
Akhirnya setelah pertengkaran penuh dramatis itu. Ganesh menyadari apa yang membuat istrinya begitu marah. Tyas pergi memang karena kesal dengan suaminya yang tidak menceritakan langsung padanya tentang kenangan tempat mereka makan semalam. Hanya saja Tyas mengerti jika itu hanyalah sebuah cerita di masa lalu. Dia juga akan bertemu dengan tempat-tempat lain yang mempunyai cerita dengan masa lalu suaminya. Kebersamaan Ganesh dan Seira yang terjalin 4 tahun lamanya, tidak mungkin jika tidak banyak kenangan. Dan pastinya sudah banyak tempat juga yang mereka kunjungi bersama bahkan menjadi tempat favorit keduanya. Tyas mengerti tentang hal itu. Meski kesal tapi dia mencoba mengerti.
Tyas memilih untuk ke toilet di restaurant ini. Dia tidak ingin terpancing emosi karena dia tetap seorang istri yang akan merasa cemburu saat mendengar cerita tentang masa lalu suaminya dengan kekasihnya. Apalagi kekasih yang masih menjalin hubungan dengan suaminya di saat Tyas dan Ganesh sudah menikah. Beberapa menit di toilet restaurant, Tyas keluar dan mencari suaminya di parkiran. Tapi mobil suaminya tidak ada disana. Kekesalan yang baru saja reda, harus kembali memuncak saat sadar jika suaminya telah meninggalkannya di restaurant. Apa dia tidak mengingat istrinya ini? Akhirnya Tyas pulang dengan naik taxi.
Pertengkaran semalam berakhir dengan pelukan di atas tempat tidur. Ganesh terus meminta maaf pada Tyas karena keteledorannya. Lalu berakhir dengan dia menggendong Tyas dan membawanya ke dalam kamar. Berakhir dengan saling berpelukan di atas tempat tidur hingga pagi menjelang.
"Sholat dulu" kata Tyas saat suaminya baru bangun dan langsung memberikan kecupan di pipinya yang sedan duduk di depan meja rias.
Ganesh mengangguk, dia berlalu ke ruang ganti untuk segera bersiap untuk menjalankan kewajibannya. Selesai melaksanakannya, Ganesh kembali keluar dan melihat istrinya sedang duduk bersandar di tempat tidur. Rambut panjangnya tergerai, pemandangan seperti ini yang selalu membuat Ganesh merasa paling bersyukur dalam hidup ini. Karena keindahan ini hanya dirinya saja yang bisa melihat. Ganesh ikut naik ke atas tempat tidur, dia mengecup bibir istrinya sekilas lalu memeluknya dengan erat.
"Jangan cemberut terus dong, kan aku udah minta maaf"
Tyas menghela nfas kasar "Lagian kamu kenapa bisa lupain aku si? Segitunya ingat mantan sampai lupa kalau bawa istri sendiri"
"Sayang, jangan mulai deh. Aku bukannya lupa, tapi aku panik. Aku kira kamu udah pergi duluan naik taxi, jadi aku juga langsung pulang karena aku fikir kamu sudah pulang duluan"
"Ck. Kamu kayak nonton di drama saja deh, kalau ada masalah istrinya langsung pergi gitu aja. Kamu lupa saat dulu juga aku tidak langsung pergi, aku masih bertahan sampai aku rasa semuanya sudah tidak bisa di lanjutkan. Sampai kesabaran aku benar-benar hampir habis, barulah aku langsung pergi. Apalagi ini hanya masalah biasa"
"Makanya itu, jadi aku takut banget kalau kamu akan pergi seperti dulu lagi"
Tyas hanya mendengus kesal, dia wanita kuat yang bisa melewati semua rintangan. Kehidupannya sudah keras sejak kecil. Jadi masalah kecil seperti ini tidak mungkin membuatnya pergi dan menghindar begitu saja.
"Maafin ya, aku benar-benar tidak tahu kalau kamu belum pergi dan malah ketinggalan disana"
Rasanya Ganesh ingin tertawa juga ketika mengingat hal itu, istrinya tertinggal di restaurant karena kepanikannya.
