Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Kamulah Yang Terbaik


__ADS_3

Masuk ke kamar ini lagi seperti banyak bayangan dalam ingatan Tyas. Menatap sofa di ujung ruangan, dimana dirinya selalu tidur meringkuk sendirian. Beberapa hari pernah menginap di rumah Kakek, dia hanya tidur di atas sofa. Mungkin keluarga suaminya mengira jika dia dan Ganesh tidur bersama, layaknya sepasang suami istri. Namun, kenyataannya tidak.


"Bersih-bersih dulu ya Mas, terus minum obat baru istirahat" kata Tyas sambil mendorong kursi roda suaminya ke arah ruang ganti, lalu masuk ke dalam kamar mandi.


Dengan telaten, Tyas mengelap tubuh suaminya. Hingga saat hal yang selalu membuatnya gugup adalah saat dirinya harus membersihkan bagian pusaka suaminya. Tyas tidak bodoh, apalagi saat benda pusaka itu tiba-tiba berdiri tegak seperti keadilan. Duh tangannya sudah gemetar tidak karuan. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Dia tetap harus membersihkannya, meski begitu gugup tapi ini sudah kewajibannya. Merawat suaminya di saat sakit.


Ganesh tersenyum dengan sedikit menahan gairahnya yang selalu saja bergelora saat Tyas membersihkan tubuhnya seperti ini. Apalagi saat benda pusaka miliknya sudah tegak begitu saja. Membuat dirinya ingin segera sembuh dan menerjang istri cantiknya itu. Ganesh semakin gemas saat melihat wajah Tyas semakin memerah.


"Maaf ya Mas"


"Kenapa minta maaf Sayang, semua ini milikmu. Kau bebas mau melakukan apapun padaku"


Bukannya senang mendengar ucapan Ganesh itu, Tyas malah semakin merasa malu dengan perkataan Ganesh barusan. Melakukan apapun padanya? Aaa.. Hal itu seolah menjadi hal ambigu bagi Tyas. Dia tidak mungkin berani melakukan apapun tanpa suaminya sendiri yang memulai.


"Sudah selesai Mas, ayo kita keluar dan ganti baju"


Tyas segera memindahkan tubuh suaminya yang duduk di atas kursi ke kursi roda. Dengan sedikit pincang Ganesh duduk di kursi roda dengan di bantu istrinya. Setelahnya, segera Tyas mendorong kursi roda itu keluar dari kamar mandi. Memakaikan Ganesh pakaian yang telah dia siapkan.


"Langsung istirahat saja Mas" Tyas membantu Ganesh untuk naik ke atas tempat tidur. Menarik selimut sampai ke pinggang suaminya. Lalu Tyas mengambil obat Ganesh yang sudah di siapkan dia atas nakas. "Minum obat dulu, Mas"


Ganesh menurut saja, dia menikmati setiap perhatian yang di berikan istrinya itu. Betapa tulus Tyas merawatnya, bahkan jika mengingat apa yang telah dia lakukan pada istrinya. Rasanya perlakuan Tyas saat ini terlalu baik. Seolah tidak ada rasa kebencian dalam dirinya, setelah apa yang di lakukan Ganesh padanya.

__ADS_1


"Sini naik Sayang, kamu sudah terlalu lelah. Kamu juga harus istirahat"


Tyas sedikit ragu saat Ganesh menyuruhnya naik ke tempat tidur. Seolah Tyas kembali ke waktu itu, dimana dia harus tidur di atas sofa karena Ganesh tidak mau tidur seranjang dengannya. Ganesh seolah tahu arti tatapan ragu dari istrinya itu. Mengingat apa yang telah dia lakukan pada Tyas selama pernikahan mereka.


"Maaf, dulu aku terlalu buta sampai tidak melihat semua kelebihan dirimu. Hingga kau hampir menyerah, tapi aku sangat berterima kasih karena kamu masih mau bertahan denganku."


Tyas segera naik ke atas tempat tidur tanpa rasa ragu lagi. Suaminya telah berubah, tidak mungkin dia akan menyakitinya lagi. Tyas yakin jika Ganesh telah benar-benar berubah. Dengan memberanikan diri, Tyas memeluk suaminya. Bersandar di dada bidang suaminya, hal yang selama ini selalu dia dambakan saat sudah menikah.


