
Akhirnya hari ini tiba juga, siang ini Tyas sudah berada di butik milik Gezia. Ini pertama kalinya dia datang kesini. Butik yang luas dengan segala fasilitas dan kenyamanan yang ada. Tyas langsung di bawa ke lantai atas untuk segera di rias. Lantai atas ini tempat Gezia bekerja, banyak kertas desain yang berserakan di atas meja kerja bahkan ada yang sampai berjatuhan ke lantai. Ada tempat tidur single di pojok ruangan, tempat untuk beristirahat saat Gezia penat dengan semua gambar-gambar desain nya.
Tyas sudah mulai di rias dengan seorang ahli. Jujur Tyas sangat berdebar menantikan pemotretan ini. Hal pertama yang dia coba dalam hidupnya. Selesai make up, Tyas langsung ganti baju dengan di bantu oleh adik iparnya ini. Gaun yang di desain oleh Gezia benar-benar elegan. Gaun yang tidak membuat Ibu hamil terasa sesak atau kepanasan karena Gezia memilih bahan kain yang sangan lembut dan nyaman di pakai. Meski dengan lengan panjang, tapi sungguh tidak akan merasa gerah dan sesak jika di gunakan oleh wanita hamil.
Selesai berganti pakaian, Tyas segera memakain kerudung segi empatnya yang berwarna senada dengan gaun yang di gunakan. Setelahnya, Tyas mematut dirinya di depan cermin. Sungguh dia seperti orang lain sekarang, make up dan gaun yang di pakainya benar-benar membuat dirinya terlihat elegan. Tyas ingin tertawa sendiri melihat dirinya yang sangat berbeda dari biasanya.
Duh, aku bisa cantik juga ya.
"Waww.. Cantiknya Kakak aku ini, emang udah cocok jadi seorang model dari Zia Boutique" Gezia memeluk kakak iparnya dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu Tyas dan tersenyum senang melihat pantulan mereka di cermin besar di depan mereka.
"Apaan si Dek, Kakak gak bisalah kalau terus menerus jadi modelnya butik kamu ini. Kan kamu tahu sendiri kalau Kakak gak ada pengalaman apapun dalam hal ini"
"Ya gak papa dong, kan hari ini adalah pengalaman pertama Kak Tyas. Jadi, bisa dong jadi model muslimahnya butik aku ini. Aku bayar kok, biar Kakak gak perlu minta uang terus sama Bang Ganesh kalau misalkan Kakak mau beli barang-barang tanpa sepengetahuan Abang"
"Silahkan kamu rayu Kakak iparmu itu, memangnya dia pernah membeli barang mewah apa? Tas yang dia punya saja selalu Mama yang memberikan. Kakak iparmu ini tidak sama dengan wanita lain di luaran sana"
Entah darimana Ganesh muncul, yang jelas pria itu sudah berjalan masuk ke dalam ruangan Gezia ini. Ganesh melepaskan paksa pelukan Gezia pada istrinya, lalu dia menggantikan posisi itu. Tidak peduli dengan adiknya yang menggerutu kesal.
"Ganggu aja deh, lagian Abang ngapain kesini? Aku tidak butuh Abang disini, aku cuma butuh Kak Tyas"
Ganesh melirik sekilas pada adiknya, lalu kembali menatap pantulan dirinya dan istrinya di cermin. Istrinya benar-benar terlihat berbeda sekali. Sangat cantik dan anggun. "Kamu lupa, Abang dan Kakak ipar kamu ini sudah menjadi paket lengkap yang tidak bisa di pisahkan"
"Paket lengkap, emangnya pesan martabak apa" gerutu Gezia, dia memilih berjalan ke arah sofa dan duduk disana. Malas juga melihat kemesraan mereka berdua, sementara dirinya masih jomblo sampai saat ini. Hiks... Bukan karena tidak cantik, tapi karena Gezia terlalu cuek dan dingin pada orang-orang di luar sana. Sikap hangatnya hanya terlihat di depan orang-orang terdekatnya.
"Oh ya Bang, mau gak jadi model cowoknya?" Setidaknya jangan salahkan aku kalau nanti istrimu bersanding dengan model pria lain.
"Tidak, aku tidak mau. Kau cari saja yang lain"
Gezia mengangkat bahunya acuh "Yaudah kalau gak mau"
__ADS_1
Akhirnya sesi pemotretan di mulai. Di lantai bawah sudah tersedia studio foto khusus untuk pemotretan pakaian keluarga terbaru dari butik ini. Sudah ada satu model tanpa hijab disana, kelihatan sekali jika dia hanya hamil yang di buat-buat. Saat melihat Tyas yang datang dengan di gandeng Gezia, model wanita itu langsung antusias melihat perut bulat Tyas yang nyata. Tidak seperti dirinya yang hanya di buat dengan bantalan saja.
