
"Ma, mama mau kemana?" Adriana menahan tangan Julia yang sudah siap dengan koper miliknya. Ibunya itu langsung menepis tangan anaknya.
"Mama gak bisa hidup susah Adriana, Mama harus pergi. Kamu tinggal saja bersama Ayahmu itu"
Adriana terdiam menatap kepergian Ibunya. Air mata mengalir deras di pipinya. Tidak pernah menyangka jika semua ini akan terjadi pada keluarganya. Sekilas Adriana ingat semua perlakuannya pada Kakak perempuannya. Meski semuanya karena hasutan dan suruhan Ibunya, tapi Adriana melakukannya dengan puas. Bahkan tidak sedikit pun dia memikirkan perasaan Kakaknya.
"*Haha. Dasar anak piatu kamu, pantas saja Ayah tidak menyayangimu. Karena Kakak membunuh Ibu Kakak sendiri"
Tyas yang sedang menyetrika baju adiknya ini hanya diam saja. Sudah terbiasa dengan cacian seperti itu. Sudah kebal dia dengan setiap cacian dari adik dan Ibu tirinya. Semuanya sudah menjadi makanan sehari-hari untuk Tyas.
"Ini sudah aku setrika bajunya, Dek" Tyas menyerahkan baju yang mau di pakai oleh adiknya.
Adriana mengambil baju itu dan mengeceknya, memastikan jika Tyas benar-benar menyetrika baju ini dengan benar dan rapi. "Oke bagus, makasih Kak Tyas"
Dia berlalu begitu saja, lalu menemui Ibunya yang duduk di sofa ruang tamu. "Sudah Ma"
"Bagus, kamu harus sering mengatakan itu pada Tyas. Bilang jika dia adalah pembunuh Ibunya sendiri. Biar dia sadar diri siapa dirinya dan menyesali semuanya"
Adriana mengangguk saja, gadis berusia 16 tahun itu baru saja duduk di bangku sekolah menengah atas. Dia masih belum benar-benar mengerti mana yang benar dan salah. Masih labil dan bisa di pengaruhi. Bahkan oleh Ibunya sendiri.
"Semoga aja Kak Tyas menyesalinya, tidak lagi melakukan kesalahan yang sama" gumam Adrian sambil membuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam kamarnya.
Sementara di ruang tamu, Julia menatap benci Tyas yang lewat di depannya. Cih. Dia hanya benalu disini, aku harus memanfaatkan kepolosan Adriana untuk membuat anak itu tidak betah di rumah ini dan segera pergi.
Namun, nyatanya Tyas tetap bertahan meski banyaknya cacian dan makian dari ibu dan adiknya. Dia keluar dari rumah itu hanya saat Ayahnya menikahkan dia dengan Ganesh. Kehidupan yang di mulai kembali dengan luka di hidup Tyas*.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Adriana jatuh ke lantai, menunduk dengan tangisan yang semakin keras. Bodohnya dia selama ini, dia baru menyadari jika dirinya hanya di manfaatkan oleh Ibunya sendiri untuk menghancurkan hidup Kakaknya. Oh.. Kenapa dia bisa sejahat itu?
__ADS_1
"Nak"
Eriawan datang, dia memeluk anaknya yang terduduk di lantai dengan isakan keras. Adriana langsung memeluk Ayahnya dengan erat. Tangisannya pun semakin kencang. "Papa, ayo ketemu Kak Tyas. Riana salah Pa, Riana sudah sangat jahat sama Kak Tyas. Semua yang terjadi pada kita saat ini adalah karma karena kita sudah jahat sama Kakak"
Eriawan ikut meneteskan air matanya, memang benar apa yang di katakan Adriana. Dia bukanlah Ayah yang baik untuk anak pertamanya itu. Menatap dingin dan penuh rasa benci pada anaknya sendiri. Meski yang Eriawan lakukan itu hanya untuk menutupi luka di hatinya karena kepergian sang istri. Tapi apa yang di lakukannya tetap salah. Anaknya sudah sangat terluka dengan semua perlakuannya itu.
"Iya Nak, ayo kita ke rumah Kakakmu"
Saat keduanya masih berpelukan dengan tangisan yang sama. Menyesali semua perbuatannya pada Tyas. Suara ponsel Eriawan membuat acara tangis menangis itu terhenti sejenak. Eriawan mengambil ponselnya di atas meja.
