Takdir Yang Memilih

Takdir Yang Memilih
Ketegasan Erland


__ADS_3

Tyas menatap kosong televisi yang masih menyala itu. Beberapa menit lalu keluarga suaminya telah pulang. Namun, Tyas menjadi semakin kesepian sejak kepergian mereka. Tyas merasa dunianya kembali sepi, jika beberapa waktu lalu Tyas bisa merasakan kebahagiaan dengan bercanda dan tertawa bersama saudara suaminya itu. Namun, setelah mereka pergi Tyas kembali pada dunianya yang sepi.


Sesekali Tyas melirik ke arah pintu, berharap suaminya akan segera kembali. Namun, suara mobilnya pun belum terdengar. Akhirnya Tyas menyerah, dia meraih remot televisi dan mematikan televisi. Beranjak dari duduknya dan Tyas kembali ke kamarnya. Tidak lagi mencoba menunggu suaminya yang entah kapan akan pulang. Atau mungkin tidak akan pulang.


Pagi ini Tyas terbangun dengan tubuh yang lelah. Nyatanya bukan hanya tubuhnya yang lelah, tapi juga hatinya. Selesai melaksanakan kewajibannya, Tyas segera pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Tyas melihat di luar mobil suaminya telah terparkir, entah pukul berapa Ganesh pulang semalam. Tyas tidak tahu.


Selesai membuat sarapan, Tyas berlalu ke kamarnya untuk mandi. Tapi tatapannya terhenti pada sebuah benda yang tergeletak di dekat televisi. Dia baru melihatnya atau mungkin memang tidak terlihat olehnya semalam. Tyas meraih kotak panjang beludru berwarna biru itu. Membukanya dan Tyas langsung terpana dengan keindahan kalung yang ada di dalam kotak itu.


Tyas mengambilnya dan menatap kalung dengan liontin mutiara itu yang bergelayun di depan wajahnya. "Indah sekali"


Saat Tyas masih senang menatap kalung yang menurutnya sangat indah itu. Tangannya tiba-tiba di tarik dengan kasar, Tyas begitu terkejut sampai kalung di tangannya terjatuh ke lantai. Tyas menatap wajah suaminya yang memerah menahan amarah. Lagi-lagi Tyas merasa ketakutan luar biasa melihat kemarahan suaminya.


"Jadi, kau yang menyembunyikan hadiah ku untuk Seira. Dasar wanita hina, jika kau ingin tidak perlu mencuri milik kekasihku"


Ganesh langsung memungut kalung itu dia atas lantai dan mengambil kasar kotaknya di tangan Tyas. Ganesh menatap Tyas dengan dingin, membuat gadis itu hanya terdiam dengan tangan bergetar.


"Berhenti bertingkah! Karena apapun yang kau lakukan tidak akan pernah menarik perhatianku. Mengerti!" tekan Ganesh di setiap kata yang terucap dari bibirnya.


"Maaf" lirih Tyas dengan suara bergetar hebat, dia sedang mencoba menahan tangisnya. Namun, sepertinya sia-sia. Hatinya sudah terlalu rapuh, dan dia hanya bisa menumpahkan dalam tangisan.


Ganesh berlalu ke kamarnya tanpa menghiraukan istrinya yang begitu ketakutan dengan kemarahannya barusan. Sampai di dalam kamar, Ganesh terduduk lemas di atas sofa.


Dia merasa sudah keterlaluan pada Tyas. Hati kecilnya tetap menyalahkan tindakan nya itu. Namun, lagi-lagi alasan Ganesh memperlakukan Tyas seperti itu agar dia bisa segera lepas dari pernikahan paksa ini jika Tyas terus tersakiti dan akan meminta pisah padanya.


"Maafkan aku Tuhan, aku telah menyakiti seorang perempuan. Mama..."

__ADS_1


Sejatinya Ganesh selalu merasa jika Ibunya adalah wanita terhebat dalam hidupnya. Dan setiap dia berprilaku kasar pada Tyas, wajah Mama selalu menghantuinya. Karena Ganesh tahu jika Mamanya juga seorang perempuan.


Namun, kenapa Ganesh masih saja terkalahkan egonya sendiri. Setiap melihat Tyas, maka Ganesh selalu ingat dengan kekasihnya yang tersakiti dengan pernikahan ini. Akhirnya emosinya selalu meluap hanya dengan menatap wajahnya. Karena bagi Ganesh Seira masih segalanya.


"...Aku hanya ingin bersama Seira, tapi kenapa semuanya menolak hubungan kami" lirih Ganesh, dia sudah sangat frustasi dengan semua ini. Kisah cinta selama 4 tahun sama sekali tidak berbuah hasil apa-apa. Hubungannya dan Seira hanya berjalan di tempat. Tidak ada kemajuan apapun.


...🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬🍬...


Siang ini Ganesh kesal sekali karena sepulang dia bertemu dengan rekan kerjanya. Dengan tidak sengaja Ganesh melihat Seira turun dari mobil seorang pria yang dia kenal sebagai teman sekolah Seira, dulu. Memang Seira sudah meminta izin untuk makan siang bersama temannya karena Ganesh yang ada meeting di luar saat jam makan siang.


Tapi, Ganesh kira Seira akan makan siang bersama teman kantornya. Teman perempuan tentunya. Ingatlah, Ganesh adalah pria posesif yang tidak suka wanitanya terlalu dekat dengan pria lain meski itu hanya sebatas teman.


Akhirnya Ganesh menyuruh Seira ke ruangannya dan meluapkan kekesalannya disana. Seira hanya diam saja, membiarkan Ganesh meluapkan kekesalannya itu.


Ganesh berdiri dari duduknya, dia berjalan ke arah Seira dan memutar kursi yang dudukinya membuat Seira terkejut. Ganesh sedikit membungkukan badannya dengan satu tangan bertumpu pada meja kerja dan satunya lagi berpegangan pada pegangan kursi yang Seira duduki.


Jantung keduanya berdetak kencang, seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Wajah Ganesh semakin dekat dengan wajah Seira. Refleks Seira memejamkan mata, dan benar saja apa yang di fikirkannya terjadi. Ganesh mencium bibir Seira, mereka saling melum*at halus dan mengecap rasa manis di bibir masing-masing.


Berciuman cukup lama, Seira dan Ganesh saling melampiaskan semua rasa cinta mereka. Meluapkan segala beban yang di hadapi sekarang. Melupakan sejenak jika di antara mereka masih berdiri benteng yang terlalu kokoh untuk bisa di hancurkan.


Brakkk...


Pintu ruangan terbuka dengan kasar, sepertinya Ganesh lupa untuk menguncinya. Sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta itu segera melepaskan tautan bibir mereka dengan terkejut. Seira mengusap bibirnya yang basah, sisa bertukar saliv barusan.


"Aku kesini mau menyerahkan berkas yang di minta Papa untuk di serahkan padamu" Erland berjalan dengan santai seolah tidak melihat apapun. Dia menyimpan berkas yang di bawanya di atas meja kerja Ganesh.

__ADS_1


Seira menunduk malu, sangat malu dengan adegan yang baru saja terjadi. Semakin malu saat Erland menatapnya dengan pandangan jijik.


Ohh.. Tuhan apa aku sehina itu?


"Lain kali kunci pintu jika kalian ingin melakukan hal menjijikan itu" kata Erland, begitu menusuk. Memang benar apa yang Erland katakan.


"Jaga ucapanmu, Erl" kata Ganesh dengan telunjuk yang menunjuk ke arah Erland. Dia tidak terima dengan apa yang barusan sepupunya itu katakan.


"Ohh lupa ya, kalo Abang ini sudah punya istri. Lalu adegan tadi apa? Benar 'kan apa yang aku katakan. Adegan menjijikan yang tidak seharusnya kalian lakukan" tekan Erland di setiap katanya


Deg..


Ya, memang benar apa yang di katakan Erland. Tidak seharusnya mereka melakukan itu. Ganesh ini sudah menjadi suami orang lain. Dan bodohnya Seira masih mau melakukannya dengan suami orang.


"Maaf Erland" lirih Seira dengan wajah menunduk malu.


"Kalian tidak perlu malu atau merasa bersalah dengan apa yang kalian lakukan itu. Minta maaf pada orang yang tidak sengaja kalian sakiti dan libatkan dalam hubungan terlarang ini. Dan merasa malulah pada Tuhan kalian"


Erland berlalu ke luar ruangan setelah mengatakan itu. Seira langsunh terduduk lemas di kursi, bagaimana mungkin Erland yang usianya di bawah mereka bisa berkata sebijak itu. Dia bisa mematahkan harapan Seira dan Ganesh memang sejatinya hal yang sangat salah. Tidak seharusnya mereka melakukan ini dan mengharapkan bisa bersama di saat semuanya tidak mungkin terjadi.


Kau benar Erland.


Bersambung


Jangan lupa dukungannya.. like komen di setiap chapter.. kasih hadiahnya dan votenya juga..

__ADS_1


Sampai bab ini Bagaimana?


Yang ingin tahu kisah seira, bisa baca di judul novel Benteng Penghalang Kita


__ADS_2