"Wah hamil beneran ya Nona, ya ampun" Dia antusias dengan tangan yang ingin mengelus perut Tyas tapi terlihat ragu, apalagi saat melihat tatapan tajam pria yang berada di belakang Tyas.
"Iya Mbak, mau pegang ya. Silahkan" kata Tyas yang tahu keinginan wanita cantik dan ramah itu. Dia langsung mengelus perut bulat Tyas lalu mengusap ke perutnya yang terlihat sama dengan Tyas, hanya saja dia memakai bantal untuk memiliki perut bulat seperti orang hamil.
"Semoga cepat nular ya Nona, saya sudah menikah lama tapi belum juga di kasih kesempatan untuk hamil dan mempunyai anak"
"Iya Mbak semoga cepat ya"
Ganesh menatap istrinya, memang dia terlalu baik hingga selalu bersikap ramah pada setiap orang yang di temuinya. Sifat seperti ini yang sering di manfaatkan oleh banyak orang. Makanya Ganesh selalu menatap tidak suka pada setiap orang yang menyapa istrinya dengan maksud tertentu. Tapi, sepertinya wanita ini tidak ada niat apapun pada istrinya.
"Udah bisa kita mulai" Seorang pria yang menjadi fotografer andalan Gezia dan beberapa butik terkena lainnya datang dengan kamera terbarunya yang menggantung di lehernya.
Loh dia 'kan.....
"Kak Azam ya?"
Sial. Dia tampan juga.
"Emm. Maaf siapa ya?"
Ganesh sedikit bernafas lega saat pria itu tidak mengenali istrinya. Berarti hanya Tyas saja yang salah orang. Tapi, siapa Azam? Ahrgh. Ganesh jadi pusing sendiri.
"Aku Tyas Kak, Ayuningtyas"
Pria yang Tyas panggil dengan nama Azam itu langsung menatap tidak percaya padanya. Memutari tubuh Tyas, memastikan jika wanita yang di depannya ini benar-benar juniornya saat kuliah.
"Tyas, aahh.. Beneran Tyas ya, ya ampun kenapa beda banget sekarang. Cantik sekali"
__ADS_1
Ganesh langsung terbelalak saat mendengar suara antusias dari pria itu. Dan apa tadi dia bilang, Cantik sekali? Dia memuji istrinya. Sial.
"Iya Kak, ini Tyas. Kak Azam apa kabar? Wah jadi juga ya fotografer terkenal" kekeh Tyas, dia tahu cita-cita pria yang banyak membantunya sewaktu kuliah dulu. Dia ingin jadi fotografer, namun orang tuanya tidak mengizinkan. Tapi sekarang akhirnya Azam bisa mengejar mimpinya itu. Dan Tyas ikut senang melihatnya.
"Baik Yas, aku baik. Ya.. Berkat semangat dari kamu, jadi aku bisa mengejar mimpiku ini. Makasih ya Tyas sudah menjadi motivasi hidupku"
Ada dua tangan yang mengepal erat di sisi tubuhnya. Apalagi saat mendengar setiap ucapan dari Azam yang terdengar antusias sekali. Tyas dan Azam terlihat sangat akrab dan itu membuat Ganesh kesal. Ganesh cemburu.
"Iya Kak, senang melihatnya. Kakak sudah sukses dan bisa mengejar mimpi Kakak. Selamat ya"
"Emm. Kamu jadi model butik ini ya, pura-pura hamil juga?" hanya Azam yang melihat perut bulat Tyas dengan sedikit terkekeh di akhir kalimatnya.
Tyas tersenyum sambil mengelus perutnya. "Tidak Kak, Tyas hamil beneran"
Ganesh tidak bisa di bohongi, dia melihat jelas wajah pria itu yang berubah drastis setelah Tyas mengatakan jika dirinya sedang hamil.
"Oh ya, mana suami kamu"
Ganesh langsung berdehem bereaksi atas pertanyaan Azam barusan. Tyas menoleh ke arah suaminya, dia merangkul lengan suaminya yang berdiri di sampingnya. "Ini suamiku Kak, Mas Ganesh ini Kakak Senior aku pas sekolah, namanya Kak Azam"
Azam langsung mengangguk hormat pada Ganesh. "Saya Azam Tuan"
"Hmm"
"Mas..." Ganesh menggoyangkan lengan suaminya karena sikapnya yang tiba-tiba menjadi dingin seperti itu. Ganesh menghela nafas, sebelum dia mengulurkan tangannya untuk menyapa teman dari istrinya ini. Jika bukan karena tatapan istrinya itu, Ganesh malas melakukannya. Keduanya saling berjabat tangan kaku.
"Ganesha Aditama"
Ishh. Kenapa menyebutkan nama lengkapnya si. Tanpa di sebutkan juga semua orang sudah tahu siapa dia.
__ADS_1
Bersambung
Kecemburuan Ganesh masih akan berlanjut ya. Jangan lupa like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..