"Tuan Aditama menelepon Nak"
Adriana langsung berdiri dan menghampiri Ayahnya. Mengusap sisa air matanya dengan kasar. "Angkat Pa, siapa tahu ada kabar soal Kak Tyas"
Eriawan mengangguk, lalu dia segera mengangkat telepon dari besannya itu. "Hallo Tuan"
"Datang ke rumahku sekarang, anak yang kami sia-siakan ingin bertemu denganmu"
"Kita di suruh ke rumah Tuan Aditama, katanya Kakakmu ada disana"
"Yaudah Pa, ayo kita pergi sekarang"
Keduanya segera bersiap dan pergi ke kediaman Aditama. Meski malu, tapi Eriawan akan lebih malu lagi jika dia tidak menemui anak sulungnya dan meminta maaf secara langsung.
Di kediaman Aditama, Tyas keluar dari kamar bersama Mama. Mereka berjalan menuju ruang tengah, Papa, Kakek dan Ganesh masih berada disana. Segera mereka pun ikut bergabung. Meski sebenarnya Tyas tidak tahu apa yang sedang pria tiga generasi itu bicarakan.
"Sayang, sini" Ganesh menepuk ruang kosong di sebelahnya saat tahu istrinya datang. Tyas tersenyum dan segera duduk di samping suaminya.
"Habis ngapain sama Mama, lama banget?" tanya Ganesh sambil mengelus perut buncit istrinya itu. Lagi-lagi elusan tangan Ganesh selalu mendapat respon baik dari anaknya.
__ADS_1
"Gak ngapa-ngapain Nesh, kamu ini sekarang udah jadi bucin ya. Di tinggal bentar saja sama Tyas sudah kayak di tinggalin setahun. Dulu, aja nolak-nolak gak mau nikah sama Tyas. Eh sekarang bucin juga" kekeh Mama dengan nada mengejeknya.
Kakek dan Papa ikut tertawa mendengar celotehan Mama yang ada benarnya juga. Dulu saja Ganesh sampe bertengkar hebat sama Kakek karena perjodohan ini. Ternyata pada akhirnya dia menikmati juga pernikahan ini. Bahkan terlihat sekali pancaran kebahagiaan di wajahnya saat dia bersama Tyas.
Tyas hanya tersenyum melihat wajah cemberut suaminya. Meski yang di katakan Mama adalah benar, tapi Ganesh tetap kesal karena Ibunya itu malah membahas yang sudah lalu.
Keluarga hangat ini berbincang-bincang ringan. Tyas sedikit bisa melupakan masalah yang sedang menimpa Ayahnya. Meski sampai sekarang dia juga belum bisa menghubungi Ayahnya itu. Sampai seorang pekerja di rumah ini datang dan memberi tahukan jika ada tamu.
"Yasudah, suruh tunggu di ruang tamu" perintah Kakek yang di jawab anggukan oleh pekerja itu.
Kakek berdiri dan menatap semua anggota keluarganya. "Mari kita temui tamu kita itu"
Ganesh dan Papa tentu sudah mengetahui siapa yang datang. Tapi tidak dengan Tyas dan Mama. Kedua wanita itu terlihat bingung saat harus ikut menyambut tamu yang datang.
"Mas, apa Tyas juga harus ikut?" Tyas memegang tangan suaminya yang sudah berdiri, sementara dirinya masih duduk diatas sofa. Tyas mendongak menatap wajah suaminya.
"Iya Sayang, ayo gak usah takut" Ganesh membantu istrinya untuk bangun. Mereka pun berlalu ke ruang tamu. Ganesh sudah merasa cemas sendiri membayangkan istrinya akan bertemu dengan Ayahnya ini. Entah apa yang akan terjadi nanti.
Tyas menatap dua punggung yang duduk di sofa. Dia seolah mengenali dua punggung itu. Wanita dan pria yang duduk berdampingan di atas sofa.
"Selamat siang" Kakek menyapa tamunya.
Kedua tamu itu langsung berdiri dan menatap ke arah mereka yang baru datang. Jantung Tyas terasa berhenti berdetak saat melihat siapa yang datang. Itu adalah Ayah dan adiknya. Keadaan Ayahnya yang terlihat lelah dan adiknya yang biasanya selalu ceria. Kini terlihat sendu dengan mata yang bengkak.
"Kakak...."
Adriana berlari ke arah Tyas dan berlutut di kaki Kakaknya itu.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga