
Suara ponsel yang berdering membuat Tyas menghentikan kegiatannya yang sedang mencuci piring di wastafell. Dia mengelap tangannya yang basah dan langsung menuju meja makan, dimana ponselnya terletak disana.
"Alea, tumben banget telepon"
Tyas segera mengangkat telepon dari Alea, teman sekolahnya itu. "Hallo Le, ada apa?"
"Tyas, bisa bantuin aku gak. Duh gimana ya, aku ada janji sama temen aku buat bantuin dia urusin acara wedding gitu. Tapi, aku ada urusan nih. Acaranya besok, tinggal urus soal cattering nya aja. Kamu bisa bantuin aku gak?"
Tyas tersenyum mendengar cerocosan temannya ini. Sudah sangat lama mereka tidak saling bertemu. Hanya berkabar lewat pesan singkat saja. Dan Tyas merindukan kehadiran temannya ini.
"Iya Le, nanti aku bantuin. Kamu kirim aja nomor ponsel teman kamu dan alamat acara wedding nya. Nanti malem aku izin sama suami aku dulu"
Mendengar kata suami dari mulut Tyas, Alea seolah teringat sesuatu. "Oh ya, bagaimana pernikahanmu? Suami kamu baik 'kan sama kamu?"
Tyas terdiam, menjawab pertanyaan seperti ini sangatlah sulit. Bagaimana dia bisa menceritakan keadaan pernikahannya saat ini. Setelah Seira pergi meninggalkan Ganesh.
Sejak saat itulah sikap Ganesh berubah, tidak lagi kasar pada Tyas dan tidak juga berbicara kasar pada Tyas. Ganesh cukup baik sekarang, namun dia menjadi sosok yang pendiam dan tatapannya yang seolah tidak mempunyai tujuan hidup selalu membuat Tyas merasa bersalah karena hal ini. Hanya satu yang belum bisa merubah Ganesh, dia selalu mengatakan jika semuanya salah Tyas. Tapi selepas dari itu, Ganesh cukup baik pada Tyas.
"Baik, suamiku sangat baik"
Dia bisa baik karena hidupnya yang tidak lagi punya tujuan. Mas Ganesh hanya memperlakukan aku seperti bayangan tidak terlihat. Tapi, setidaknya dia tidak lagi bersikap kasar.
"Syukurlah kalau begitu"
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Ganesh kembali hampir larut malam, sejak Seiranya pergi. Ganesh semakin gila kerja dan tidak tahu waktu. Dia selalu pulang malam hari. Ganesh juga tidak lagi memperhatikan kesehatannya. Jika tidak ada Tyas yang setiap pagi dan malam membujuknya agar makan, mungkin Ganesh sudah mati kelaparan. Dia benar-benar kacau sejak Seira pergi.
"Mas sudah pulang, ayo mandi dan makan malam dulu ya"
Kata yang biasa Tyas ucapkan setiap Ganesh kembali dari bekerjanya. Meski selalu di abaikan oleh suaminya, tapi setidaknya Ganesh tidak menolak saat Tyas selalu menyuapinya makan dan membantunya berganti pakaian.
Semua tugas itu Tyas lakukan dengan senang hati, bisa melayani suaminya adalah hal yang dia harapkan sejak menjadi seorang istri. Meski nyatanya dia baru bisa melakukan ini hanya karena Ganesh sedang kehilangan arah karena Seiranya yang pergi.
"Biar aku saja"
Selalu saja, setiap Seira akan membuka celana Ganesh. Maka dia selalu menolaknya dan berkata seperti itu. Tyas mengerti, mungkin karena Ganesh merasa malu dan tidak rela jika Tyas melihatnya. Karena sejatinya Tyas bukanlah wanita yang di harapakannya untuk menjadi istrinya.
