Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Kebahagiaan Ganesh


__ADS_3

Suasana di ruang rawat mulai sepi karena beberapa orang sudah pulang. Tinggal Mama dan Tante Syifa yang menjaga dua pasien ini. Ganesh dan Tyas masih berbaring di atas tempat ranjang pasien. Tyas sedang duduk menyandar sambil menyusui anaknya. Ganesh yang masih sulit untuk bergerak karena tubuhnya yang terasa linu semua. Belum lagi tangannya yang mempunyai luka robekan cukup lebar.


"Dia haus Sayang, sampe kuat banget gitu sedot asinya"


Tyas tersenyum sambil mengelus kepala anaknya. "Iya Mas, dia haus sekali sepertinya"


Mama yang duduk di pinggir ranjang pasien mengelus kepala cucunya itu. "Dia sangat meggemaskan, gemas sekali Mama. Oh ya, kalian tinggal dulu di rumah kita saja sampai benar-benar pulih"


"Aku terserah Mas Ganesh Ma"


"Iya Ma, aku juga gak mau istriku kecapean ngerawat anak kita ini. Aku juga belum menemukan suster untuk bayi kita ini"


"Jangankan suster, nama saja kau belum punya. Ganesh...Ganesh.." Tante Syifa ikut menimpali sambil geleng-geleng kepala mengingat Ganesh yang belum mempunyai nama untuk anak mereka.


"Aku udah dapat kok Tan nama untuk anakku ini"


"Siapa?"


"Gweny Aditama"


"Waw.. Keren juga, jadi kita panggil baby Gwen"


"Iyalah, makanya Tante itu harus nunggu dulu aku berfikir. Karena kalau aku sudah berfikir maka akan menghasilkan yang terbaik"


"Dih percaya diri sekali, sudah tidur sana udah luka-luka kayak gitu. Lagian kamu ini kok bisa sampai kecelakaan lagi si Nesh? Untung saja kali ini tidak ada luka cukup serius"


"Ya namanya juga kecelakaan Tan, mana bisa aku memperkirakan itu. Semuanya sudah ada yang mengatur"


Tante Syifa berdecak, malas sekali dengan keponakannya yang selalu berkilah. Meski apa yang barusan di ucapkannya adalah benar juga si.


"Yaudah kalian istirahat saja, masih sangat lemah begitu. Gweny juga sudah mulai terlelap tuh. Tapi sepertinya dia masih ingin menyusu" Mama menoel-noel pipi gembil cucunya yang masih asyik memopa asi dari Ibunya.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...

__ADS_1


Empat hari berada di rumah sakit membuat Ganesh bosan juga. Karena istrinya hanya satu hari saja menginap di rumah sakit. Karena keadaan Ibu dan bayi sehat dan baik-baik saja.


Pagi ini Tyas datang bersama Erland untuk menjemput suaminya yang sudah di perbolehkan pulang setelah 4 hari di rawat inap di rumah sakit ini. Ganesh sudah menatap tidak suka saat istrinya datang bersama sepupunya itu. Ucapan Erlita waktu itu yang mengatakan jika dia akan menjodohkan Tyas dengan saudara kembarnya itu. Sejak saat itu Ganesh selalu tidak suka jika istrinya berdekatan dengan Erland. Meski hanya saling sapa biasa saja.


"Kenapa sama Erland?"


"Mama 'kan harus jaga Gwen Mas"


"Gezia dan Erlita 'kan bisa" Masih saja mempermasalahkan kedatangan istrinya bersama Erland.


"Erlita dan Gezia gak mau, mereka sedang asyik bermain dengan Gweny"


"Apaan si Bang, ribet banget jadi orang. Untung saja istrimu masih mau menjemput ke sini. Masih saja di permasalahkan"


"Ck. Ya karena kau yang datang bersama dia"


Erland hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Kakak sepupunya yang terkadang sangat overfrotektive. Dia terlalu posesif pada Tyas karena tidak ingin kehilangan istrinya itu. Apalagi jika mengingat apa yang telah di lakukannya di masa lalu pada Tyas.


"Sudah ahh, ayo pulang. Erland minta tolong bawakan tas itu ya" Tyas menunjuk sebuah tas di atas tempat tidur. Tas itu berisi baju dan segala keperluan Ganesh selama di rumah sakit.


Tyas membantu suaminya berdiri, melingkarkan tangannya di lengan suaminya. "Bisa jalan 'kan Mas?"


