
Hari terakhir berada di villa ini, Ganesh sudah merasa sangat senang karena dia akan segera bertemu kembali dengan pujaan hatinya, Seira.
"Cepat, kau lambat sekali. Apa kau keturunan siput"
Tyas mempercepat langkah kakinya dengan membawa dua koper dan satu tas yang di selendangkan di tubuhnya. Koper miliknya dan Ganesh membuat dia sedikit sulit untuk menaikan ke dalam bagasi mobil.
Ganesh yang menatap Tyas kesusahan menaikan koper miliknya ke dalam bagasi mobil, hanya menatapnya dengan santai. Tidak ada niat untuk membantunya. Ganesh seolah terhibur dengan mimik wajah Tyas yang memerah saat mengangkat koper besar milik Ganesh dengan sangat susah payah agar bisa segera masuk ke dalam bagasi mobil.
Koper milik Ganesh telah berhasil dia angkat ke dalam bagasi mobil. Kini, tinggalah miliknya yang perlu perjuangan Tyas lagi untuk bisa memasukan ke dalam bagasi mobil.
Dengan susah payah, akhirnya Tyas bisa memasukan kedua koper itu. Tyas melirik ke arah Ganesh yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Bahkan Ganesh tidak berniat untuk membantunya. Dan Tyas hanya mampu menghela nafas untuk semakin memperkuat rasa sabarnya.
"Kau lelet sekali, cepat masuk!" kata Ganesh, berlalu masuk lebih dulu ke dalam mobilnya. Tyas pun segera masuk ke dalam mobil, dia tidak ingin kejadian di novel-novel akan terjadi padanya. Di tinggalkan suaminya di tempat ini.
Mobil melaju meninggalkan kawasan villa, Tyas menatap sendu tempat yang di jadikan topeng sebagai bulan madu mereka. Jika bukan paksaan Kakek dan Mama, mungkin Ganesh tidak akan mau pergi berbulan madu dengannya. Kata bulan madu, hanyalah topeng di balik pernikahannya yang tidak baik-baik saja. Nyatanya tidak ada yang terjadi selama seminggu ini mereka berada di villa ini.
Selama perjalanan benar-benar tidak ada percakapan diantara keduanya. Keheningan membuat Tyas mengantuk dan akhirnya memilih tidur.
Ganesh menghentikan mobilnya di tempat pengisian bensin. Dia melirik ke arah Tyas yang masih terlelap. Hati kecilnya selalu mengatakan jika Tyas tidak salah apapun dalam hal ini. Namun, egonya masih di atas segalanya, bahkan hati nuraninya.
Garis wajah, Tyas tidak luput dari pandangan Ganesh. Gadis berkerudung pashmina itu terlihat manis dengan hidung mungil dan bibir tipisnya. Ganesh menggeleng cepat saat tatapan matanya tertuju pada bibir Tyas. Mengusir fikrian kotor yang akan segera hadir di otaknya.
Gadis itu tidak salah!!!... Lagi-lagi hati kecilnya berteriak menyadarkan Ganesh jika Tyas tidak bersalah dalam hal ini. Namun Ganesh selalu menolak kata hati nuraninya.
Selesai mengisi bensin, Ganesh kembali melajukan mobilnya agar segera sampai. Dia sudah merencanakan semuanya, untuk hari-hari kedepannya dalam hidupnya. Ganesh hanya ingin bebas bertemu dengan Seira.
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
__ADS_1
Saat Tyas terbangun, ternyata mobil yang di tumpanginya telah berhenti. Entah berapa lama Tyas terlelap, mungkin karena dia teralalu lelah karena semalam mengejar kata untuk bisa mempost chapter selanjutnya di novel yang baru dia buat.
Tyas melirik ke arah samping, sudah tidak ada suaminya disana. Hati Tyas berdenyut nyeri, bagaimana bisa suaminya sudah turun dari mobil dan meninggalkan istrinya sendiri di dalam mobil.
Mungkin aku benar-benar tidak berharga untuknya.
Lalu, Tyas menatap ke arah rumah minimalis yang baru saja dia lihat. Ini bukan rumah mertuanya, lalu rumah siapa ini? Tyas kebingungan sendiri, dia lalu turun dan berjalan perlahan ke arah rumah itu. Ingin memastikan, rumah siapa ini? Apa mungkin Tyas telah di buang oleh suaminya di rumah kosong? Tyas menggeleng cepat, mengusir pikiran buruk di kepalanya.
