
"Gak bisa Sayang, tubuh kamu mungil kayak gini"
"Emangnya kenapa? Aku yakin aku bisa kok Mas, kamu jangan parnoan kayak gitu deh"
Tyas sedang mencoba membujuk suaminya agar bisa melahirkan normal, karena Ganesh tetap menyarankan untuk oprasi saja. Alasannya benar-benar tidak bisa Tyas terima, hanya karena dirinya mungil dan sedikit pendek. Tapi, Tyas tidak sependek itu juga. Dokter juga bilang jika tinggi badannya masih cukup untuk bisa melahirkan normal. Lagian tidak ada masalah apapun pada kandungannya, semuanya baik-baik saja. Jadi, tentu bisa untuknya melahirkan normal. Tyas ingin seperti Ibunya, benar-benar merasakan kontraksi dan berjuang dengan keringat bercucuran untuk melahirkannya ke dunia ini.
Ganesh duduk di pinggir tempat tidur, dia mengusap wajahnya yang frustasi. Ganesh hanya takut dengan kemungkinan terburuk yang sering dia dengar. Dia juga tidak akan sanggup melihat istrinya kesakitan. Ganesh telah membaca artikel tentang sakitnya seorang Ibu saat merasakan kontraksi sebelum melahirkan. Bagaikan tulang-tulang rusuknya yang di patahkan. Ganesh ngeri sendiri membayangkan itu.
Tyas duduk di samping suaminya, memeluk suaminya dan menyandarkan kepalanya di punggung suaminya. Ganesh masih menunduk dengan kedua tangan menutup wajahnya. Ganesh benar-benar takut jika istrinya tidak akan kuat menahan rasa sakit saat melahirkan. Meski sebenarnya jalur oprasi juga tidak lebih baik, karena keduanya sama-sama menyakitkan. Seorang perempuan memang harus menerima kodratnya sebagai seorang Ibu. Berjuang saat melahirkan anaknya, dengan apapun caranya. Normal ataupun oprasi, keduanya sama-sama perjuangan yang tidak mudah.
"Bisa ya, aku yakin aku bisa Mas. Jangan pesimis gitu dong, kan kita punya Allah. Yakin saja kalau aku pasti bisa melewati ini. Lagian kandunganku baik-baik saja, semuanya sehat jadi aman untuk aku melahirkan normal ya"
"Tapi Sayang, itu pasti menyakitkan dan menyiksa kamu"
Tyas tersenyum, dia mengelus bahu suaminya agar dia lebih tenang. "Semuanya sama saja Mas, oprasi atau normal memang butuh perjuangan. Dan itu adalah kodratnya perempuan. Jadi, kita hanya perlu banyak-banyak berdo'a dan yakin kaku kita pasti bisa melewati ini semua"
Kebencian yang dulu dia rasakan pada Tyas, ternyata bisa berubah menjadi dirinya yang sebucin ini sekarang pada istrinya. Bahkan Ganesh sangat takut kehilangan istrinya. Dia hanya ingin hidup bersama Tyas, selamanya.
Tyas menggenggam tangan kekar suaminya, pipinya masih menempel di bahu suaminya. Menyandar dengan nyaman. "Tidak perlu takut, semuanya kita serahkan saja pada Allah yang mengatur segalanya"
Ya, Ganesh tahu itu. Tapi kecemasan dalam dirinya tidak bisa hilang. Dia benar-benar gelisah memikirkan persalinan istrinya yang sebenarnya masih beberapa bulan lagi. Tapi dia sudah kefikiran dari sekarang, salahnya karena membaca sebuah artikel perjuangan seorang Ibu. Semuanya tentang sakitnya melahirkan. Sejak saat itu dia jadi terus kefikiran tentang istrinya. Takut jika Tyas tidak akan kuat.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
"Jadi kamu gak ke butik?" tanya Tyas yang membawakan minuman dan cemilan dari dapur untuk adik iparnya yang baru saja datang. Dua minggu telah berlalu sejak terakhir kali Gezia datang ke rumah Kakaknya ini. Bahkan teman Adlan yang memesan gaun pertunangan padanya sudah selesai melaksanakan acara dengan lancar. Tapi sampai saat ini hati dan fikiran Gezia masih tidak tenang. Perasaan yang selalu muncul bahkan hanya saat dia memikirkan Adlan saja. Semua itu membuat dia yakin jika apa yang di katakan Kakak iparnya waktu itu adalah benar. Dirinya sedang merasakan jatuh cinta pada asisten Kakaknya.
__ADS_1
"Gak Kak, aku benar-benar sedang galau. Kayaknya yang Kakak bilang waktu itu emang bener deh..." Gezia menutup wajahnya dengan kedua tangan, frustasi sendiri dengan perasaannya. "....Duh aku harus bagaimana ya Kak?"
Tyas tersenyum, dia pindah duduk menjadi di samping adik iparnya. Mengelus lembut punggung Gezia, agar gadis itu sedikit lebih tenang. "Cara satu-satunya hanya dengan kamu jujur dengan perasaan kamu dan bilang padanya tentang apa yang kamu rasakan saat ini"
"Tapi gak segampang itu Kak, masa aku duluan yang mengatakannya. Aku perempuan Kak"
"Terus memangnya kenapa kalau perempuan duluan, kan gak salah. Daripada kamu tersiksa dengan perasaanmu itu"
Benar juga. Gezia akan semakin tersiksa jika dia terus memendamnya. Memangnya apa salahnya dengan wanita duluan yang mengatakannya. Gezia akan mencobanya, tentang apa jawaban Adlan nantinya dia tidak peduli. Yang penting dia bisa lega karena sudah mengatakan perasaannya. Gezia bukan gadis yang lemah, dia berani untuk berekpestasi dalam segala hal. Kecuali dengan hal cinta, ini adalah pengalaman pertamanya.
"Di coba saja dulu Zi, siapa tahu Adlan memang cinta sejatimu. Dia adalah jodohmu, lagian usia kamu sudah cukup untuk menikah"
Gezia diam saja, dia memang sudah cukup umur untuk menikah. Bahkan teman sekolahnya saja sudah ada yang mempunyai anak. Tapi, saat ini Gezia hanya perlu fokus untuk memikirkan kata-kata yang pas untuk mengungkapkan perasaannya ini pada Adlan. Meski dia bingung harus memulai darimana.
"Kak, aku kayaknya harus pergi deh. Aku harus segera menuntaskan masalah hatiku ini"
Gezia memeluk Kakak Iparnya, sejenak mengelus perut buncit Tyas. "Bye keponakan Aunty, baik-baik di dalam sana ya sampai waktunya kita ketemu di dunia ini nanti"
"Iya Aunty, do'akan saja ya" Tyas berbicara dengan menurunkan suara anak kecil.
"Yaudah ya Kak, aku pergi dulu"
Akhirnya Gezia benar-benar pergi ke perusahaan keluarganya. Sebenarnya dia juga bingung harus mengatakan apa pada Adlan. Tapi, daripada dia terus memikirkan pria itu setiap malamnya dengan perasaan gelisah. Seolah ada ketakutan dalam dirinya jika pria itu bersanding dengan wanita lain. Gezia benar-benar telah sadar dengan perasaannya selama ini. Semua yang dia rasakan pada Adlan adalah cinta. Dia jatuh cinta pada pria itu.
Semua karyawan menyambutnya dengan hormat saat dia berjalan masuk ke lobby perusahaan. Ini jam makan siang, dan karyawan sedang ramai-ramainya di lobby untuk keluar mencari makan siang mereka. Ada juga yang hanya makan di kantin perusahaan. Tergantung dan mood mereka.
__ADS_1
Ting..
Pintu lift terbuka, Gezia menoleh ke arahnya dan dia malah mematung di tempatnya. Melihat pria yang dia cari keluar dari dalam lift, kepercayaan dirinya tadi seolah menguap begitu saja. Hilang seketika.
Bagaimana ini? Aku harus bicara apa padanya. Duh dia semakin dekat lagi.
"Zi, sedang apa disini? Tumben sekali datang ke perusahaan"
Gezia hanya tersenyum kaku saat mendnegar ucapan Adlan. Dia sedang mencoba merangkai kata-kata yang tepat untuk bisa mengungkapkan perasaannya pada pria itu.
"Mau kemana Kak?" Akhirnya memilih untuk berbasa basi dulu sebelum benar-benar memulai ke obrolan yang serius.
"Mau beli makan siang, untuk Abangmu juga. Dia sedang malas makan keluar"
Gezia mengangguk, dalam fikirannya masih terus mencoba merangkai kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya pada Adlan.
"Yaudah, kamu naik saja sana ke ruangn Abangmu. Aku mau beli makanan dulu"
Adlan berbalik dan melangkah menuju pintu keluar.
"Aku mencintaimu Kak"
Deg....
Beberapa orang yang kebetulan lewat ikut mematung di tempatnya. Dunia seolah berhenti berputar seketika.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..