperti ini.


Adriana mematung mendengar ucapan Mama di dalam kamar. Sungguh Adriana tidak pernah menyangka jika sifat asli Ibunya seperti ini. Sungguh Adriana menyesal sekarang, kenapa dia selalu patuh dengan apa yang di katakan Ibunya. Bahkan untuk menyakiti Kakaknya sendiri, Adriana selalu nurut. Karena Ibunya bilang, jika Kakaknya itu adalah pembunuh yang bisa kapan saja membunuhnya. Itu sebabnya kenapa Ayahnya juga membencinya. Sungguh Adriana terlalu bodoh saat itu.


Adriana tidak jadi masuk ke dalam kamar Ibunya. Dia kembali ke ruang tengah, disana Ayahnya masih duduk di sofa dengan tatapan bingung dan putus asa. Adriana mendekat ke arahnya dan langsung menghambur ke pelukan Eriawan. Menangis tersedu-sedu di pelukan sang Ayah.

__ADS_1


"Pa, Riana akan ikut Papa apapun keadaannya. Riana tidak akan ikut Mama, maafkan Riana Pa" lriih Adriana dengan isakan tangis yang terdengar.


Eriawan memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Mengecup puncak kepala anak bungsunya ini. Tak terasa air matanya juga ikut menetes. Hidupnya hancur tidak seberapa dengan kehancuran hidup anak sulungnya yang dia terlantarkan selama ini.


Bukan masalah perusahaannya yang bangkrut atau istrinya yang ingin pergi karena Eriawan sudah tidak mempunyai apapun saat ini. Yang mengganggu fikiran Eriawan adalah anak pertamanya yang dia terlantarakan selama ini. Kehancuran hidupnya saat ini, tidak akan sebanding dengan kehancuran anaknya yang bahkan Ayah kandungnya saja membencinya.


Tuhan, apa yang telah aku lakukan selama ini. Tyas.. Maafkan Papa Nak.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


"Hiks.. Aku harus bagaimana Mas? Apa Papa akan menerima bantuanku, anak yang dia benci selama ini?" lirih Tyas dengan tangisannya. Dia tetaplah seorang anak yang menyayangi Ayahnya. Meski selama ini hidupnya tidak seberuntung orang lain yang bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah. Tapi, melihat kabar yang menimpa Ayahnya membuat Tyas tidak akan tega untuk mengabaikan kabar ini.


Ganesh hanya memeluk istrinya tanpa banyak berbicara. Biarkan saja istrinya mengeluarkan semua uneg-uneg di fikirannya. Meski sampai saat ini Ganesh masih tidak mengerti kenapa hati istrinya bisa sebaik ini. Bahkan Ayah yang dulu tidak menganggap keberadaannya saja, masih dia tangisi saat mengetahui kehancuran yang di alami sang Ayah.


Tyas tetap terisak dalam pelukan suaminya. Ayahnya memang membencinya. Tapi, Tyas tetap seorang anak yang menyayangi orang tuanya. Apalagi Tyas sadar jika orang tua yang dia miliki tinggal Ayahnya seorang.


"Aku akan tetap berusaha membantu Papamu. Tapi jika dia masih menerima bantuanku sebagai menantunya"


Tyas langsung mendongak, menatap suaminya dengan mata basahnya. "Terimakasih ya Mas"


Ganesh mengangguk, lalu dia mengecup bibir Tyas sekilas. Memberikan ketenangan untuk istrinya yang sedang gelisah dan cemas. "Sekarang kamu tenang ya, kita ke rumah Kakek sekarang untuk merundingkan masalah ini"

__ADS_1


Tyas mengangguk, dia bangun dari duduknya. "Aku siap-siap dulu, Mas"


Setelah Tyas bersiap, sepasang suami istri ini langsung pergi ke kediaman Aditama. Keluarganya langsung menyambut Tyas dan Ganesh. Mama yang mengerti perasaan menantunya itu langsung memeluknya dengan mengelus punggungnya untuk sekedar memeberikan kekuatan.


"Semuanya sudah Kakek urus, kalian tunggu saja" jawab Kakek saat Ganesh menceritakan kegelisahan istrinya.


Sementara Tyas langsung di ajak Mama ke dalam kamar untuk menenangkannya. "Sudah Sayang, jangan terlalu di fikirkan. Tidak baik juga untuk kesehatanmu dan bayimu ini. Kakek dan suamimu pasti akan mengurusnya"


Tyas mengangguk, dia percaya pada suaminya dan Kakek. Mereka pasti akan memberikan solusi terbaik untuk ini. "Terimakasih Ma, kalian semua begitu baik pada Tyas"


Mama mengelus sayang kepala Tyas dengan senyuman tulusnya. "Iya Sayang, tidak perlu berterima kasih begitu. Kamu adalah bagian dari keluarga kami. Apapun masalahmu pasti akan kami bantu sebisa yang kami lakukan"


Tyas tersenyum, dia menghambur ke pelukan Mama. Pelukan hangat yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk Tyas. Pelukan Mama bagaikan pelukan Ibunya.


Sementara di ruang tengah, Papa, Kakek dan Ganesh sedang merundingkan apa yang harus di lakukan untuk masalah ini.


"Begini saja, Kakek akan menghubungi Eriawan. Menyuruhnya datang kesini untuk menawarkan penawaran kita itu"


Akhirnya keputusan tetap di tangan Kakek. Semuanya hanya menurut saja, karena setiap apa yang Kakek putuskan, sudah pasti dia memikirkan konsekuensinya. Akhirnya Ganesh dan Papa hanya menurutinya saja. Biarkan Kakek yang mengurusnya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..


__ADS_2