
Ganesh masih merasa bingung dengan ucapan istrinya itu. Dia bahkan tidak berani meminta uang untuk biaya kuliah adiknya itu. Padahal dia tahu jika suaminya ini lebih dari mampu untuk itu.
"Kamu tinggal bilang saja sama aku kalau kamu membutuhkan uang selain dari kebutuhanmu"
Ya, Ganesh memang sudah mencukupi semua kebutuhan Tyas. Bahkan uang yang Ganesh berikan setiap bulannya, hampir tidak terpakai oleh Tyas karena uang nafkah satu bulan yang Ganesh berikan pada Tyas mungkin bisa dia gunakan untuk beberapa bulan. Karena Tyas adalah wanita yang tidak suka asal beli barang jika memang tidak terlalu dia butuhkan. Tyas selalu berfikir apa ini gaya hidup atau kebutuhan hidup. Karena dua hal itu jelas berbeda.
"Emm. Emang boleh kalau aku pakai uang yang kamu kasih tiap bulannya untuk aku. Aku pakai buat bantu biaya hidup adik aku?"
Ganesh mengerutkan keningnya, bingung. "Loh emangnya uang tiap bulan yang aku kasih masih ada sisanya?"
Tyas terkekeh lucu melihat wajah kaget suaminya. Jelas sekali jika gaya hidup mereka memang berbeda. "Masih sisa banyak Mas, aku 'kan gak biasa beli barang mewah dan lainnya. Jadi uangnya masih ada sisi banyak"
"Ya ampun Sayang, kenapa kamu gak pake saja untuk apapun yang kamu inginkan. Yaudah kamu pakai uang itu dulu untuk melunasi semua biaya kuliah adikmu itu. Nanti aku ganti semuanya. Cukup 'kan untuk melunasi biaya kuliah adikmu?"
Tyas mengangguk dan hal itu semakin membuat Ganesh terkejut. "Ya ampun Sayang, emang kamu pakai berapa si uang yang aku beri dalam satu bulan..." Ganesh sampai geleng-geleng kepala melihat betapa irit istrinya ini. "...Aku bisa benar-benar kaya mendadak kalau punya istri kayak kamu gini"
Gemas juga Ganesh pada istrinya ini. Ganesh tahu jika kehidupan istrinya dulu sangat susah. Meski tinggal di rumah mewah dan terlahir dari keluarga kaya. Tapi, istrinya tetap harus mencari uang sendiri untuk kebutuhannya. Sehingga saat ini Ganesh sengaja memberikan cukup uang setiap bulannya agar Tyas bisa membeli apa saja yang dia inginkan. Tidak perlu mendadak minta uang padanya saat dia menginginkan sesuatu. Tapi ternyata sikap istrinya masih sama dengan dulu. Sederhana. Bahkan setelah mempunyai suami seperti Ganesh saja, dia masih menjadi wanita sederhana yang mengagumkan.
Percakapan mereka terhenti saat pintu ruangan yang terbuka. Ganesh dan Tyas yang masih dalam posisi berpelukan di atas ranjang, terkejut dengan kehadiran Erlita dan Gezia. Tapi, sepertinya hanya Tyas yang terkejut dan merasa malu dengan posisi mereka ini. Suaminya ini terlihat biasa saja. Bahkan dia sama sekali tidak melupakan pelukan tangannya di perut Tyas.
Mengganggu saja. Gumam Ganesh saat melihat kedatangan dua gadis itu. Bukannya senang karena di jenguk oleh kedua adiknya. Tapi, Ganesh malah merasa kesal karena kebersamaannya dengan sang istri harus terganggu lagi.
"Ya ampun, tuh muka kok jelek banget. Bentol-bentol kayak gitu. Ihh.. Kak Tyas kok mau aja si di peluk sama dia yang penyakitan itu" Lagi-lagi omongan Erlita yang selalu asal ceplos, semakin membuat Ganesh kesal. Memang efek dari alergi itu setelah suhu tubuhnya turun maka timbulah bintik-bintik kemerahan di tubuhnya. Bahkan sampai ke wajahnya juga.
__ADS_1
"Diam kau! Kesini mau ngapain si kalian ini?" kesal Ganesh
"Ya mau jengukin Abanglah, ngapain lagi" jawab Gezia sambil berjalan mendekat ke arah ranjang pasien yang di tempati Ganesh dan istrinya.
