Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Memaafkan


__ADS_3

Seolah tahu jika sepasang suami istri yang baru bertemu kembali itu membutuhkan waktu berdua untuk berbicara dari hati ke hati. Semua orang kembali ke rumah masing-masing. Meninggalkan dua insan yang masih di landa kecanggungan di dalam ruangan itu. Tyas mencoba biasa saja, dia masih memerankan istri yang baik yang mengurusi suaminya di saat sakit. Menyuapi Ganesh makan, dan mengelap tubuhnya dengan air hangat.


Tyas benar-benar masih sama, Ganesh sama sekali tidak mendapat perubahan pada istrinya. Sikap tulusnya masih sama. Hanya perubahan dari fisiknya saja. Tyas terlihat semakin kurus, mungkin juga karena efek dari kehamilannya. Mengingat itu membuat Ganesh tersadar jika dirinya belum menanyakan kabar anaknya dalam kandungan istrinya itu.


"Sayang, bagaimana kandunganmu? Apa anak kita baik-baik saja?" lirih Ganesh


Tyas yang sedang fokus pada laptop di pangkuannya tidak menyadari jika suaminya telah tersadar. Segera dia menutup laptop menyimpannya di atas nakas. "Sudah bangun Mas, apa mau minum?"


Ganesh tersenyum, sungguh dia begitu merindukan semua tutur kata lembut dan semua perhatian dari Tyas. "Tidak, aku hanya ingin mengelus perutmu. Apa anak kita baik-baik saja?"


Tyas sedikit gelagapan saat di tanya seperti itu. Kehamilannya, apa akan bisa di terima oleh Ganesh? Jujur, Tyas masih takut jika suaminya tidak mengharapkan kehadiran bayi dalam kandungannya. Seperti dulu saat dia tidak mengharapkan kehadiran Tyas dalam hidupnya. Tyas segera memegangi perutnya yang sudah mulai membuncit. Apa yang di lakukan Tyas membuat Ganesh bingung dan berfikir jika istrinya itu tidak mau Ganesh mengetahui tentang kehamilannya. Tapi kenapa?


"Kenapa? Apa kau tidak mau aku tahu tentang kehamilanmu?" tanya Ganesh, mengeluarkan kebingungannya


Tyas menatap ragu pada Ganesh, apa dia harus berkata jujur. Tapi, Tyas masih takut jika suaminya tidak akan menerima anak dalam kandungannya ini. Tyas tidak ingin anaknya merasakan apa yang Ibunya rasakan. Terabaikan dan tidak di harapkan. Itu yang Tyas takutkan saat ini. "Mas, boleh Tyas bertanya"


Ganesh tersenyum lirih, lalu mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban. Mengizinkan Tyas untuk bertanya apapun yang dia ingin tanyakan padanya. Ganesh akan menjawabnya dengan jujur dan tidak akan sedikit pun untuk berbohong.

__ADS_1


"Apa Mas akan menerima anak ini dengan tulus dan menyayanginya sepenuh hati Mas, meski dia terlahir dari rahimku?"


Deg...


Hati Ganesh terasa ngilu mendengar ucapan Tyas. Dia tahu kemana arah pembicaraan istrinya itu. Istrinya takut jika Ganesh tidak akan menerima anak mereka karena terlahir darinya. Bukan dari wanita yang Ganesh dambakan, yaitu Seira. Tapi, semuanya telah berbeda sekarang. Wanita yang sangat Ganesh dambakan dan Ganesh cintai hanya Tyas seorang. Tidak ada lagi nama Seira dalam hatinya. Seira cukup menjadi bagian dari cerita hidupnya di masa lalu. Tidak akan lebih. Hati Ganesh telah seutuhnya milik Tyas sekarang.


"Aku tahu kamu pasti sangat trauma dengan semua perlakuan ku selama ini. Bahkan kata-kata kasar yang keluar dari mulut ini tidak akan bisa kau lupakan secepat itu. Tapi, percayalah jika saat ini nanti dan kedepannya hanya kamu yang aku cintai, Tyas. Aku benar-benar minta maaf atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku benar-benar menyesalinya. Apa kau bisa memaafkan lelaki bodoh ini dan kita mulai semuanya dari awal lagi.."


"...Dan untuk anak kita, tentu aku sangat bersyukur karena dia terlahir dari wanita hebat sepertimu. Aku akan selalu menyayanginya dan juga ibunya dalam hidupku. Kau tidak perlu lagi khawatir tentang dia, aku sangat menerima kehadiran anak kita itu. Mari kita jaga dan membesarkan anak kita bersama-sama"


Tyas menatap lekat kedua mata Ganesh, mencari setitik keraguan di mata pria itu setelah apa yang barusan dia katakan. Tyas takut jika Ganesh mengatakan itu karena tidak sadar dan penuh keraguan. Namun, yang Tyas lihat dari balik sorot mata tajam itu hanya ketulusan dan keyakinan. Tidak ada keraguan sama sekali.


"Mas, sebenarnya aku juga salah. Sebagai istri aku salah karena pergi tanpa izin. Tolong maafkan kesalahan Tyas" kata Tyas dengan tatapan menerawang, mengingat kembali masa-masa tersulit dalam hidupnya. "...Sebenarnya Tyas sudah jatuh cinta pada Mas sejak duduk di bangku kuliah. Saat itu Mas menjadi senior yang memberi pengarahan pada kami para junior, padahal saat itu Mas sedan melanjutkan S2 di sana. Mas menjadi sosok hangat yang memberikan inspirasi atas kesuksesan Mas di usia muda"


Tentu Ganesh sangat terkejut mendengar ungkapan Tyas. Bahkan dia tidak mengenalinya, tapi Tyas masih mengingat wajahnya yang bahkan kejadian itu beberapa tahun lalu. Tidak menyadari jika ada seseorang yang mencintainya sejak dulu, bahkan sebelum Ganesh bertemu Seira. Dan bodohnya dia malah menyia-nyiakan wanita seperti itu.


"Aku tahu jika Mas mungkin tidak akan mengenaliku di antara banyaknya orang yang berteriak memanggil namamu dengan penuh kagum. Aku hanya bagaikan debu tak terlihat di antara banyaknya orang-orang. Mahasiswi bermodal beasiswa yang selalu di rendahkan orang. Tapi, memang apa salahnya dengan anak beasiswa. Mereka juga sama, sedang berjuang untuk masa depan..."

__ADS_1


"...Beberapa kali aku selalu memperhatikan Mas di jam-jam kosong. Meski tentu dengan jarak aman yang tak terlihat oleh Mas dan orang-orang. Hingga Mas melanjutkan kembali pendidikan Mas di luar negara, sejak saat itu aku tidak pernah lagi bertemu sosok yang membuat hatiku bergetar..." Tyas sedikit terkekeh di akhir kalimatnya. "...Dan aku tidak menyangka jika takdir kembali mempertemukan kita dengan pernikahan ini. Jika dulu Mas pernah bertanya kenapa aku tidak menolak perjodohan itu. Jawabannya, karena aku tidak bisa menolak dan karena Mas yang di jodohkan denganku. Maaf jika saat itu aku tidak berusaha menolak perjodohan ini"


Tangan Ganesh yang di pasang infus mencoba meraih tangan Tyas yang tertumpu di pinggir ranjang. Berhasil.. Ganesh akhirnya bisa meraih tangan mungil itu. Setelah dari tadi dia berusaha untuk menggapainya. Tyas langsung saja menatap ke arah Ganesh.


"Terimakasih karena bertahan selama ini. Maaf jika semuanya terlalu menyakitkan untukmu. Tapi, percayalah aku benar-benar menyesal dan kehilanganmu adalah mimpi terburuk dalam hidupku. Tolong beri aku kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya. Menebus semua kesalahanku selama ini. Dan terimakasih karena tidak menolak perjodohan ini"


Sungguh, hati Tyas tersentuh mendengar ucapan Ganesh. Semuanya terdengar begitu tulus. Ganesh benar-benar menyesal atas semuanya. Dan Tyas juga tidak mungkin untuk meminta berpisah di saat pria yang dia cintai sejak dulu telah mencintainya. Lagian jika Tyas berpisah dari Ganesh, dia akan pergi kemana? Keluarganya tentu tidak akan mau menerimanya kembali.


"Kita coba sama-sama Mas, aku juga masih banyak kekurangan dan kesalahan sebagai seorang istri. Aku bukan istri yang sempurna"


Ganesh menggeleng pelan, menyangkal ucapan Tyas. "Kamu adalah wanita sempurna dalam hidupku, Tyas. Jadi tolong maafkan atas semua kesalahan ku selama ini"


"Iya Mas, jika Allah maha pemaaf kenapa Tyas tidak sebagai hambanya. Tyas sudah memaafkan Mas, jauh sebelum Mas meminta maaf"


Lega.. Ganesh bisa mendapatkan maaf Tyas dengan begitu mudah. Entah apa yang di fikirkan Tyas sehingga dia bisa memaafkan pria seperti Ganesh semudah ini. Mungkin karena sejatinya Tyas memang tidak memiliki kebencian apapun pada Ganesh. Semakin dia mencoba untuk membenci pria itu, justru rasa cintanya yang semakin tumbuh.


"Terimakasih Sayang, terimakasih karena sudah sebaik itu mau memaafkan lelaki bodoh ini"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa dukungannya. like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga ya..


__ADS_2