
Ganesh sedang melakukan interview untuk pengasuh yang di rekomendasikan oleh Tante Syifa. Katanya dia sudah mengurus anak temannya dan terbukti kinerjanya yang baik dan profesional. Sekarang anak asuhnya sudah besar dan sudah tidak lagi butuh pengasuh. Jadi teman Tante Syifa merekomenasikannya saat tahu jika Tante Syifa sedang mencari pengasuh untuk anak keponakannya.
Ganesh duduk di sofa dengan sang istri di sampingnya yang sedang menggendong Gweny. "Jadi, siapa namamu?"
"Ibu Mas, dia lebih tua dari kita" Tyas mengingatkan suaminya dengan menyenggol lengan suaminya.
Hah.. Ganesh menghela nafas, istrinya ini memang tidak akan bisa jika di jadikan seorang pemimpin. Karena terlalu baik dan sopan. Memang begini cara Ganesh melakukan interview untuk semua karyawannya. Tegas dan tidak ada pengulangan kata.
"Nama saya Bu Diah"
Ganesh mengangguk mengerti "Jadi anakku baru berusia satu bulan. Dia masih rentan dan aku ingin Ibu memberikan yang terbaik untuk putriku. Selama aku bekerja tidak apa jika istriku ingin mengurus putrinya sendiri, Ibu hanya perlu mendampinginya saja. Tapi jika saya berada di rumah, Ibu harus siap mengurus anak saya sendirian"
Bu Dian mengangguk, dia mengerti apa yang di maksud oleh majikan barunya ini. Sementara Tyas hanya bisa menunduk malu dengan kelakuan suaminya yang langsung to the point. Tidak mungkin jika Bu Diah tidak mengerti dengan yang di maksud suaminya. Ganesh hanya ingin berdua bersama istrinya saat dia berada di rumah, dia hanya ingin bermanja pada sang istri dan tidak lagi terganggu oleh tangisan anaknya yang seolah mengerti jika Ayahnya sedang ingin bersama Ibunya.
Baby Gwen seolah tidak memberikan waktu untuk sang Ayah bermesraan bersama Ibunya. Dan mulai hari ini mereka sudah memiliki pengasuh untuk baby Gwen. Jadi mereka pun langsung kembali ke rumah mereka setelah satu bulan berada di rumah Kakek. Dan kembalinya Ganesh bersama istri dan anaknya ke rumah mereka. Membuat suasana kediaman Aditama terasa sepi. Tidak ada lagi tangisan bayi yang membuat semuanya berebut ingin menggendong dan mendiamkan bayi mungil untuk segera berhenti menangis. Seperti saat ini, penghuni kediaman Aditama sedang berkumpul di ruang tengah.
"Sepi ya gak ada Gwen, padalah baru tiga kemarin dia di bawa pulang ke rumahnya" keluh Gezia sambil bersandar di bahu suaminya
"Makanya kamu harus segera hamil Zi, biar rumah ini rame" kata Mama yang sudah berharap cucu kedua dari anak bungsunya ini.
"Tenang aja Ma, sudah realis kok"
Mama, Papa dan Kakek langsung menatap ke arah Gezia dengan tatapan bertanya-tanya.
"Maksudnya Zi?" tanya Kakek, dia langsung menata ke arah Adlan karena tahu jika cucunya yang satu ini kadang suka tidak serius kalau berbicara. "...Adlan apa maksud ucapan istrimu itu?"
Adlan tersenyum penuh arti, istrinya ini memang suka aneh-aneh saja saat ingin menyampaikan sesuatu. Padahal rencana demi rencana telah di bicarakan di kamar tadi. Tidak seperti ini konsepnya. Akhirnya Adlan kembali harus menjelaskan pada keluarga istrinya ini. "Iya do'akan saja istriku dan bayi kami sehat"
Mama langsung pindah posisi duduk menjadi di samping Gezia dan refleks mengelus perut Gezia yang masih rata itu. "Kamu beneran Zi? Kamu sedang hamil, berapa bulan?"
__ADS_1
"Iya Ma, aku belum periksa ke dokter si. Jadi belum tahu berapa usia kandunganku. Aku haru coba tes tadi pagi"
Kakek, Papa dan Mama langsung tersenyum bahagia mendnegarnya. Mereka akan kehadiran anggota baru lagi.