Tyas langsung keluar ruang ganti setelah menyiapkan celana untuk ganti suaminya. Tyas segera menyiapkan makan malam untuk suaminya, membawanya ke kamar Ganesh karena jika tidak seperti ini maka Ganesh tidak akan mau makan. Tyas selalu memaksa Ganesh makan karena dia tahu jika suaminya tidak akan makan siang selama di kantor.
"Mas makan dulu"
__ADS_1
Tyas masuk ke dalam kamar suaminya, menyimpan nampan berisi makanan di atas meja. Lalu menghampiri Ganesh yang duduk di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Tyas duduk di sampingnya.
"Makan dulu yuk, nanti langsung istirahat"
Ganesh tidak menjawab, dia berdiri dan berjalan menuju sofa. Tyas hanya tersenyum lirih, meski suaminya selalu mengabaikannya. Setidaknya Ganesh masih mau menurut saat Tyas menyuruhnya makan. Itu saja sudah cukup. Yang terpenting untuk Tyas adalah kesehatan suaminya.
Seperti malam-malam sebelumnya, Tyas selalu telaten menyuapi Ganesh dengan penuh ketulusan. Cinta istri mana yang akan Ganesh dapatkan sebesar cinta Tyas padanya. Namun, bagi Ganesh Tyas hanyalah bayangan tak terlihat. Tyas hanyalah seseorang yang bertugas mengurusnya. Bukan istrinya!
"Mas besok aku ada urusan keluar sebentar. Boleh?"
"Terserah"
Jawaban yang sebenarnya tidak di harapkan. Namun, apa yang Tyas harapkan dari suaminya. Dia tidak mungkin mencegahnya untuk tidak pergi, karena Tyas bukanlah istri yang di inginkan oleh Ganesh.
Semoga kamu akan segera pulih dan mempunyai semangat hidup lagi, Mas. Aku tidak ingin terus melihatmu kacau seperti ini. Setidaknya jika kamu sudah baik-baik saja, aku bisa lepas meninggalkanmu. Tanpa ragu lagi.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Tyas mulai membereskan beberapa makanan di atas meja penyajian makanan di pesta pernikahan ini. Teman Alea ini cukup baik padanya, dan Tyas senang melakukan pekerjaan ini. Dengan melakukan kesibukan membuat Tyas bisa melupakan sejenak semua beban hidupnya. Sendainya dulu Kakek tidak memintanya keluar dari tempat kerjanya. Mungkin sampai saat ini Tyas masih mempunyai kesibukan selain pekerjaan di rumah.
Semuanya telah selesai, kini Tyas sedang istirahat sejenak. Namun, tatapan matanya langsung tertuju pada seseorang yang duduk di salah satu kursi tamu.
Kak Seira.
"Hay Kak, apa kabar?"
"Baik Yas, kamu apa kabar? Kesini sama Ganesh ya?"
Tyas dan Seira saling berjabat tangan dengan canggung. Tyas sedikit bingung saat ingin menjawab pertanyaan Seira itu. Tyas menatap Seira yang terlihat baik-baik saja setelah berpisah dengan Ganesh. Sementara suaminya begitu terpukul akan hal ini. Tyas merasa ini semua tidak adil.
Tyas tersenyum, senyuman yang menyimpan kesedihan dan banyak luka disana "Tidak Kak, aku datang bersama temanku yang kebetulan menjadi pengisi catering di acara ini"
"Emm. Kakak kenapa lama tidak datang ke rumah?" tanya Tyas
Bukannya tidak tahu, dia hanya ingin mencoba menebak apa yang Seira rasakan pada Ganesh. Apa perasaannya masih sama dengan dulu. Sementara suaminya begitu terpuruk karena perpisahan mereka.
"Tyas, ada hal yang harus aku bicarakan sama kamu. Bisa kita bicara di luar saja? Disini terlalu ramai dan berisik"
Akhirnya mereka pergi dari tempat pesta pernikahan ini. Memilih duduk di kursi yang berada di halaman luar, cukup sepi di sini.