"Udah ahh, aku mau lihat Gweny"
__ADS_1
"Tunggu dulu Sayang..." Ganesh memegang tangan Tyas yang sudah mau turun dari tempat tidur. "...Ini masih pagi, aku mau peluk kamu dulu sebentar"
Tyas memutar bola mata malas, dia sudah terbiasa dengan sikap manja suaminya ini jika berada di dalam kamar. "Aku mau siapin sarapan Mas"
"Nanti saja, aku masih mau sama kamu. Sayang ihhh"
Hah.. Tyas menghela nafas, akhirnya dia hanya bisa menuruti keinginan suaminya itu. Kembali bergelung di bawah selimut dengan saling berpelukan hangat. Ganesh mencium kening istrinya, beralih kedua pipi dan hidungnya berakhir di bibir yang cukup lama. Bermula dari kecupan dan berakhir dengan luma*tan penuh gairah. Akhirnya matahari yang baru saja menampakan sinarnya dengan malu-malu di lalui oleh sepasang suami istri ini di dalam kamar.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Akhirnya Bu Diah hanya geleng-geleng kepala dengan kedua majikannya itu. Semalam mereka bertengkar hebat dengan saling berteriak hingga urat-urat tegang. Namun, pagi ini mereka kembali memberikan cinta di dalam kamar. Bu Diah membawa Gweny ke taman untuk menjemur bayi itu di bawah sinar matahari pagi yang sedang hangat-hangatnya.
"Ayah dan Bundamu lucu Nak" kata Bu Diah pada bayi mungil di dalam kereta bayi itu. Seolah mengerti, Gweny menggeliat dengan senyuman tipis di bibirnya.
"Tapi kamu harus bersyukur Nak, karena sebesar apapun masalah di antara kedua orang tuamu, mereka tetap bisa saling menguatkan cinta mereka"
Beralih kembali ke kamar utama, Tyas baru saja keluar dari ruang ganti. Di baru saja selesai mandi. Dia duduk di depan meja rias, suaminya sudah siaga di belakang istrinya dan mengambil alih alat pengering rambut di tangan istrinya. Ganesh mengeringkan rambut istrinya deng cium sana sini. Menghirup aroma shampo di rambut istrinya.
"Mas gak kerja?"
"Kerja, kan ini masih pagi juga. Masih keburu"
"Aku belum siapin sarapan lagi"
"Ada roti 'kan, udah itu aja gak usah masak sarapan. Aku juga gak akan keburu sarapan"
"Yaudah kalau gitu, ini udah. Udah kering rambutnya, aku mau ikat dulu" Tyas mengambil sisir dan mulai mengikat rambutnya, lalu dia berdiri dan mengambil hijab instan dan memakainya.
__ADS_1
"Aku udah siapin pakaian kerja kamu Mas, sekarang aku mau siapin sarapan dulu"
"Iya Sayang, terimakasih"
"Iya Mas"
Tyas berlalu keluar kamar, dia menuju dapur tapi sebelumnya sempat menemui dulu Gweny yang sedang terlelap di kamarnya dengan di temani Bu Diah. "Tidur ya Bu"
"Iya Neng, sudah berjemur dan mandi pasti tidur lagi"
"Yaudah kalau gitu, aku mau siapin sarapan dulu. Nanti kita gantian untuk jagain Gwen dan sarapan ya"
"Iya Neng, terimakasih"
Begitulah Tyas, tidak ada kata sombong meski dirinya adalah seorang majikan. Dia tetap menghargai Bu Diah sebagai pengasuh anaknya. Karena Tyas sadar jika tidak ada bantuan dari sang pengasuh tentu dia akan sangat kewalahan. Apalagi dengan suaminya yang sangat manja dan terkadang cemburu dengan anaknya sendiri jika Tyas terlalu lama mengabaikannya.
Karena sudah terlalu siang, jadi Tyas hanya membuat sadwicth seadanya saja. Yang penting suaminya sarapan pagi ini. Dan Ganesh tetap lahap memakan sarapan paginya di temani sang istri. Selesai sarapan dia langsung berpamitan pada istrinya dan pergi bekerja.
Semnetara Tyas mulai di sibukan dengan kegiatannya mengurus Gweny, karena saat suaminya tidak ada di rumah maka Gweny selalu bersamanya dia yang mengurusnya.
Bersambung
Like komen di setiap chapter... kasih hadiahnya dan votenya..
Ada karya temanku lagi nih.. yuk mampir Cerita bagus..
__ADS_1