"Kenapa tidak langsung periksa saja" kata Mama
"Besok saja deh, kan besok weekend jadi aku mau periksa sekalian mau ke rumah Abang. Kangen sama Gweny"
"Baikalah besok kita datang ke rumah Ganesh" kata Kakek
Dan semuanya setuju, padahal baru kemarin Ganesh membawa istri dan anaknya kembali ke rumah mereka. Tapi keluarganya sudah sangat merindukan baby Gwen yang memang sedang gemas-gemasnya.
........
Ganesh membuka pintu rumahnya saat suara bell rumah yang terdengar. Saat membuka pintu Ganesh menatap tidak percaya pada tamu yang datang. "Kalian?"
"Assalamualaikum Abang, mana Gwen aku rindu" Gezia langsung nyelonong begitu saja masuk ke rumah Kakaknya. Dia langsung naik ke lantai atas dan mencari Gweni yang berada di kamarnya sedang di pakaikan baju oleh Ibunya. Gweny baru saja mandi.
Tyas tentu terkejut dengan kehadiran adik iparnya ini. "Zi, kapan datang?"
"Assalamualaikum Kak, baru saja. Aku rindu sama Gwen"
Tyas tersenyum melihat antusiasnya Gezia pada anaknya ini. "Waalaikumsalam. Sama siapa kesini?"
Gezia menggendong Gweny setelah Tyas selesai memakaikan pakaian dan bandana di kepala mungil bayi itu. Semakin menggemaskan saja. "Sama semuanya, Kakek, Papa, Mama dan Kak Adlan juga"
"Mereka juga datang"
"Iya, ayo Gwen kita ke bawah temui orang-orang yang sedang merindukanmu itu" Gezia langsung membawa Gweny ke luar kamar.
__ADS_1
Sementara Tyas hanya tersenyum dengan geleng-geleng kepala. "Bu Diah"
Bu Diah yang sedang berada di kamar mandi untuk membereskan bekas mandi Gweny langsung keluar dan menemui majikannya. "Iya Neng"
"Tolong beresin ini ya, di bawah ada keluarga Mas Ganesh yang datang ke rumah"
Bu Diah mengangguk "Baik Neng"
Tyas tidak mau di panggil Nona oleh pengasuh anaknya ini. Dia merasa tidak nyaman saja karena Bu Diah yang lebih tua darinya. Justru Tyas bisa merasakan hadirnya sosok seorang Ibu saat melihat Bu Diah. Dia bisa sharing tentang mengurus bayi dengan baik. Tyas tidak lagi merasa kesepian jika suaminya sedang bekerja, karena sekarang ada Bu Diah yang dia anggap seperti Ibunya sendiri.
Tyas turun ke lantai bawah dan keluarga suaminya itu sudah berkumpul di ruang keluarga dengan berebut ingin menggendong Gweny. Tyas bahagia melihat putrinya yang benar-benar di terima dengan baik di keluarga ini.
"Ya ampun gak tahu bakal kedatangan tamu nih. Malah Tyas belum masak lagi" kata Tyas, menghampiri keluarga suaminya dan memberikan salam pada Papa, Kakek dan Mama.
"Delivery saja Sayang, biar gak usah repot masak"
"Ihh jangan, kita makan di luar saja. Bawa Gweny jalan-jalan. Abang gak pengertian deh, Kak Tyas ini habis lahiran jadi harus banyak-banyak di bawa refreshing"
"Bagus juga tuh idenya Zi, kita makan di luar saja. Biar aku hubungi Syifa agar ikut datang biar makin rame" kata Papa yang malah ikut antusias dengan ajakan anaknya itu.
Keluarga yang bahagia dan harmonis ini membuat Tyas tidak berhenti bersyukur karena bisa menjadi bagian dari keluarga ini. Meski pada awalnya tidak mudah baginya, tapi Tyas bersyukur karena dirinya di berikan kekuatan dan kesabaran yang tinggi hingga bisa tetap bertahan dengan suaminya dan menemukan kebahagiaan ini.
Terimakasih Ya Allah, takdir memang tidak pernah salah memilih.
Bersambung
Like komen di setiap chapter.. Kasih hadiahnya dan votenya..
Yuk mampir di karya temanku ini, ceritanya bagus..
__ADS_1