Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Pertengkaran


__ADS_3

Tyas merasa bingung saat melihat suaminya yang gelisah sejak mereka memasuki restaurant ini. Bahkan dia makan dengan tidak tenang sampai makanannya pun tidak dia habiskan.


"Mas kenapa?" Akhirnya Tyas bertanya karena penasaran. "...Dari tadi aku lihat kamu tidak nyaman makan disini? Apa makanannya tidak enak? Atau tempatnya yang tidak nyaman?"


Ganesh menggeleng pelan, sebaiknya dia jujur saja daripada istrinya nanti tahu dari orang lain. Namun sebelum dia mengatakannya, seorang pelayan keburu datang membawa hidangan penutup untuk mereka.


"Loh Tuan Ganesh ya, sama Mbak Seiranya juga? Kok gak ngadain acara anniversary disini lagi? Biasanya Tuan selalu memesan restaurant kami untuk mengadakan acara *anniversary kalian"


Deg...


Sepertinya pelayan itu tidak melihat keberadaan Tyas, atau mungkin dia menyangka jika Tyas hanya saudara Ganesh atau apapun itu. Jelasnya si pelayan masih mengira jika Ganesh masih bersama Seira.


"Keromantisan Tuan sama Mbak Seira selalu menjadi pusat perhatian semua pelayan disini. Selalu merasa iri. Hehe"Si pelayan masih nyerocos tanpa sadar keadaa yang mulai tegang.


"Ekhem, Mas ini semua yang bayar suami saya ya. Saya lupa kalau anak saya pasti sudah nangis di rumah" Tyas berdiri dan mengambil tas selempangnya. Lalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan suaminya lagi.


Si pelayan mematung, wanita manis berhijab itu adalah istrinya. Dia kira adalah adiknya Ganesh, karena memang Ganesh juga memiliki seorang adik perempuan yang selalu memakai kerudung.


"Tuan, maafkan saya. Saya benar-benar tidak tahu"


Ganesh menatap tajam pada pelayan pria itu. Dia adalah pelayan di restaurant ini yang selalu membantu Ganesh jika mempersiapkan acara anniversary bersama Siera dulu. Ganesh berdiri, dia mengambil dompet dari saku celananya lalu menaruh sejumlah uang untuk membayar makanan yang dia dan istrinya pesan.


"Lain kali kalau bicara itu lihat dulu situasi"


Ganesh berlalu dan mengejar istrinya, namun Tyas sudah tidak terlihat di parkiran. Mungkin istrinya pergi dengan taxi. Jadi Ganesh segera menaiki mobilnya dan melajukannya dengan cepat. Berharap bisa mengejar istrinya, atau setidaknya bertemu di rumah dan dia akan jelaskan semuanya.


Sampai di rumah, Ganesh segera berlari ke dalam rumah. Mencari istrinya dengan terus memanggil-manggil istrinya. Namun, tidak juga terlihat dimana istrinya berada. Ganesh semakin kelimpungan sekarang.


"Sayang"


"Tyas.. Ayuningtyas"

__ADS_1


Kebierisikan itu membuat Bu Dia yang sudah terlelap langsung terbangun. Dia keluar kamar dan melihat Ganesh yang sedang kebingungan mencari istrinya. "Tuan ada apa?"


"Bu, apa Tyas sudah kembali?"


Bu Diah bingung sendiri, bukannya mereka pergi bersama. Kenapa malah mencari Tyas sekarang. "Tidak Tuan, saya sejak tadi berada di kamar Nona Gweny dan tidak mendengar Nona pulang"


Ganesh mengusap wajah kasar, dia panik dan bingung karena istrinya yang pergi entah kemana. Ganesh takut jika Tyas akan meninggalkannya seperti dulu. Ganesh tidak akan siap jika sampai itu terjadi.


"Assalamualaikum"


Ganesh menoleh ke arah pintu utama, Tyas muncul disana. Lega.. Beban berat yang menimpanya langsung terasa hilang seketika. Ganesh langsung berlari menuruni anak tangga untuk menghampiri istrinya itu.


"Waalaikumsalam. Sayang kamu kemana?" Ganesh langsung memeluk Tyas, mencium seluruh wajah istrinya. Dia sangat takut kalau istrinya sampai meninggalkannya seperti dulu.


Tyas mendorong tubuh suaminya, lalu berjalan ke arah sofa di ruang tengah. Bu Diah yang berada di lantai atas mulai menyadari jika akan ada perang yang terjadi di rumah ini. Dia memilih masuk kembali ke kamar Gweny.


