
Semuanya kembali baik-baik saja saat keluarga Ganesh kembali datang ke rumah sakit, tempat Ganesh di rawat. Keramaian di ruang rawat membuat Tyas kembali ceria. Ganesh tersenyum senang melihat adik perempuannya dan adik sepupunya begitu dekat dengan Tyas.
Bagaimana Gezia yang selalu cuek dan sedikit dingin, bisa sedekat itu pada Tyas. Tidak seperti saat Ganesh berpacaran dengan Seira. Gezia selalu menunjukan wajah tidak sukanya. Ganesh mulai menyadari, jika perbedaan antara dirinya dan Seira memang memicu kekacauan dalam keluarganya dan hidupnya.
Sejatinya, hubungan harus terjalin dengan satu keyakinan. Karena berbeda keyakinan adalah hal paling menyakitkan dalam suatu hubungan. Dan sekarang Ganesh bersyukur dengan paksaan menikah dari Kakek dan orang tuanya, telah membuat hidupnya bisa merasakan kebahagiaan ini. Memiliki seorang istri yang begitu sabar menghadapi sikapnya selama ini. Apalagi dengan hadirnya calon buah hati mereka. Semakin membuat Ganesh bersyukur atas semua ini.
Gifs di leher Ganesh sudah di lepas, hal itu membuat dia sedikit merasa lega dan bebas bergerak. Meski dokter menyarankan untuk tidak terlalu banyak bergerak dulu di bagian lehernya. Ganesh duduk menyandar di ranjang pasien dengan bantalan di belakang punggungnya agar semakin nyaman. Tentu istri tercintanya yang melakukan itu. Tyas selalu melakukan yang terbaik untuk suaminya agar dia bisa duduk atau tidur dengan nyaman.
"Pantas saja aku tidak bisa menemukan istriku dimana pun. Bahkan orang handal yang aku suruh saja, tidak dapat menemukannya. Ternyata kalian di balik semua ini"
Kesal Ganesh pada keluarganya sendiri. Tidak pernah Ganesh mengira jika keluarganya yang telah menyembunyikan Tyas. Pantas saja dia sangat sulit untuk menemukan istrinya itu. Karena istrinya berada di bawah pengawasan Pamannya, Erwin. Yang sudah tidak di ragukan lagi tentang kekuasaannya. Tentu dia bisa menghalangi pencarian Ganesh itu.
"Makanya jadi cowok jangan sok, bilang gak akan pernah cinta sama Kak Tyas. Yehh. Di tinggalin baru tahu rasa 'kan. Untung saja Kak Tyas hamil anakmu, Bang. Kalau tidak sudah aku urus perceraian kalian dan aku nikahkan Kak Tyas sama si Erland" kata Erlita
Erland yang ikut terbawa-bawa langsung menatap kakak kembarnya itu dengan kesal. Bagaimana bisa kembarannya itu akan menikahkan dia dengan mantan istri kakak sepupunya. Erlita memang aneh, semua ucapannya selalu asal ceplos.
"Jangan asal bicara ya, Lita" tekan Ganesh, dia tidak suka dengan ucapannya Erlita. Bisa benar-benar hancur hidupnya jika Tyas benar-benar meninggalkannya. "Lagian kau emangnya punya hak apa bisa memisahkan Tyas dari Abang"
"Yee.. Situ lupa, aku kan masiswi hukum. Aku bisa menjadi pengacara Kak Tyas" sombong Erlita
__ADS_1
Sontak Papa dan Om Erwin tertawa mendengarnya. "Kamu masih mahasiswi, mana bisa menjadi pengacara kalau kuliahmu saja belum lulus" kata Erwin pada anaknya
Ganesh sontak tertawa, namun beberapa saat saja lehernya langsung terasa sedikit sakit karena dia masih harus menjaga geraknya dulu. Masih belum dibolehkan untuk tertawa lepas atau membuka mulut terlalu lebar karena rahangnya akan terasa ngilu.
Tyas yang melihat suaminya memegangi lehernya dengan sedikit meringis langsung sigap. Dia berdiri dari duduknya di atas sofa, langsung mendekati Ganesh. Entahlah, meski sudah di sakiti beberapa kali. Tapi, Tyas tetap tidak bisa membenci Ganesh. Semakin dia mencoba membencinya, maka perasaannya untuk Ganesh malah semakin tumbuh besar.