Rumah minimalis dengan halaman yang cukup luas, ada sebuah taman kecil di halaman samping rumah ini. Suasana sangat sepi dan sunyi, membuat Tyas menjadi takut.
Tyas melirik ke samping kanan dan kirinya, benar-benar sepi. Tidak ada seorang pun yang ada disana. Atau mungkin saja jika benar Ganesh telah membuangnya di rumah kosong ini.
"Sedang apa kau?"
Suara bariton itu benar-benar membuat Tyas terlonjak kaget dan hampir saja dia terjatuh dari tangga yang sedang di pijaknya. Namun, sebuah tangan kekar menahan pinggangnya sehingga Tyas tidak jadi terjatuh mencium tanah.
Apa ini? Kenapa aku menolongnya? Seharusnya aku membiarkan dia terjatuh.
Dengan segera, Ganesh melepaskan tangannya di pinggang Tyas setelah memastikan jika Tyas telah bisa menyeimbangkan kembali posisinya.
Ganesh segera masuk ke dalam rumah, memegang dadanya yang tiba-tiba berdebar. Mungkin karena aku terkejut melihatnya hampir jatuh.
Tyas hanya menatap bingung pada Ganesh yang terlihat aneh. Bahkan dia tidak mengatakan apapun, langsung berlari begitu saja. Dengan dilanda kebingungan, Tyas memilih menyusul suaminya untuk masuk ke dalam rumah yang awalnya dia anggap sebagai rumah kosong tak berpenghuni.
Masuk ke dalam rumah ini, Tyas langsung di sambut dengan suasana sepi. Berjalan perlahan menuju ruang tengah, Tyas berdiri di depan sebuah foto besar yang terpajang di dinding. Tyas memegang dadanya yang terasa nyeri, foto kemesraan Seira dan Ganesh terpajang di setiap sudut rumah ini. Seolah suaminya ingin menunjukan siapa yang menjadi ratu di hatinya.
Tyas menatap sekelilingnya, hampir semua penjuru ruangan di penuhi dengan foto Seira dan Ganesh. Tak terasa air mata pun tak bisa lagi Tyas tahan.
__ADS_1
Secinta itu suaminya pada Seira, dan Tyas hadir sebagai perusak hubungan mereka. Apa Tyas memiliki hak untuk marah pada suaminya? Tidak! Tyas tidak berhak marah, karena dia yang salah. Dia yang merusak hubungan kekasih yang saling mencintai.
Dengan perlahan Tyas mengambil foto yang terletak di meja televisi. Seira yang sedang di cium pipinya oleh Ganesh, da gadis itu tersenyum cantik ke arah kamera. Benar-benar terpancar kebahagiaan di wajah keduanya.
"Jangan sentuh itu!"
Suara berat itu berhasil membuat Tyas terkejut sampai dia menjatuhkan figura foto Seira dan Ganesh itu. Prankk... figura foto pecah, berserakan di atas lantai.
Wajah Ganesh memerah, dia sedang menahan amarahnya yang sudah sangat memuncak. Melihat figura foto dirinya dan Seira yang pecah berantakan di atas lantai benar-benar membuat darahnya naik seketika.
Dengan kasar Ganesh menarik pergelangan Tyas dan menariknya ke arah belakang rumah ini. Tyas benar-benar ketakutan menatap wajah memerah Ganesh yang siap melampiaskan kemarahannya.
Ganesh membawa Tyas ke kamar mandi belakang, tepat di dekat dapur. Mendorong Tyas masuk ke dalam kamar mandi. Tyas tersungkur di lantai dingin kamar mandi.
Dengan tega Ganesh menendang kaki Tyas yang berada di dekatnya. "Kau berani memecahkan foto aku dan Seira. Kau fikir kau itu siapa? Kau memang istriku, tapi setitik rasa cinta saja tidak ada di hatiku. Jangan harap kau bisa menggantikan Seira di hatiku, wanita penggila uang"
Deg..
Wanita penggila uang... Kalimat itu seolah tombak yang menusuk tepat di jantung dan hati Ayuningtyas. Tyas hanya menangis dengan tubuh yang masih tersungkur di lantai kamar mandi.
Ganesh keluar kamar mandi dengan menutup pintu kasar. Membuat Tyas terlonjak kaget.
Bisakah Ayah Ibu membawaku sekarang... Hiks..
Bersambung
Maaf ya baru bisa up.. Ada keperluan dulu.. Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1
Penderitaan Tyas baru dimulai! Dan penyesalan Ganesh baru akan di mulai!!