Teleport System

Teleport System
Episode 105 Real pergi ke sekolah


__ADS_3

"Suami ku sebenarnya tidak seperti ini sebelumnya namun ketika ia tau aku memilki bisnis yang lebih besar dan penghasilan ku lebih banyak ia jadi sering mabuk-mabukan aku bingung menghadapnya" ucap Sari penuh emosional


Dengan segera Nadia memeluk Sari sembari menenangkannya.


Beberapa saat kemudian.


Faisal dan yang lainya tengah duduk di sofa, Nadia masih memeluk Sari sembari mengelus pundaknya.


"Kami telah menikah sekitar tiga tahun aku berkenalan dengan di aplikasi sejenis FB, aku menikah dengan nya selepas aku lulus SMA ia datang menjemput ku kemudian kami menikah" sari bercerita dengan air mata yang terus menetes.


Faisal mendengarkan cerita tersebut dengan seksama.


"Satu tahun pernikahan kami tidak kunjung di mendapatkan garis dua" ucap Sari.


"Garis dua?" bisik Nicho.


Faisal menatap Nicho kemudian ia menggeleng menandakan dirinya tidak mengetahuinya.


"Kami memutuskan untuk mengadopsinya Lilia ia adalah anak yang baik awal kami mengadopsinya ia masih berumur 5 tahun dan sekarang ia berumur 7 tahun, aku tak tega dengan apa yang terjadi kepada Lilia" ucap Sari.


...****************...


Singkat cerita Faisal membantu Sari untuk bercerai dengan suaminya namun sayangnya suaminya tidak pernah muncul di persidangan al hasil perceraian di tunda.


Lilia berhasil di selamatkan Sari menyetujui proposal yang di berikan Faisal sebelumnya.


Faisal menghabiskan waktu dua minggu untuk menyelesaikan masalah ini hingga ia harus menunda sekolahnya.


...****************...


Hari pertama sekolah.


"Sepertinya hari ini akan baik, kita pergi pakai angkutan umum saja" ucap Faisal sembari ia memasang sepatu di depan pintu.


Terlihat Nicho tengah memasukan buku-buku ke dalam tas.


Selain itu terdapat pula Nadia yang tengah mempersiapkan bekal untuk Faisal dan Nicho di dapur.


"Kalian berangkat menggunakan apa?" ucap Nadia dengan keras.


"Kami akan menggunakan taxi" jawab Nicho.


Merekapun berangkat.


...****************...


Di sebuah sekolah yang besar berbeda jauh dengan sekolah di wakanda terutama sekolah di daerah saya.


Sekolah yang di bangun dengan batu bata yang kokoh serta arsitektur yang masih klasik karena sekolah tersebut memiliki sejarah yang panjang.


Sekolah memiliki tiga bangunan sekolah satu bangunan olahraga yang berisi lapangan basket serta kolam renang, selain itu terdapat pula lapangan bola.

__ADS_1


Halamannya juga sangat luas terdapat air mancur di tengah-tengah sekolah.


Murid-murid menggunakan pakaian santai mereka berjalan sibuk dengan urusan mereka sendiri tak hanya itu ada beberapa murid yang berkumpul dan duduk di bawah pepohonan yang di taman sekolah.


Faisal menarik nafas panjang saat berada tepat di depan gerbang sekolah tersebut.


"Bahkan halamannya tidak seluas seluruh wilayah sekolah SMP ku, dan sekolah ini berakreditasi standar" ucap Faisal sembari menatap bangunan sekolah dengan kagum.


"Bahkan sekolah kita tak sebanding dengan tempat ini walau sekolah kita termasuk sekolah elit sebelum menjadi reruntuhan" ucap Nicho sama seperti Faisal ia juga kagum bahkan terkejut.


"Aku bahkan sempat berpikir jika ini adalah istana saat pertama kali aku melihatnya di dalam taxi" ucap Nicho.


"Lebih baik kita masuk" ucap Faisal sembari berjalan memasuki gerbang.


"Morning" ucap satpam yang berjaga sembari tersenyum kepada Faisal.


Faisal membalas senyuman satpam tersebut.


Dalam sekejap seluruh siswa yang berada di sekitar menatap Faisal dengan kagum sekaan mereka melihat sebuah karya seni yang begitu indah yang mana menyihir mata untuk tetap menatanya.


Tak hanya itu Faisal juga di tatap dengan tatapan benci dan tidak suka oleh beberapa lelaki yang melihat dirinya sebagai ancaman.


Faisal berjalan dengan tubuh tegap dan pandangan lurus ia tak mempedulikan sekitarnya berbeda dengan Nicho ia kelihatan gugup saat berjalan di samping Faisal ia berjalan menunduk sembari mencengkram pegangan tas dengan erat.


"Berjalanlah seperti kau adalah seorang raja jangan pedulikan sekelilingmu" ucap Faisal.


Mendengar hal itu Nicho tiba-tiba menenggak pandangannya dan mulai berjalan lebih santai.


"Dia sangat tampan, wajahnya seperti Leonardo saat muda"


"Tidak dia itu setampan gavi"


"Tidak dia seperti Zayn malik"


Debat sekelompok wanita dengan antusias.


...****************...


Ruang kepala sekolah.


"Jadi kalian murid pindahan dari Indonesia?" tanya seorang pria yang tak lain adalah kepala sekolah.


Ia memiliki tubuh kurus tinggi, rambutnya berwarna pirang botak di bagian tengah ia menggunakan kacamata, matanya berwarna hijau.


Kepala sekolah menatap Faisal dan Nicho dengan tajam seakan sedang mengamati mereka.


"Benar, nama saya Faisal dan teman saya Nicho" jawab Faisal dengan tubuh tegap sembari ia melipat tangannya.


"Nadia sudah berbicara kepada ku, kalian boleh pergi ke ruangan tiga kelas 10 kalian bisa bertanya kepada siswa lain" ucap kepala sekolah sembari memberikan kartu pelajar sekolah tersebut.


Faisal dan Nicho mengambil kartu tersebut"terimakasih" ucap mereka setelah itu mereka pergi.

__ADS_1


...****************...


Di ruang kelas yang di sebutkan kepala sekolah.


"Baiklah anak-anak pada kesempatan kali ini kita akan belajar mengenai sejarah" ucap seorang guru wanita yang berdiri di depan kelas sembari membawa buku tebal.


"Clik.."


"Maaf kami telat" ucap Faisal.


Seketika suasana menjadi tegang seluruh siswa menatap Faisal mereka tak bergerak terutama para wanita.


"Sebenarnya ada masalah apa dengan mereka, mengapa meraka menatap ku dengan nafsu" gumam Faisal.


[Hots terlalu tampan, anda memiliki tingkat karismatik yang begitu tinggi karena buku kitab reog Ponorogo yang anda pelajari.]


"Sial" ucap Faisal sembari berjalan mendekati ibu guru yang berdiri sembari menatap Faisal.


"Maaf" ucap Faisal saat di hadapan ibu guru.


"Ha iya" jawab ibu guru dengan gugup.


"Jadi boleh aku minta nomor mu" ucap ibu guru dengan spontan.


"Ah maksud ku silahkan perkenalkan dirimu" ucap ibu guru memperjelas.


Nicho menahan tawa.


...****************...


Saat makan siang.


Faisal dan Nicho memilih makan di taman.


"Kali pertama aku makan makanan Nadia, kau tidak khawatir atau takut?" tanya Faisal kepada Nicho sembari ia membuka kota bekal.


"Tidak selagi ia tidak memasukan racun menurutku ini aman saja" jawab Nicho kemudian ia memakan bekal yang telah di siapkan Nadia.


"Baiklah sepertinya ini layak untuk di coba" ucap Faisal kemudian ia memakan makanan tersebut.


Saat makanan itu masuk ke dalam mulutnya seketika Faisal terdiam ia seakan menghayal.


"Rasa ini, aku belum pernah merasakannya nasi yang rasanya manis dan tekstur yang padat namun lembut. Ayam yang pecah saat masuk ke dalam mulut" gumam Faisal sembari mengunyah dengan perlahan-lahan ia terlihat benar-benar menikmati makanan itu.


Faisal menatap Nicho.


Nicho telah menghabiskan bekalnya"ini masih kurang" ucapnya sembari menjilat sendok.


"Apa baru saja satu suapan, dia telah menghabiskan bekalnya" gumam Faisal terkejut.


"Makanan ini sangat enak aku mau makan lagi" ucap Nicho.

__ADS_1


...****************...


Bersambung.


__ADS_2