Teleport System

Teleport System
Episode 87 kejutan besar


__ADS_3

Dari kejauhan terlihat panji kerajaan Kroas berkibar bersamaan dengan ribuan pasukannya yang begitu banyak dan mengerikan.


Pasukan itu melaju sangat cepat ke medan perang.


"Tryuuuuuum" trompet perang berkumandang.


"Sial, kami kekurangan pasukan di kota ini" gumam Cedric panik.


"Floki musuh membawa pasukan bantuan...!" teriak Cedric.


Floki yang tengah menahan serangan dari 10 prajurit tiba-tiba menoleh ke arah pasukan bantuan musuh yang telah mendekat.


"Bajingan...!" teriak Floki sembari memukul 10 prajurit itu hingga hancur tak tersisa.


"Aku hanya ingin bermain-main sayang sekali kesenangan ku akan berakhir" ucap Floki sembari melompat ke arah pasukan bantuan musuh.


"Stank..!" serangan Floki di tahan oleh seorang prajurit yang mengenakan armor hingga menutupi wajah.


Mereka saling menahan serangan di udara.


"Kau kuat juga" ucap Floki kemudian menendang prajurit itu hingga terjatuh ke tanah cukup keras.


"Donal apa menurutmu ia dapat menang melawan orang barbar itu?" tanya Smith kepada Donal.


[Harold berhasil membunuh Celiot dan Baltran kemudian membantu Smith mendapatkan kekuasaan penuh di kota Dirta. Setelah melakukan itu ia menghasut Smith untuk melakukan penyerangan ke kota Dristia dengan bantuan organisasi awan hitam, Smith membawa hampir seluruh pasukan kota Dirta yang berjumlah 40 ribu pasukan.]


"Tentu saja akan berhasil" jawab Donal.


"Seluruh pasukan serang...!" teriak Smith dengan keras.


"Srak..!"


Suara para komandan kota Dirta yang di bunuh oleh beberapa prajurit mereka sendiri.


Dalam sekejap seluruh komandan perang dan orang-orang berpangkat di pasukan itu telah mati hanya tersisa Smith dan juga prajurit biasa yang kebingungan dan terlihat panik.


Smith menoleh ke belakang"apa yang terjadi?" tanya Smith kebingungan melihat komandan pasukannya telah mati dengan kepala yang terputus.


Kemudian ia menoleh ke pasukan awan hitam.


Seluruh pasukan awan hitam telah lenyap.


"Bajingan...!" teriak Smith sangat keras penuh amarah sembari menatap tajam ke arah Donal.


Donal tersenyum.

__ADS_1


"Aku hanya mengikuti perintah dari raja ku" ucap Donal.


"Prajurit yang menyerah akan di biarkan hidup sedangkan yang melawan akan kami siksa sampai mati" teriak Harold yang tengah tengah di atas pasukan kota Dirta bersama dengan Floki.


Mendengar hal tersebut seluruh pasukan kota Dirta menjatuhkan senjata meraka dan menyerahkan diri.


"Kau berhasil tanpa mengorbankan pasukan kita?" tanya Floki.


"Itu semua berkat Donal" jawab Harold sembari menunjuk ke arah Donal yang tengah mencekik Smith dengan satu tangan dan mengangkatnya.


"Aku telah muak dengan kebusukan mu selama ini, sudah saatnya kau pergi menemui anak-anak yang telah kau perkosa hingga mereka meregang nyawa" ucap Donal penuh amarah hingga matanya memerah.


Smith word terlihat mulai kehabisan nafas karena tubuhnya mulai menggeliat layaknya ulat yang berada di dalam air.


Wajahnya memerah seakan ingin meledak.


"Ampuni aku" ucap nya dengan dengan berbisik dan lirih.


"Tidak akan ku maafkan" ucap Donal sembari menusuk-nusuk perut Smith menggunakan pisau secara brutal dan bertubi-tubi.


Mulut Smith mengeluarkan darah bersama dengan mata dan juga telinganya.


"Maksudmu pemuda keren itu?" tanya Floki sembari menunjuk Donal.


"Yup kau benar dialah orangnya" jawab Harold dengan bangga.


"Seorang di level Grand master memilki ketahanan tubuh yang kuat meski di tusuk-tusuk seperti itu ia tak akan mati" ucap Cedric sembari menonton Donal yang kelihatan brutal karena seluruh tubuhnya telah di basahi oleh darah milik Smith.


"Kenapa bocah itu sangat emosional?" tanya ucap Daniels kebingungan sembari ia mengambil cincin emas dari prajurit awan hitam yang telah mati.


"Sudah cukup, dia telah mati" ucap Harold sembari memegang pundak Donal.


Donal melempar mayat Smith ke tanah.


"Maafkan aku" ucap Donal sembari melempar pisau yang sebelumnya di pakai menusuk Smith ke tanah.


"Truuuuuuum!" trompet kemenangan di bunyikan oleh Cedric membangkitkan semangat para prajurit semua prajurit berteriak gembira sembari mengangkat pedang mereka ke atas.


...****************...


Sementara itu di perjalanan Akin dan Elias menuju markas organisasi awan hitam.


Terlihat Akin tengah memantau sebuah tenda yang berada di kaki bukit, terdapat tiga tenda berukuran sedang di sana.


Akin memantau mereka di balik pohon di atas bukit.

__ADS_1


"Di antara ketiga tenda itu ada pintu masuk menuju markas organisasi awan hitam" ucap Akin sembari menunjuk ke arah tenda.


"Mungkin saja ketiga tenda itu juga merupakan pintu masuk" ucap Elias yang berada di belakang Akin.


"Bisa jadi, kita tunggu di sini dan memantau tenda mana yang paling sering di masuki oleh orang-orang itu" ucap Akin.


"Anda benar" ucap Elias sembari memperhatikan tempat itu dengan seksama.


Akin dan Elias memutuskan untuk bermalam di tempat itu tanpa membangun tenda atau membuat api.


"Komandan mengapa kita tak membuat api, kami akan mati kedinginan malam ini jika tidak menyalakan api" ucap salah seorang prajurit komplain kepada Akin yang tengah duduk sembari memakan daging dengan tatapan yang fokus ke tiga tenda sebelumnya.


"Peraturan pertama ikuti kata komandan tanpa bertanya alasannya" ucap Akin dengan tatapan fokus ke tiga tenda itu.


Mendengar hal tersebut prajurit itupun takut lalu menunduk"maafkan saya komandan" ucap prajurit itu dengan takut.


Prajurit itupun pergi.


Elias menatap prajurit tersebut dengan bingung saat ia berjalan ke tepat Akin membawa dua belas berisi air"mengapa dia ketakutan" gumam Elias.


"Komandan ini minum untukmu" ucap Elias sembari duduk di samping Akin dan menaruh satu gelas di sampingnya.


"Tenda di tengah telah di masuki oleh 257 orang yang masing-masing berada di level manusia tinggi, tenda kiri di masuki oleh orang di level warrior awal sedangkan di kanan di masuki oleh orang di level alite" ucap Akin sembari mengambil gelas kemudian meminumnya.


Elias fokus ke tiga tenda tersebut"bagaimana bisa komandan melihat tingkat kekuatan orang dari jarak yang sangat jauh, kurang tenda itu berjarak 1,5 hektar" gumam Elias kagum.


"Saat tengah malam kita akan masuk ke sana dengan mengendap-endap" ucap Akin.


"Siap komandan" jawab Elias.


"Hanya kita berdua" ucap Akin.


Elias tersenyum"tentu saja komandan" jawab Elias dengan percaya diri.


"Pasukan yang mulia Alex tak boleh takut, meski yang di lawan adalah raja atau kaisar sekalipun jika di perintahkan oleh atasan maka harus di lakukan" ucap Akin.


"Bagaimana dengan orang tua kita?" tanya Elias.


"Maka kau harus membunuh pemimpin mu" jawab Akin.


Elias terdiam lalu menunduk.


"Kau boleh berani dengan dunia tapi jangan pernah berani dengan orang tua mu" ucap Akin sembari menepuk pundak Elias.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2