"Iya, tenang saja aku sudah sembuh"


Mereka pun keluar dari rumah sakit, masuk ke dalam mobil dan Erland merasa menyesal karena mau saja di suruh menjemput Kakak sepupunya yang menyebalkan ini. Akhirnya dirinya yang harus berada di depan sendirian, layaknya seorang supir.


"Bang di depan"


"Apaan si Erl, gak mau. Udah fokus nyetir aja"


"Yaudah kalau gak mau, Kak Tyas saja yang pindah duduknya ke depan"


"Jangan macam-macam kau! Dia istriku, jadi sudah seharusnya duduk di samping suaminya"

__ADS_1


"Udah ahh, kalian berantem terus deh. Aku pusing tau. Diem ya, pokoknya kalau gak diem aku turun dari mobil dan cari taxi saja"


"Ehh. Jangan kayak gitu dong Sayang, iya iya aku diem "


Tyas benar-benar tak habis fikir dengan kelakuan suaminya yang masih saja kekanak-kanakan di saat dia sudah menjadi seorang Ayah. Ganesh dan Erland memang memiliki sifat yang sama-sama keras. Tidak mau terkalahkan dalam hal apapun. Dan jika mereka di satukan, ya seperti ini pasti ada perdebatan yang tiada ujung. Padahal yang mereka bahas hanyalah masalah sepele.


Sampai di rumah, semua anggota keluarga menyambut Ganesh dengan hangat. Kehangatan keluarga yang selalu di rindukan Ganesh selama berada di rumah sakit. Terkadang dia hanya bisa melakukan panggilan video untuk melihat keramaian di keluarganya setelah hadirnya baby Gweny.


Ganesh duduk di sofa, menatap anaknya yang sedang di gendong oleh Kakek dan di ajak bercanda oleh Erlita dan Gezia. Padahal baby Gweny belum bisa apa-apa, melihat saja belum jelas. Usianya masih beberapa hari. Tapi Gezia dan Erlita terlihat begitu antusias dengan kehadiran Gweny.


"Aku mau gendong Gwen Sayang"


"Sebentar Mas..." Tyas menghampiri Kakek dan mengambil alih baby Gwen dari gendongan Kakek. "...Ayahnya mau gendong Kek"


"Iya, cepatlah kasih dia. Selama ini dia belum pernah menggendong anaknya sendiri"


Tyas tersenyum dan mengangguk. Dia membawa baby Gweny ke arah suaminya. Memberikan baby Gweny dengan perlahan ke atas pangkuan Ganesh. Pria itu langsung menatap penuh haru pada bayi mungil dalam gendongannya. Dia tidak menyangka jika sekarang dirinya telah benar-benar menjadi seorang Ayah. Beruntungnya karena dia bersama Tyas. Karena jika dia terus egois dan mempertahankan hubungan di atas perbedaan dengan Seira. Mungkin sampai saat ini dia masih belum menikah dan merasakan kebahagiaan ini. Menggendong anaknya untuk pertama kalinya.


Takdir Tuhan memang yang terbaik untuk kehidupan kita. Bagaimana Ganesh yang egois bisa di luluhkan dengan kelembutan Tyas. Segala ketulusan yang di berikan istrinya telah berhasil membuat Ganesh luluh dan kini dia benar-benar sangat mencintai istrinya. Apalagi setelah dia melihat bagaimana perjuangan istrinya saat melahirkan anaknya. Sangat butuh banyak perjuangan. Tidak mungkin Ganesh akan berpaling dari wanita yang telah memberikan kebahagiaan besar dalam hidupnya.


"Dia cantik Sayang, sepertimu"


"Apasi, dia cantik karena kamu Ayahnya. Lihat saja Zia dan Lita. Mereka sangat cantik, ya karena mereka satu darah dan satu keturunan denganmu"


"Gak, kamu yang paling cantik dalam hidupku setelah Mama"


"Iya deh yang lagi bucin, ngerti kok kalau dunia terasa miliki berdua. Yang lain ngontrak" kata Erlita


Kakek hanya terkekeh lucu melihat tingkah cucu-cucunya ini. Erlita dan Gezia yang selalu manja padanya. Lihat saja saat ini setelah Gweny di ambil oleh Tyas. Kedua gadis itu langsung memeluk Kakek dengan manja.


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


Yuk mampir juga di karya temanku ini, ceritanya bagus..



__ADS_2