"Tidak perlu untuk terus meminta maaf Mas. Semuanya telah berlalu dan biarkan saja berlalu. Yang terpenting, sekarang kamu sudah memiliki aku seutuhnya. Sudah hadir calon bayi kita, dan kita harus mulai hidup yang baru tanpa terus menyalahkan diri di masa lalu" Tutur Tyas, dia tidak mau jika suaminya terus menerus menyalahkan dirinya sendiri.


Ganesh memeluk pinggang Tyas dengan tangan kirinya. Mengecup puncak kepala istrinya itu. "Terimakasih untuk semua rasa sabar yang kamu berikan padaku. Betapa beruntungnya aku bisa menjadi pendamping hidupmu. Maaf, jika aku telat menyadarinya. Jika, kamulah yang terbaik untuk ku"


Tyas mulai terlelap saat suara lirih terdengar mengucapkan kata cinta padanya.


"Aku mencintaimu, Tyas" Ganesh mengecup puncak kepala Tyas sebelum dia juga ikut terlelap.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Pagi yang menyegarkan untuk sepasang suami istri ini. Tidur berpelukan dengan penuh kasih sayang telah membuat keduanya merasa energi mereka terisi penuh sekarang. Tyas dengan telaten dan penuh keikhalasan merawat suaminya. Mulai dari mandi, ganti pakaian sampai makan pun, Tyas yang melakukannya. Dia lakukan semuanya dengan rasa bahagia, karena sebelumnya tidak pernah terfikir oleh Tyas jika suaminya akan menerimanya seperti ini.


Sarapan bersama anggota keluarga Aditama, memang penuh dengan kehangatan. Berbeda sekali dengan saat Tyas berada di keluarganya sendiri. Semuanya terasa dingin, tidak ada kehangatan bagi Tyas. Karena dirinya selalu di asingkan.

__ADS_1


"Tyas, tadi Papa kamu telepon Papa. Katanya dia mau datang kesini sebagai permohonan maaf atas apa yang terjadi di rumah sakit waktu itu" kata Papa, di sela-sela sarapan mereka


Tyas menghentikan gerakan tangannya yang ingin memasukan makanan ke mulutnya. Dia mendongak dan menatap Papa. Ayahnya datang kesini pasti karena keluarga Ganesh, bukan karena dirinya. Tidak mungkin dia merasa bersalah padanya. Ayahnya hanya malu pada keluarga besar suaminya.


"Apaan si Pa, kenapa Papa kasih izin. Setelah aku sembuh, aku akan mencabut saham perusahaan kita di perusahaannya dan membatalkan semua kerja sama kita" tegas Ganesh, dia tidak ingin membiarkan istrinya terus terluka dengan keluarganya yang sampai sekarang bahagia-bahagia saja setelah mengorbankan Tyas sebagai penyelamat perusahaan mereka.


Tyas langsung mengelus bahu Ganesh hingga pria itu menoleh ke arahnya. Menatapnya dengan prihatin atas apa yang di lalui Tyas selama ini. "Jangan lalukan itu, Mas. Mama Julia dan Adriana tidak akan bisa hidup tanpa bergelimang harta. Kasihan Papa jika perusahaannya bangkrut, maka Mama Julia dan Adrian akan membencinya dan akan meninggalkan Papa"


Hampir semua orang yang ada di meja makan menatap tidak percaya pada Tyas atas apa yang baru saja di ucapkan gadis itu. Setelah apa yang di lakukan Ayahnya dan keluarganya. Masih bisa Tyas berbicara begitu bijak seperti itu.


"Kenapa Nak? Kamu seharusnya membiarkan Papa kamu tahu siapa yang tulus menyayanginya. Jelas bukan Istrinya dan anak bungsunya itu" kata Tante Syifa, ikut gemas dengan sikap terlalu baik Tyas.


"Tapi, Tyas takut Papa akan terluka dengan semua itu jika benar perusahaannya akan bangkrut"


Tidak! Tyas tidak mampu jika harus membenci Ayahnya. Sebesar apapun kesalahan yang di buat Ayahnya padanya, Tyas tetap tidak bisa membencinya. Tyas hanya marah dan kecewa. Namun, untuk membenci Ayahnya sendiri. Sungguh Tyas tidak bisa.


"Sudahlah Sayang, biarkan Ganesh, Papa dan Kakek yang mengurus semuanya. Kamu akan tahu nanti" tegas Mama yang membuat semuanya mengangguk setuju dan hal itu membuat Tyas tidak bisa lagi membantahnya. Meski dia sangat penasaran apa yang sebenarnya akan di lakukan keluarga suaminya pada Ayahnya.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


__ADS_2