"Emm. Tyas, sebenarnya aku dan Ganesh sudah berakhir"
__ADS_1
Tyas langsung menoleh ke arah Seira "Jangan bercanda deh Kak"
Seira menggeleng pelan, menyangkal ucapan Tyas "Tidak Tyas, aku tidak bercanda. Aku dan Ganesh memang sudah berakhir, aku sudah lelah Tyas. Sudah berbagai cara yang kita lakukan untuk mempertahankan hubungan ini, tapi tetap saja pada kenyataannya takdir tidak pernah berpihak pada kita.."
"..Aku ikhlaskan Ganesh padamu, Tyas"
Tyas terdiam, ternyata semuanya memang benar. Seira telah melepaskan Ganesh dengan ikhlas untuknya. Tapi, sayang pria itu tidak sama sekali melihat Tyas sebagai istrinya. Tyas hanya bagaikan bayangan tak terlihat bagi Ganesh.
Tyas memegang kedua tangan Seira dan menatapnya dengan berkaca-kaca. Tersirat kesedihan di balik tatapan matanya. Tyas hanya tidak ingin ketulusan Seira untuk melepaskan suaminya pada Tyas. Hanya akan sia-sia.
Karena sejatinya Seiralah yang sangat Ganesh cintai bukan dirinya. Melihat Ganesh yang terpuruk karena perpisahan mereka, benar-benar membuat Tyas sedih dan terluka. Betapa pria itu mencintai Seira dengan seluruh hidupnya.
"Kenapa Kak Seira melakukan ini? Kenapa mengakhiri semuanya?"
Tahukah semuanya hanya sia-sia. Mas Ganesh tetap tidak akan mencintaiku.
"Tyas, aku sudah tidak bisa melanjutkan hubungan ini. Kamu tahu sendiri, aku dan Ganesh berbeda"
"Kak" Tyas mendongak dan menatap Seira dengan matanya yang berkaca-kaca "Aku tahu jika aku sudah menjadi pengacau hubungan Kakak dan Mas Ganesh. Maafkan aku Kak, maaf"
Tyas menundukan wajahnya dengan terus mengucap maaf. Dia merasa sangat bersalah karena telah menghancurkan hubungan mereka. Kehadirannya hanya menghancurkan cinta di antara dua orang.
Seira tiba-tiba memeluknya, mengelus punggung Tyas yang bergetar. Tyas menangis sejadi-jadinya di pelukan Seira. Selama ini Tyas benar-benar tidak bisa meluapkan kesedihannya, bahkan hanya dengan menangis saja. Tyas tidak bisa.
"Tyas, sudah ya.. Jangan nangis terus, aku tidak papa. Dan kamu juga tidak salah apapun, tidak perlu minta maaf dan merasa bersalah seperti ini"
"Maafkan aku Kak, maaf"
Tyas terus bergumam kata maaf di pelukan Seira. Saat ini dia sedang berada di titik terendah dalam hidupnya. Merasa bersalah karena kehadirannya di antara hubungan Seira dan Ganesh. Namun, dia juga tidak mengingikan semua ini.
"Sudah, kamu tidak salah dan tidak perlu minta maaf"
Setelah tangisan nya cukup reda, Tyas melerai pelukannya. Dia menatap Seira dengan matanya yang basah "Apa ini benar-benar sudah menjadi keputusan Kakak?"
Seira mengangguk yakin "Iya Tyas, lagian aku sudah punya hati lain yang harus aku jaga sekarang"
Tentu hal itu sudah cukup sebagai jawaban untuk Tyas. Dia memegang kedua tangan Seira "Baiklah Kak, semoga Kakak bahagia"
"Kamu juga harus bahagia Tyas, aku yakin Ganesh akan bisa mencintaimu suatu saat nanti. Pernikahan kalian pasti akan di selimuti kebahagiaan. Kamu hanya perlu bersabar saja"
Semoga hal itu benar-benar akan terjadi.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga