
"Maaf ya Yas, aku benerin posisi tangan kamunya" Azam membenarkan posisi tangan Tyas yang berada di perutnya. Azam juga membenarkan posisi model wanita yang satunya lagi. Tidak hanya pada Tyas.
Tapi entah kenapa yang terlihat dimata Ganesh hanya istrinya yang di perhatikan oleh sang fotografer itu. Ganesh sudah ingin berdiri dan menghampiri fotografer itu. Namun lengannya langsung di tahan oleh adiknya yang sejak tadi sudah sangat bosan menenangkan Kakak laki-lakinya ini yang sedang cemburu tidak jelas. Padahal Tyas dan Azam juga bersikap profesional. Tidak terlihat ada obrolan selain pekerjaan ini selama pemotretan berlangsung. Tapi entah kenapa Ganesh sangat emosional sekali saat menyangkut istrinya itu.
"Apaan si Bang, duduk deh. Jangan ngacau acara aku ya!" ancam Gezia dengan tatapan tajam. Dia sampai geleng-geleng kepala melihat kecemburuan Kakaknya ini yang sangat berlebihan.
Dulu aja di tolak, di benci, sekarang liat dia dekat dengan teman lamanya saja sudah ketar ketir begini. Dasar Abang munafik...
"Kau tidak lihat, fotografer sialan itu pegang tangan istriku"
Gezia memutar bola mata malas "Pegang darimana si, dia benerin posisi tangan Kak Tyas saja juga pegangnya pas lengan baju, bukan pas lengannya. Itu karena dia menghormati Kak Tyas"
Kesal juga Gezia pada Kakaknya ini, lebih baik dia tidak datang saja. gumamnya. Sesi pemotretan pertama selesai, Tyas langsung menghampiri suaminya dan adik iparnya. Gezia segera memberi Tyas minum, sementara Ganesh menarik pelan tangan Tyas agar duduk di sampingnya. Tapi dia hanya diam saja, tidak berbicara apapun. Membuat Tyas menjadi bingung sendiri, dia menatap dan bertanya tanpa suara pada Gezia yang berdiri di sampingnya.
"Cemburu dia Kak liat Kakak di pegang-pegang sama Kak Azam yang ganteng itu. Lebih muda lagi, lagian pegang apaan kena kulit aja enggak" cerocos Gezia
"Ya ampun Mas, maaf ya karena aku buat kamu kesal. Lagian Kak Azam itu cuma teman aku waktu kuliah, gak ada masa lalu yang spesial diantara kita"
"Ish.. Ngapain minta maaf si Kak, Abang aja yang cemburu buta. Kak Tyas gak salah, gak usah minta maaf. Jangan terlalu lemah dong jadi perempuan, masa gitu aja minta maaf"
"Gezia Aditama!"
Deg..
Sudah lama sekali Gezia tidak mendengar suara tertahan Kakak laki-lakinya dengan memanggil nama lengkapnya seperti ini. Duh nih bibir nyerocos aja deh. Abang marah banget deh. Keseringan gaul sama Erlita, aku jadi cerewet kayak gini si.
Bagi semua adik-adiknya, mau itu adik kandungnya atau adik sepupunya. Ganesh adalah sosok yang hangat untuk seorang Kakak. Bahka sering kali dia memanjakan mereka. Terutama pada Gezia dan Erlita. Namun, ketika adik-adiknya salah dia juga tidak segan untuk memberikan pelajaran pada mereka semua tak terkecuali adik kandungnya ini. Dan ketegasan Ganesh dalam mendidik adik-adiknya, membuat dia selalu di patuhi. Jika Ganesh sudah bersuara tertahan dengan memanggil nama lengkap mereka. Maka dia sedang benar-benar marah dan mereka harus siap menerima pelajaran atau hukuman dari pria itu.
__ADS_1
"Ayo kita ke atas dulu Sayang, kamu harus istirahat sebentar sebelum melakukan pemotretan kedua"
Tyas hanya menurut saat Ganesh menuntunnya untuk ke lantai atas. Meski dirinya merasa tidak enak pada Gezia yang terdiam dengan wajah menunduk.
"Temui Abang 15 menit lagi!" suara penuh penekanan Ganesh pada adiknya semakin membuat Tyas kasihan pada Gezia.
Padalah Tyas mengerti apa maksud dari adik iparnya itu. Tyas tidak merasa tersinggung sama sekali, karena memang inilah sikapnya yang selalu di anggap lemah oleh semua orang. Karena memang Tyas yang tidak ingin memperpanjang masalah, prisip hidupnya hanya minta maaf dan memaafkan. Biarkan Tuhan yang membalas setiap perbuatan umatnya. Dia selalu tidak suka keributan. Tyas hanya ingin kedamaian, pertengkaran selalu dia hindari. Meski dirinya terkadang harus mengalah untuk itu dan sering di anggap bodoh oleh banyak orang. Bukan hanya Gezia.
"Mas, kamu jangan terlalu keras sam Zia. Kasihan dia"
Kini, Tyas sudah berada di ruangan Gezia. Duduk di atas sofa. Menatap suaminya yang terlihat masih marah. "Mas, kamu kenapa si? Jangan marah-marah terus ahh. Gak baik"
Ganesh duduk dan mengangkat kedua kaki istrinya di pangkuannya. Tentu saja itu membuat Tyas terkejut. Ganesh memijat perlahan kaki istrinya. Padahal yang Tyas lakukan hanya berfose sesuai arahan fotografer dan hanya duduk saja. Tidak terlalu banyak bergerak juga. Tapi, suaminya ini memperlakukan Tyas seolah istrinya baru saja mendaki gunung.
"Gak usah Mas, aku gak papa kok. Cuma foto gitu doang, gak akan bikin aku capek"
"Ingat perutmu, sudah sebesar itu mana mungkin kau tidak lelah"
...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...
Sementara di lantai bawah, Gezia sedang mondar mandir kebingungan untuk menghadapi Kakak laki-lakinya yang sedang marah padanya itu. Sampai seseorang yang datang membuat Gezia sedikit bernafas lega, berharap orang itu akan membuat Kakaknya pergi dan melupakan kesalahannya. Biarlah Gezia meminta maaf langsung pada Kakak iparnya daripada harus pada Ganesh.
"Kak Adlan, mau ajak Abang meeting ya? Ajak saja Kak, lagian Abang tidak mengerjakan apapun disini" Gezia langsung menghampiri asisten dari Kakaknya itu.
Adlan sedikit mengerutkan keningnya, dia faham sekali bagaimana keluarga Ganesh. "Kau berbuat apa? Berbuat kesalahan apa hingga Abangmu marah?"
Sial. Kenapa nih orang bisa banget nebaknya.
__ADS_1
"Eng-enggak ada, memangnya apa yang aku perbuat sampai membuat Abang marah"
Adlan tersenyum tipis, melihat kegugupan Gezia "Sudahlah, aku hanya ingin memberikan berkas yang harus di tanda tangani oleh Abangmu. Setelah itu aku harus kembali ke perusahaan"
"Ke perusahaannya sama Abang 'kan?"
Adlan menggeleng, dia berlalu begitu saja dari hadapan Gezia. Sampai gadis itu melihat jam tangannya, gawat sudah lebih dari 15 menit. Bagaimana ini? Gumamnya sambil berlari menyusul Adlan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam lift. Untung saja pintu lift belum benar-benar tertutup, membuat Gezia segera menahannya dan ikut masuk ke dalam kotak besi itu.
"Mau apa kau?" tanya Adlan
"Ketemu Abang, sudah lebih dari 15 menit ini. Duh gimana dong Kak? Tolongin Zia" mohon Gezia dengan tatapan memelasnya, bahkan matanya sudah memerah menahan tangis.
Adlan sudah lama mengenal semua anggota keluarga Aditama. Dia tahu sekali jika adik dari Ganesh ini memang sangat takut dengan kemarahan sang Kakak. Meski di luaran sana Gezia terdengar dingin dan cuek, tapi di depan orang-orang terdekatnya dia selalu menunjukan sisi manjanya. Dan semua itu terkadang membuat Adlan merasa gemas. Eh.
"Memangnya kau melakukan apa?"
Ting..
Pintu lift terbuka, Adlan melangkah keluar dari dalam lift tapi tidak dengan Gezia. Gadis itu malah terlihat ragu untuk keluar. Adlan menoleh ke arah gadis itu. "Abangmu akan semakin marah jika kau telat"
Mendengar gertakan dari asisten Kakaknya itu membuat Gezia langsung keluar dengan terburu-buru. Hal itu membuag Adlan terkekeh melihatnya. "Dasar bocah"
"Kak Adlan cepetan, malah diem aja" Gezia berhenti saat sudah hampir sampai ke pintu ruangan miliknya. Dia semakin dag dig dug saja. Gezia ingin memanfaatkan Adlan untuk bisa menghadapi Kakaknya itu.
Adlan berjalan dengan geleng-geleng kepala melihat kelakuan gadis itu. "Memangnya apa yang kau lakukan sampai membuat Abangmu marah?"
Berjalan sambil menceritakan kejadian tadi pada Adlan. Dengan menambah-nambahkan jika dirinya tidak sebersalah itu. Dasar Gezia.
__ADS_1
Bersambung
Butik Gszia memang semewah itu, kalian bayangkan saja sendiri. Like komen di setiap chapter..