"Sayang..." Ganesh mengikuti istrinya, dia duduk di samping istrinya. "Sayang, aku bisa jelaskan soal tadi"


Ganesh geram sendiri dengan pelayan tadi yang telah mencuri setart untuknya memberi tahukan pada istrinya. Akhirnya berakhir dengan kekesalan istrinya saat ini. "Sayang, aku benar-benar sudah tidak mengingat apapun tentang masa lalu itu. Dia hanya cukup menjadi masa lalu ku"


"Kenapa itu yang kamu bahas Mas? Kamu benar-benar belum bisa melupakan mantan kekasihmu itu ya" Tyas berdiri dan menatap suaminya dengan kesal. Bukan masalah itu yang ingin dia dengar dari suaminya.


"Sayang, apaan si? Kamu tahu sendiri kalau aku sudah tidak punya perasaan apapun dengan dia. Aku hanya mencintaimu Tyas"


"Ohh. Sekarang manggilnya juga Tyas ya, wahh beda banget ya kalau sudah bernostalgia dia restoran penuh kenangan itu"


Ganesh berdiri, dia tidak suka dengan ucapan istrinya. Karena nyatanya dia tidak lagi bernostalgia apapun itu yang di maksud istrinya. Wajar saja jika Ganesh mengingat jika restaurant itu adalah tempat favorit nya bersama Seira dulu. Itu masih wajar 'kan. Tapi pemikiran seorang perempuan tidak semudah itu. Apalagi dengan dia yang tidak mempunyai mantan. Jadi, wajar saja kalau saat ini Tyas marah dan cemburu.


"Nostalgia apa? Kamu tahu sendiri kalau hubungan aku dan dia sudah berakhir. Apanya yang ingin bernostalgia? Kamu jangan memancing pertengkaran dengan mengungkit masa laluku deh"


Tyas semakin kesal saja dengan suaminya. "Terserah mau kamu bernostalgia atau enggak pun. Aku gak peduli"

__ADS_1


Tyas ingin pergi darisana, namun tangannya langsung di cekal oleh Ganesh. "Mau kemana? Jangan suka menghindari masalah, selesaikan saat ini juga"


Tyas menatap suaminya dengan datar, dia kembali duduk di sofa di ikuti dengan suaminya itu. "Oke, apa yang ingin di selesaikan?"


"Kalau ada masalah itu jangan langsung pergi begitu saja. Tanyakan dulu sama aku apa yang sebenarnya" Suara Ganesh kembali melembut, tidak seperti tadi yang terpancing emosi dan nada suaranya meninggi.


"Gini deh Mas..." Tyas membenarkan posisi duduknya, hingga menghadap Ganesh yang sekarang duduk di sampingnya itu. "...Kamu tahu kesalahan kamu apa?"


"Aku tahu, karena aku tidak langsung bercerita tentang restoran itu yang menyimpan kenangan dengan dia" Entah kenapa Ganesh menjadi tidak ingin menyebut nama Seira di depan istrinya. Ganesh hanya takut jika nama mantan kekasihnya di sebut oleh bibirnya, maka akan membuat istrinya tidak nyaman.


"Tuhkan..." Tyas kembali membalikan tubuhnya menjadi membelakangi Ganesh. "....Kamu hanya mengingat tentang mantan kekasihmu itu. Itu artinya karena kamu masih mengingat dia. Pasti dia masih ada di dalam hatimu ya"


Ganesh bingung sendiri, memang itu 'kan kesalahannya karena sudah menyembunyikan fakta tentang tempat mereka makan tadi adalah tempat favorit dirinya bersama Seira dulu. Tapi istrinya masih saja marah dan kesal setelah dia menjelaskan semuanya.


"Kamu ini kenapa si? Aku udah jelasin smeuanya. Tapi masih saja marah"


"Bukan itu yang ingin aku dengar Mas, aku tidak peduli dengan masa lalu kamu dan restoran itu. Aku tidak peduli. Karena memang pasti banyak tempat-tenpat lain yang akan menjadi kenangan di antara kalian. Aku tahu itu"


"Terus apa dong Sayang, aku bingung"


"Kamu benar-benar gak tahu kesalahan kamu itu. Kamu udah ninggalin aku pas aku ke kamar mandi tadi"


"Hah?!"


Bersambung


Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya.. kasih bintang rate 5 juga ya


Yuk mampir di karya temanku ini.. Ceritanya bagus..


__ADS_1


__ADS_2