Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Tyas... Sayang?!


__ADS_3

Tyas diam mematung di pinggir ranjang pasien. Tidak pernah menyangka jika hal ini akan terjadi pada suaminya. Pria itu terbaring lemah dengan segala alat medis yang terpasang di tubuhnya. Kecelakaan itu cukup parah, sehingga membuat Ganesh tidak sadarkan diri sampai hari ini. Kemarin malam, Tyas segera pergi ke rumah sakit bersama Tante Syifa, Erlita dan Gezia.


Sedari semalam, Tyas tidak pergi dari sisi Ganesh selain untuk ke kemar mandi dan beribadah. Berharap mata yang terpejam itu segera terbuka kembali. Tidak papa jika Tyas harus kembali di maki, di abaikan bahkan Ganesh yang berkata kasar lagi padanya. Asalkan suaminya kembali sadar dan sehat.


Melihat bagaimana Mama yang sangat sedih dengan kejadian ini. Papa dan Kakek juga, semua keluarga begitu sedih melihat keadaan Ganesh sekarang. Leher yang di pasang gifs belum juga kaki yang patah, tangan dan kepala yang di perban. Kondisi Ganesh saat ini, benar-benar tidak baik-baik saja. Bahkan beberapa goresan dari kaca jendela mobil yang pecah terlihat di beberapa bagian wajahnya.


Ya Allah, selamatkan Mas Ganesh.


Hanya do'a yang mengiringi Tyas setiap detiknya. Tyas hanya berharap suaminya segera sadar. Melihat semua anggota keluarga yang bersedih, membuat Tyas juga merasa bersalah. Jika saja dirinya tidak pergi dari rumah Ganesh, mungkin keluarganya tidak akan mengetahui tentang sikap buruk Ganesh padanya. Mereka semua juga tidak akan mengabaikan Ganesh dan tidak memberi lagi perhatian.


Mungkin, jika keluarganya Ganesh masih memberikan perhatian pada Ganesh dan tidak tahu tentang kelakuan pria itu pada Tyas. Keluarganya tidak mungkin membiarkan Ganesh tinggal sendirian di rumahnya dan kecelakaan ini tidak akan pernah terjadi. Tapi, Tyas juga tidak bisa menyalahkan takdir. Kecelakaan Ganesh sudah suratan takdir yang harus di lalui. Berandai-anadai pun tidak ada gunanya.


Tiga hari berlalu, Ganesh masih saja belum sadarkan diri. Tyas masih setia menunggu Ganesh meski anggota keluarga yang lain sudah menyarankan untuk Tyas pulang dan beristirahat. Tapi, Tyas tetap bertahan di rumah sakit untuk menjaga suaminya.


"Sayang, makan dulu nih"


Mama baru saja kembali setelah tadi pulang terlebih dulu bersama keluarga yang lain. Tyas tersenyum dan berjalan ke arah Mama yang sedang menata makanan yang di bawanya di atas meja.


"Makan dulu, hari ini Mama yang temani kamu jaga Ganesh. Papa dan Kakek juga nanti akan datang kesini sepulang kerja"


Tyas mengangguk "Iya Ma, trimakasih ya"

__ADS_1


"Iya Sayang, ayo makan dulu"


Tyas memakan sarapannya yang sudah hampir masuk jam makan siang. Mama menatap menantunya yang sedang melahap makanannya itu. Betapa bodoh anaknya, menyia-nyiakan wanita seperti Tyas. Sudah di sakiti, tapi tetap merawat suaminya dengan tulus dan ikhlas di saat kondisi suaminya seperti ini. Mama merasa heran, kenapa Tyas bisa mempunyai hati selapang itu.


Bahkan jika mengingat apa yang telah di lakukan Ganesh padanya, mungkin untuk membencinya saja bukan hal yang aneh. Itu hal yang wajar mengingat apa yang telah di lakukan Ganesh padanya. Tapi, Tyas tidak melakukan itu. Mama tentu melihat bagaimana tatapan rindu dan sayang dari balik mata Tyas saat dia menatap Ganesh yang sekarang terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Tidak ada tatapan benci atau apapun itu. Satu hal yang Mama lihat, Tyas benar-benar mencintai Ganesh.


Selesai makan, tiba-tiba pintu ruang rawat Ganesh terbuka. Ternyata Tante Syifa, Erlita dan Gezia yang datang. Membuat suasana semakin ramai, setidaknya Tyas tidak lagi kesepian saat menjaga Ganesh siang ini. Hingga sore hari datang juga Papa dan Kakek, membuat suasana semakin ramai. Tyas tersenyum melihat bagaimana suaminya begitu mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari semua anggota keluarganya. Berbanding terbalik dengan dirinya, yang bahkan Ayah kandungnya sendiri tidak perduli lagi padanya.


"Permisi semuanya"


Suara seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam ruang rawat itu membuat semua orang langsung menoleh ke arahnya. Semua orang seolah tidak percaya dengan siapa yang datang. Mama dan Tante Syifa langsung menghampiri tamu yang baru saja datang itu.


"Seira, apa kabar Nak?" Mama langsung memeluk mantan kekasih dari anaknya itu. Seira membalas pelukan Mama dengan kaku, tidak menyangka jika dirinya masih di terima begitu hangatnya di keluarga ini.


"Iya Nak, tidak papa. Ayo masuk Nak" ajak Mama


Seira menyapa semua orang, berpelukan dengan Tante Syifa dan Tyas secara bergantian. "Sabar ya Tyas, Ganesh pasti baik-baik saja. Oh ya, apa kamu sedang hamil?"


Tyas mengangguk saja, tubuh mungilnya membuat kehamilan Tyas yang baru berusia 4 bulan itu sudah cukup terlihat. "Iya Kak, makasih sudah datang menjenguk Mas Ganesh"


Seira memperkenalkan suaminya pada semua anggota keluarga Aditama. Alex tentu memperkenalkan diri dengan sopan. Seira berjalan menghampiri ranjang pasien setelah meminta izin terlebih dulu pada suaminya. Seira menatap prihatin wajah Ganesh yang penuh luka. Pria yang menemaninya selama 4 tahun, namun takdir bukan untuk mereka. Seira juga sudah menemukan kebahagiaannya bersama Alex, suaminya. Seira berharap jika Ganesh juga akan menemukan kebahagiaannya bersama Tyas.

__ADS_1


"Cepet sembuh ya, Nesh. Kasihan istri dan calon anakmu tuh kalo kamu kayak gini terus"


Isrti dan calon anakmu...


Ucapan Seira barusan terngiang di telinga Ganesh. Hingga dia membuka matanya dengan seketika membuat Seira yang masih berada di dekatnya terkejut akan hal itu.


"Seira" lirih Ganesh saat mendapati mantan kekasihnya yang ada di sana. Bukan istrinya. "Ke-ken..."


"Ya ampun Nesh, kamu beneran sadar. Jangan banyak bicara dulu"


Ucapan Seira tentu membuat semua orang menatap ke arahnya. Keluarga Ganesh segera mendekat ke arah ranjang pasien, kecuali Tyas. Dia hanya berdiri mematung di ujung ruangan sambil memegang perutnya. Tyas takut Ganesh tidak suka melihat kehadirannya di sini. Apalagi dia bangun karena hadirnya Seira, suara Seira yang telah membuat Ganesh sadat. Tyas tahu jika Seira yang di butuhkan Ganesh saat ini bukan dirinya.


Dokter dan perawat masuk setelah Papa menekan tombol darurat. Mereka memeriksa keadaan Ganesh dan setelah memastikan semuanya baik-baik saja. Dokter dan perawat itu segera keluar ruangan, membiarkan anggota keluarga menemani Ganesh.


Tyas beringsut, dia harus segera keluar dari ruangan ini sebelum Ganesh melihatnya dan marah karena kehadirannya. Tyas cukup tahu diri jika kehadirannya tidak di harapkan oleh suaminya itu. Tyas melangkah menuju pintu keluar dengan tangan terus menutupi perutnya, seolah menutupi kehamilannya itu.


"Tyas.. Sayang.."


Panggilan itu membuat Tyas mematung di tempatnya. Tangannya bergertar, takut sekali untuk dirinya membalikan tubuhnya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..


__ADS_2