
Kejadian di masa lalu, kembali terbayang-bayang di ingatan Tyas. Tubuhnya bergetar mengingat hal itu. Apalagi saat semua orang menatap terkejut ke arahnya. Tidak.. Tyas tidak membunuh Ibunya. Dia juga tidak menginginkan kecelakaan itu terjadi. Jika boleh memilih, Tyas lebih memilih dirinya yang pergi. Bukan Ibu kandungnya. Karena kehidupan Tyas setelah Ibunya meninggal, langsung hancur seketika.
"Apa maksudmu?" tanya Ganesh dingin, dia menatap tajam ke arah gadis yang berdiri itu.
Adriana berjalan mendekat ke arah Ganesh yang terduduk di atas ranjang pasien. "Apa Kakak tidak tahu, jika Ibunya Kak Tyas meninggal karena dia"
"Kamu jangan asal bicara, cucuku adalah gadis yang baik" Kakek berkata tegas pada Adriana, dia tentu tidak akan percaya dengan ucapan adiknya Tyas itu. Tentu Kakek lebih percaya pada Tyas. Mungkin bukan hanya Kakek, tapi semuanya juga tidak mungkin percaya begitu saja pada ucapan gadis belia itu.
"Adriana, diam. Jangan mengacau" ucap Eriawan
Tyas menatap Ayahnya dengan mata berkaca. Setelah dapat peringatan dari Kakek, barulah dia melarang anak bungsunya itu. Kenapa tidak dari tadi, padahal Tyas juga anaknya. Tidak bisakah Eriawan sedikit saja menganggap keberadaannya sebagai anak. Kenapa Tyas selalu merasa dirinya hanyalah orang asing di keluarganya sendiri.
"Maaf Tuan Eriawan, bukannya kami tidak senang dengan kedatangan keluarga anda. Tapi, saya fikir saat ini lebih baik anda membawa keluarga anda pergi dulu. Suasananya sedang tidak tepat"
Papa mulai mengeluarkan ketegasannya. Dia tidak ingin ada pertengkaran di rumah sakit ini. Dan semuanya hanya diam, Kakek pun hanya menyerahkan semuanya pada Papa. Biar Papa yang menangani apa yang sedang terjadi.
"Maafkan kami Tuan, kami telah membuat kekacauan disini"
Eriawan merasa sangat malu dengan apa yang di lakukan anaknya itu. Dia membawa keluarganya keluar dari ruangan itu. Sampai di kediaman mereka, Eriawan langsung mengeluarkan emosinya pada anaknya itu.
__ADS_1
"Kau kenapa bisa berkata seperti itu di depan keluarga besar Aditama? Kau tahu bagaimana berpengaruhnya perusahaan GE pada perusahaan kita. Apa kalian siap hidup miskin jika mereka memutuskan kerjasama dengan kita dan saham yang mereka tanam di perusahaan kita akan di cabut. Kita akan benar-benar miskin jika itu terjadi"
Adrian hanya duduk di sofa dengan wajah menunduk. Julia juga hanya diam menemani anaknya. Dia juga tidak bisa mengatakan apapun. Julia juga tidak ingin jatuh miskin, tapi apa yang di lakukan anaknya tadi juga atas dukungannya. Bermaksud ingin mwnpermalukan Tyas di depan keluarga besar Aditama. Tapi, malah mereka yang harus menanggung malu.
"Mulai sekarang, Papa akan potong uang jajan kamu. Jangan harap Papa akan memberikan kamu waktu keluar selain untuk urusan sekolah"
Eriawan langsung berlalu ke ruang kerjanya setelah mengatakan itu. Meninggalkan Adriana dan Julia yang terdiam di tempatnya.
"Ma, aku gak mau kalo cuma diem aja di rumah. Aku bukan Kak Tyas yang selalu menjadi penghuni rumah"
"Sudahlah, Mama pusing. Kamu turuti saja apa yang di katakan Papa. Jangan membantahnya"
Sementara suasana di dalam ruang rawat masih terasa tegang. Semua orang tidak ada yang berani bertanya pada Tyas tentang apa yang di katakan Adriana tadi. Semuanya tidak ada yang berani bertanya pada Tyas. Melihat gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong. Semuanya menatap prihatin pada Tyas. Entah apa yang di alami gadis itu selama ini.