"Jenguk orang sakit kok gak bawa apa-apa. Harusnya adalah bawa buah tangan"
Erlit berjalan mendekat ke arah ranjang pasien. "Dih. Abang itu udah punya segalanya, kenapa juga harus mengharap buah tangan dari kami yang tidak punya apa-apa ini. Ayolah Bang, seharusnya Abang sekarang memberi kita uang jajan karena kita udah baik banget jengukin Abang kesini di tengah kesibukan kita ini"
Ganesh menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu. "Tuhkan Sayang, sudah aku duga kedatangan mereka ini hanya ada maunya saja. Suamimu ini adalah korban pemerasan"
"Dih. Apaan si Abang ini, korban pemerasan sama adek sendiri. Pelit amat" Erlita malah menatap geli ke arah Ganesh yang sedang mendrama itu pada istrinya.
"Sudahlah, kalian pergi saja nanti aku transfer uang jajan kalian karena kalian sudah baik hati sekali mau menjenguk Abang kesini" kata Ganesh dengan nada kesal dan penuh sindiran keras pada kedua adiknya ini.
"Dasar penjilat" gumam Ganesh kesal
Sementara Tyas hanya tersenyum melihat kelakuan mereka. Sungguh adik Kakak yang sesungguhnya. Bahkan Erlita yang hanya sebagai adik sepupunya saja sudah sangat berani pada Ganesh. Itu semua pasti karena suaminya memang memanjakan kedua adiknya dengan kasih sayang yang besar.
"Ohh ya Zi, bagaimana butik kamu itu?"
Meski terlihat cuek dan terkadang selalu merasa kesal pada kedua adiknya ini. Tapi di sela-sela waktunya, Ganesh selalu menanyakan tentang pekerjaan atau sekolah yang di jalani adik dan adik sepupunya ini.
"Aman Kak, cuma sekarang ini aku lagi buat desain gaun khusus Ibu hamil. Nah udah jadi dan menurut aku ini bakal di terima di pasaran. Tapi aku belum menemukan model yang tepat nih. Sepertinya harus model yang benar-benar sedang hamil si, karena kalo model yang di buat seolah-olah hamil agak beda pas di foto. Gak sesuai gitu"
__ADS_1
Tyas menatap penuh kagum pada Gezia, di usinya yang mash terbilang muda sudah bisa memiliki usaha sendiri yang cukup terkenal di kalangan atas. Memang keturunan Aditama selalu bisa hidup mandiri dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Sifat Gezia memang hampir sama dengan suaminya. Berambisi dan selalu bersungguh-sungguh dalam mengerjakan sesuatu. Tyas menjadi sedikit salah tingkah dan bingung saat tatapan Gezia terarah padanya dengan penuh arti.
"Kalau Kak Tyas gimana?"
Ganesh dan Erlita langsung menatap ke arah Tyas. Dia juga terlihat terkejut dengan apa yang di ucapkan Gezia barusan. Dia? Menjadi model gaun hasil desainnya Gezia? Ahh.. Tentu tidak, Tyas terlalu malu untuk melakukan itu. Dia tidak pernah sekalipun menjadi seorang model apapun itu.
Tyas langsung mengibaskan tangannya cepat, menolak usulan Gezia itu. "Gak bisa Zi, aku gak pernah jadi model apapun. Lagian kamu ini aneh-aneh saja, masa milih aku si. Kan aku pake kerudung. Jadi gak akan bisa jadi model kamu"
Alasan yang masuk akal menurut Tyas, karena dirinya memang memakai kerudung. Sementara banyaknya model tidak memakai kerudung karena kebnyakan model pakaiannya yang tidak hijab friendly.
"Loh, Kakak 'kan belum tahu bagaimana desain yang aku buat. Untuk baju Ibu hamil ini, memang hijab friendly tapi akan cocok juga jika di pakai tanpa hijab"
Nahloh, Tyas harus bagaimana sekarang? Alasan apalagi yang akan dia pakai untuk menolak permintaan Gezia ini. Dia jadi bingung sendiri sekarang. "Tapi aku beneran gak bisa Dek, gak bisa kalau harus bergaya di depan kamera gitu. Daripada gagal, meningan kamu cari saja model yang sudah profesional dan sedang hamil"
Gezia beralih tempat menjadi di dekat Tyas, dia memegang sebelah tangan dengan wajah memelas. "Ayolah Kak, mau ya.. Nanti aku kasih bonus maternity shoot deh. Biar kalian juga bisa mengabadikan foto saat Kak Tyas sedang hamil ini"
Wajah memelasnya membuat Tyas tidak tega juga, padahal dia tahu kalau ini hanya bagian dari rencana adik iparnya untuk membujuknya. Tapi Tyas tetap saja tidak tega, membuat dia menganggukan kepalanya mengiyakan.
"Yes.. Abang cepat sembuh, biar nanti bisa maternity shoot nya pas wajah Abang sudah kembali tampan" kekeh Gezia di akhir kalimatnya.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga
__ADS_1