
"Dia menipuku" ucap ayah sembari mengusap darah di pipinya.
"Semuanya mundur..!" teriak om Hendra memerintahkan para prajurit untuk mundur.
"Dasar mahkluk rendahan, kalian tertipu dengan ceritaku" ucap Bereus sembari terbang perlahan.
"Stup..!"
Wajah Bereus di tinju oleh ayah hingga terjatuh.
"Aku tidak suka dengan seorang pembohong" ucap ayah sembari terbang meluncur ke arah Bereus yang terpental jatuh ke bawah.
"Stap...!"
Bereus menangkap tangan ayah kemudian menariknya mendekat terlihat gigi Bereus memanjang dan ia menganga seolah ingin memakan kepala ayah.
Ayah terlihat tak mampu untuk melawan ia diam seakan pasrah.
Seketika Deviatan muncul di samping mereka kemudian memegang kepala Bereus lalu membantingnya ke belakang.
"Duar..!" suara tanah yang hancur akibat tubuh Bereus yang terlalu keras menghantam tanah hingga membuat lubang yang cukup besar dan dalam.
Deviatan bersiap memukul Bereus dengan kekuatan yang besar.
"Berhenti" ucap Faisal yang tiba-tiba muncul di samping lubang.
Seketika Deviatan berhenti lalu menarik nafas panjang.
"Uhuk..!" Bereus muntah darah.
Perlahan ia menoleh ke Faisal kemudian tersenyum dengan wajah yang telah hancur.
Faisal membalas senyuman Bereus namun seketika senyuman itu berubah menjadi tatapan yang begitu mengerikan hingga membuat Bereus menangis darah saat melihatnya.
Bereus berteriak meminta tolong saat Faisal melangkah ke arahnya ia kelihatan benar-benar ketakutan.
...****************...
Beberapa saat kemudian.
Terlihat Faisal tengah menyalakan rokok sembari duduk di kursi di temani oleh ayah dan Deviatan.
Terlihat tangan Faisal berlumuran darah.
"Deviatan periksa isi portal, jika kau menemukan sesuatu yang menarik beritahu aku" ucap Faisal.
"Siap yang mulia" jawab Devia.
"Apa yang telah kau temukan sejauh ini Faisal, setelah kau mengasingkan diri selama beberapa hari?" tanya ayah.
"Aku dapat memindahkan kita semua ke dunia yang lain" jawab Faisal.
"Dunia apa itu?" tanya ayah.
__ADS_1
"Dunia di mana tak ada teknologi elektronik dan sebagainya, dunia di mana banyak sekali monster seperti yang berada di dalam dalam portal" jawab Faisal.
"Jika begitu lantas mengapa kita harus pindah dunia sedangkan bumi tidak lebih buruk dari dunia itu" ucap ayah.
"Di dunia itu ada banyak master kuat seperti kakek sen yang mampu melindungi manusia dari para monster dan juga iblis, bumi akan hancur kita tak akan bisa tinggal lama di bumi dimensi semakin kacau jika kita masih menunda maka kita akan mati" jawab Faisal dengan tegas.
"Apakah kau dapat menjamin keselamatan ratusan juta manusia?" tanya ayah dengan wajah serius.
"Aku tak akan mengambil keputusan dengan tergesa-gesa aku akan menjamin mereka hidup dengan aman" jawab Faisal.
Ayah tersenyum kemudian tertawa"kau telah dewasa Faisal" ucap ayah sembari berdiri.
"Aku akan membicarakan ini kepada presiden dan juga para petinggi lainya, tolong kau urus semua masalah ini ya" ucap ayah.
Faisal mengangguk kemudian ayah pergi.
...****************...
Di dalam portal di Singapura.
Deviatan masuk dengan perlahan.
Terlihat dunia yang penuh dengan pasir dan tanah liat dunia yang sangat panas dan juga gersang.
Deviatan memperhatikan sekeliling yang mana hanya ada gunung pasir saja, di dunia itu ada 2 matahari yang memiliki warna berbeda satu berwarna oren dan satu berwarna hitam.
Deviatan menatap kedua matahari itu.
Dengan perlahan Deviatan menatap ke arah datangnya tombak tersebut.