Tyas menghembuskan nafas berat, sepertinya memang sudah seharusnya dia jujur pada keluarga suaminya ini. Meski luka lama akan semakin terbuka jika dia menceritakan kembali semua masa lalu yang terlalu menyakitkan untuk di ceritakan kembali. Meski dari luar Tyas terlihat baik-baik saja, namun hatinya benar-benar rapuh dan hacur.
"Mama Julia bukan Ibu kandung Tyas, sejak umur 6 tahun hidup Tyas berubah Ma, Papa, Kakek dan semuanya. Ibu aku meninggal karena menyelamatkan Tyas yang hampir tertabrak mobil...."
Tyas menatap kosong, tidak ada pancaran kehidupan di balik tatapan matanya. Mungkin ini adalah kehidupan Tyas yang sebenarnya. Tidak ada kebahagiaan, hanya ada luka di balik tatapan matanya. Di balik setiak keceriaannya, ada hati yang terluka yang dia tutupi dengan keceriaannya itu. Hingga hampir semua orang tidak mengetahui jika Tyas memiliki masa lalu menyedihkan. Semuanya hanya tahu jika dia adalah gadis yang ceria di setiap saat. Tyas memang terlalu pandai menutupi kesedihannya.
__ADS_1
Tyas menghembuskan nafas berat sebelum dia melanjutkan ucapannya "....Sejak kejadian itu, tidak ada lagi tatapan hangat seorang Ayah. Papa hanya menatap benci pada aku, seolah aku adalah orang yang menjijikan. Bahkan keberadaanku seolah tidak terlihat lagi. Bahkan perniakahan ini bukan sebuah tawaran atau permintaan dari Papa padaku. Tapi, pernikahan ini adalah perintah Papa hanya untuk menyelamatkan perusahaannya. Aku tidak punya pilihan lain. Maaf jika kehadiranku telah membuat kalian semua terjebak dengan situasi ini...."
Tyas menoleh ke arah suaminya, rasa bersalah terlihat jelas di balik tatapan matanya. "...Dan, aku minta maaf karena tidak bisa menolak perjodohan ini Mas karena aku benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Maaf karena kamu harus terjebak dengan pernikahan ini dan membuat kamu terluka karena di tinggalkan wanita yang kamu sangat cintai"
Ganesh melawan rasa sakit yang di rasakan di tangannya hanya untuk bisa memeluk Tyas yang duduk di pinggir tempat tidur. Tentu hal itu membuat Tyas begitu terkejut, Ganesh memeluknya dengan begitu erat. Bahkan pria itu mengabaikan rasa sakit di tangannya. Suara isakan terdengar lirih di telinga Tyas. Suaminya menangis.
"Maaf karena sudah membuatmu semakin terluka karena sikap aku selama ini. Tolong jangan lagi mengatakan maaf padaku. Kau sama sekali tidak bersalah. Aku yang salah Tyas, jangan terus meminta maaf dengan apa yang tidak kamu lakukan. Kamu tidak salah apapun. Aku yang salah, maafkan aku Sayang"
Tyas meneteskan air mata haru, setelah sekian lama akhirnya ada seseorang yang benar-benar tulus mencintainya. Bahkan suami yang dulunya sangat membenci Tyas, bahkan tidak mengharapkan kehadiran Tyas. Kini, dia telah benar-benar mencintai Tyas dengan tulus. Oh.. Tuhan inikah takdir? Sungguh rencanamu memang lebih indah dari yang di bayangkan. Begitulah isi fikiran Tyas. Takdir yang memilihnya, memang sudah menjadi takdir yang di berikan Tuhan padanya. Dan semua itu kini menjadi sumber kebahagiaannya.
"Sudah Mas, aku sudah memaafkan Mas Ganesh. Jangan terus menyalahkan diri sendiri, karena semua ini terjadi karena takdir"
Semua orang yang ada disana tersenyum penuh haru. Bahkan Mama dan Tante Syifa sampai meneteskan air mata. Mendengar setiap cerita Tyas yang begitu menyakitkan dan melihat bagaimana Ganesh telah benar-benar berubah dan menjadi suami yang menyayangi istrinya dengan segala ketulusannya.
Takdir Yang Memilih..
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.. Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya juga..
__ADS_1