"Mas, gak papa?" tanya Tyas lembut, sambil ikut memegangi leher Ganesh dengan pelan.
Ganesh menoleh dan tersenyum melihat perhatian tulus dari istrinya. Hal ini yang selalu Ganesh rindukan sejak kepergian Tyas. Perhatian kecil yang dulu di anggapnya tidak penting. Namun ternyata perhatian itu yang membuatnya tidak bisa lepas dari Tyas. Perhatian kecil dan sederhana yang Tyas berikan padanya telah berhasil membuat hati Ganesh luluh.
"Tidak papa Sayang, leherku hanya sedikit kaku saja" jelas Ganesh
"Ya ampun Lita, omongan kamu itu memang suka bener deh" Mama malah mendukung apa yang di ucapkan keponakan asal ceplosnya itu. Membuat Ganesh semakin kesal saja pada keluarganya yang malah semakin memojokkan dirinya.
Semnetara Tyas hanya tersenyum saja melihat kehangatan keluarga ini. Meski Erlita dan Ganesh sering sekali tidak akur, saling mengejek satu sama lain. Tapi, memang begitulah cara mereka memperlihatkan kasih sayang mereka.
Di satu sisi, Kakek yang duduk santai di sofa yang berada di sudut ruangan hanya tersenyum saat keluarganya kembali hangat seperti dulu. Ternyata keputusannya untuk menikahkan Cucu pertamanya dengan gadis bernama Ayuningtyas, memang keputusan yang tepat. Kini, Ganesh pun telah menemukan kebahagiaannya bersama Tyas, meski mereka harus melewati cukup banyak rintangan dalam pernikahannya.
Saat semuanya sedang senang menggoda Ganesh dan mengejeknya. Apalagi saat mereka mengingat awal-awal pernikahan Ganesh dan Tyas. Bagaimana sikap Ganesh yang terang-terangan menolak kehadiran Tyas di hidupnya. Bahkan perkataannya yang selalu mengatakan jika dia tidak akan jatuh cinta pada Tyas. Namun, akhirnya Ganesh menjilat ludahnya sendiri. Bahkan sekarang, dia lebih bucin pada Tyas.
__ADS_1
Pintu ruangan yang terbuka membuat mereka mengalihkan pemandangan. Tyas yang duduk di pinggir ranjang pasien yang di tempati Ganesh, langsung menunduk takut saat melihat siapa yang datang. Papa, Kakek dan Om Erwin langsung menghampiri dan menyambut keluarga Tyas dengan hangat.
"Maafkan sekali Tuan Aditama, karena kami baru bisa datang..."Eriawan langsung menatap ke arah anak pertamanya. "...Tyas tega sekali tidak memberi tahu kami tentang kecelakaan yang menimpa Nak Ganesh"
Tyas hanya diam, dia tidak mungkin menimpali ucapan Ayahnya itu di depan banyak orang seperti ini. Karena semuanya hanya akan menjadikan perdebatan antara Ayah dan anak yang seharusnya tidak ada satu orang pun yang tahu jika hubungan Tyas dan keluarganya tidak baik.
"Ahh.. Tidak papa Tuan Eriawan, kami sangat mengerti. Tyas juga mungkin terlalu mencemaskan keadaan suaminya hingga dia lupa untuk menghubungi kalian" kata Kakek yang mulai merasa ada yang tidak beres dengan keluar besannya ini.
Julia dan Adriana berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. Tyas semakin menunduk dengan tangan saling bertaut gelisah. Hal ini tentu di sadari Ganesh, dia melihat bagaimana sikap Tyas yang bahkan tidak antusias saat keluarganya datang. Reaksinya malah seperti ini, membuat Ganesh semakin curiga dan menduga-duga apa yang sebenarnya terjadi pada kehidupan istrinya ini.
"Tyas, apa kabar Nak?"
Julia langsung memeluk Tyas, tapi respon Tyas justru membuat semua orang yang melihatnya kebingungan. Tubuh Tyas menegang, bahkan dia tidak membalas pelukan dari Ibunya itu.
"Kak Tyas kenapa pergi dari rumah Kakak ipar? Terus tidak pulang ke rumah kami juga? Kenapa Kak? Mungkin Kakak takut ketahuan ya sama keluarga Kakak Ipar, kalau Kakak itu adalah pembunuh Ibu kandung Kakak sendiri"
Deg...
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..