Terlihat seorang siluman ular tengah bergerak ke arah Deviatan sembari melempar tombak, terdapat puluhan sulaman ular yang bergerak dengan cepat ke arah Deviatan.
Deviatan melangkah bersamaan dengan itu seluruh siluman ular seketika musnah menjadi pasir.
"Dunia ini telah di ubah, aku tak dapat merasakan hukum dunia" gumam Deviatan sembari menatap sebuah istana pasir yang memancarkan aura iblis yang begitu pekat.
"Sepertinya istana itu adalah penyebab ini semua" gumam Deviatan.
...****************...
Sementara itu di cam pengungsian di Indonesia.
Terlihat Nicho dan Nabila tengah berjalan berdua di tengah kerumunan para warga yang tengah mengantri makan.
"Di sini sangat ramai, kita sudah lama tak bertemu apa kau tak merindukanku?" tanya Nabila.
"Aku"
"Ah mana mungkin kau rindu di sana pasti banyak wanita cantik dan **** di banding diriku mana mungkin kau mengingatku" ucap Nabila menyela Nicho saat ingin berbicara.
Nicho menarik nafas dalam.
"Memang benar ada banyak wanita cantik dan **** tetapi mereka tidak membuatku tertarik, aku pergi ke Amerika untuk belajar selain itu aku tidak memikirkannya" ucap Nicho.
__ADS_1
"Benarkah begitu..?, aku tak yakin kau adalah seorang lelaki sudah pasti kau akan memikirkan wanita" ucap Nabila.
"Bagaimana dengan sekolah mu?" tanya Nicho.
"Sial pelajaran yang di berikan sangatlah berbeda dengan yang ada di Indonesia, sangat sulit untuk menyesuaikannya tetapi berkat teman ku yang bernama Stevan semua menjadi lebih mudah" jawab Nabila.
"Apakah kau mengetahui di mana Faisal berada saat ini?" tanya Nicho.
"Dia kelihatan sangat sibuk bahkan aku belum bertemu dengannya semenjak ke Amerika, aku melihatnya saat di tv di mana perang sedang berlangsung. Ya sudah pasti dia sedang sibuk karena dirinya adalah seorang superhero" jawab Nabila.
Nicho terdiam memikirkan satu sosok yang terus mengganggunya akhir-akhir ini yaitu ayahnya.
"Aku tak lagi mendapatkan kabar tentang ayah maupun ibu semenjak aku pergi ke Amerika" gumam Nicho.
Seketika langkah Nicho berhenti sesaat ia melihat sebuah keluarga kecil yang tengah berkumpul di mana sang ayah tengah menggendong putri kecil dengan wajah yang gembira dan sang ibu tengah menyuapi putrinya tersebut.
Keluarga itu kelihatan sangat harmonis karena mereka terus tersenyum dan tertawa sembari bercanda.
Nicho berdiri sembari memegang dadanya tak kuasa ia menahan air mata.
"Nicho apa yang terjadi denganmu?" tanya Nabila dengan khawatir.
"Jadi selama ini yang menjadi masalah adalah aku" gumam Nicho sembari menunduk.
...****************...
Saat malam hari di atas bukit tak jauh dari cam pengungsian.
Terlihat Nicho dengan Nabila tengah duduk berdua sembari menatap pemandangan malam yang indah.
Nicho menghisap rokok sangat dalam.
"Uhuk uhuk"
"Bukanya kau tidak merokok" ucap Nabila sembari memberikan air serta mengelus punggung Nicho.
"Sebenarnya apa yang terjadi tadi, kau tiba-tiba menangis dan pergi?" tanya Nabila.
Nicho terdiam.
"Jika kau memiliki masalah kau bisa ceritakan kepadaku, aku jadi khawatir ketika kau menangis" ucap Nabila.
Sekali-lagi Nicho hanya diam.
Nabila tersenyum lalu memegang pipi Nicho mereka saling bertatapan.
Setang jantung mereka semakin cepat dan seirama perlahan-lahan mereka semakin mendekat.
Seolah terhipnotis mereka tak sadar jikalau bibir mereka semakin berdekatan, namun tiba-tiba Nicho berpaling dan memeluk Nabila sembari menangis Nabila terkejut ia tak menyangka akan hal itu.
...****************...
Bersambung..
__ADS_1