Teleport System

Teleport System
Episode 155 hari pernikahan


__ADS_3

Saat malam hari.


Di kamar yang telah di siapkan untuk Deviatan.


Terlihat ia duduk termenung menatap kekosongan malam yang gelap tanpa adanya bintang, angin berhembus sangat kencang membuat suasana begitu menegangkan.


Mata Deviatan berkaca-kaca seolah ia ingin menangis namun ada sesuatu yang mengganjal hatinya hingga ia terdiam.


"Aku yakin yang mulia menyadari keberadaan ku namun mengapa ia seakan tak peduli, apa rencana yang di buat oleh yang mulia" gumam Deviatan.


"Haruskah aku menemui beliau secara langsung, tapi aku merasa jika hal itu akan berdampak buruk lebih baik aku tetap diam meskipun rasanya begitu menyakitkan saat aku dapat melihat yang mulia namun aku tak dapat berinteraksi dengan nya" gumam Deviatan sembari ia beralih ke ranjang.


****************


Di kamar Faisal.


"Aku mulai meragukan keputusan ku, aku merasa jika pernikahan tak dapat di permainkan seperti ini, aku bahkan tak mengenali calon istriku aku hanya mengetahui namanya saja, apakah aku harus kabur" gumam Faisal sembari berjalan mengelilingi kamar dengan gelisah.


"Aku merasa sedang mengkhianati seseorang seolah aku sedang mengingkari janji yang ku buat dengan jiwa ku" gumam Faisal.


"Plak..!"


Faisal menampar wajahnya hingga merah.


"Apa yang kau pikirkan, aku harus menghilangkan segala perasaan tentang ini aku harus tetap fokus mencari celah untuk menculik putri Laksmi" gumam Faisal dengan wajah marah.


****************


Keesokan harinya.


Terlihat aula istana telah di penuhi oleh para tamu undangan yang telah bersiap dengan pakaian terbaik mereka tak hanya itu aksesoris yang menawan juga tak ketinggalan mereka kenakan.


Para tamu memanfaatkan acara ini untuk menjalin hubungan dengan pemimpin yang lain.


Dari banyaknya tamu undangan yang mengenakan pakaian mencolok hanya satu orang yang menjadi sorotan karena pakaiannya yang sederhana bahkan dapat di katakan tidak layak.


Pria itu adalah Deviatan yang mana ia tengah bersandar di pojok sembari menutup mata tak terlintas dipikiran untuk berkenalan atau menyapa para pemimpin yang ada di sana.


"Apakah kau tak mengambil kesempatan untuk memperluas koneksi kerajaanmu?" tanya pangeran Karsha yang tiba-tiba muncul di samping Deviatan.


"Ini adalah acara pernikahan yang sakral tak seharusnya aku mencampurinya dengan politik, mencari koneksi dapat di lakukan di lain hari" jawab Deviatan.

__ADS_1


Pangeran Raksha tertawa kecil"kau benar-benar orang yang sangat menarik, mari nikmati pesta ini dengan mengisinya secara bahagia dan gembira" ucap pangeran Karsha sembari mengambil dua gelas wine dari pelayan yang lewat kemudian memberikannya kepada Deviatan.


Deviatan membuka mata kemudian mengambil wine tersebut.


"Kau telah hidup berapa lama?" tanya pangeran Karsha.


"Aku telah hidup selama 4 tahun" jawab Deviatan.


Pangeran Karsha kebingungan"apa dia pikir aku bodoh, jiwa yang begitu pekat dan kuat yang mana memiliki kekuatan yang tak dapat ku ukur mengatakan jika ia baru berumur 4 tahun. Meskipun ada beberapa iblis yang masa pertumbuhannya cepat tapi dari jiwanya aku sudah tau" gumam pangeran Karsha.


"Sepertinya kau tak ingin memberitahukannya padaku" ucap pangeran Karsha.


"Terkadang rasa ingin tahu dapat membunuh seseorang, aku tak ingin mengotori nama tuanku hanya karena hal sepele" ucap Deviatan sembari menggoyangkan wine.


"Tuan?" gumam pangeran Karsha terlihat begitu terkejut.


"Bagaimana pengantin wanitanya?, aku tak merasakan auranya" ucap Deviatan.


"Saras kabur ia tak ada di kamarnya" ucap raja Darsa menggunakan telepati.


Pangeran Karsha terdiam lalu melirik ke arah Deviatan yang tengah meminum wine dengan santai.


"Apa yang kau lakukan dengan keponakanku!" ucap pangeran Karsha dengan tegas sembari mencengkram kerah baju milik Deviatan.


"Bukankah ini tidak sopan, kau menuduh tamu undangan" bisik Deviatan.


Seketika pangeran Karsha masuk ke dalam sebuah dunia yang sangat gelap bahkan tak ada cahaya sedikitpun.


Perlahan nyala api berwarna merah muncul di bawah kaki pangeran Karsha ia tak dapat bergerak terlihat dari tubuhnya yang gemetar hingga berkeringat.


Tak hanya sampai di situ perlahan muncul sesosok iblis bertubuh sangat besar duduk di depan pangeran Karsha, tubuh iblis itu sangat besar hingga membuat pangeran Karsha terlihat seperti butiran debu.


Air mata mengalir saat pangeran Karsha melihat sosok iblis tersebut.


Keadaan kembali normal pangeran Karsha kembali berada di aula istana.


Air mata masih mengalir deras dari matanya"usap air matamu jangan menjadi bayi" ucap Deviatan sembari melepas tangan pangeran Karsha di kerahnya.


"Aku hanya menunjukan wujud asliku kepadanya namun ia menjadi seperti itu, aku jadi rindu di masa aku masih memimpin neraka sebelum aku menghancurkan surga" gumam Deviatan sembari berjalan pergi meninggalkan pangeran Karsha yang mana ia masih berdiri dengan air mata yang masih mengalir.


...****************...

__ADS_1


Sementara itu di dalam hutan dekat kerajaan.


"Cepat cari keberadaannya jangan sampai dia lolos!" teriak pangeran Raksha memerintahkan para prajurit.


Terlihat hutan di penuhi oleh pasukan kerajaan Aloka yang tengah sibuk mencari putri Saras yang kabur.


"Sial aku tak seharusnya mengadakan sayembara ini, kami terlalu banyak memiliki musuh aku takut mereka memanfaatkan kejadian ini untuk mencelakai Saras" gumam pangeran Raksha dengan khawatir.


"Apa kau mendapatkan petunjuk?" tanya pangeran Barsha yang tiba-tiba muncul.


"Aku tak dapat menemukan apa-apa, aku curiga ada orang dalam yang membantu Saras untuk kabur" jawab pangeran Raksha.


"Tak ada yang mampu bersembunyi dari pandangan kita di daerah ini, sepertinya ada campur tangan dari para bajingan itu" ucap pangeran Barsha.


"Apakah kita harus pergi ke markas mereka?" tanya pangeran Raksha.


"Aku hanya menduga saja jika mereka ikut campur, lebih baik kita mencari di sekitar sini terlebih dahulu jangan mengambil keputusan yang gegabah" ucap pangeran Barsha.


"Dengan kekuatan kami saat ini aku yakin kami tak akan mampu menyusup ke markas organisasi pagoda surgawi, aku harus meminta bantuan kakak" gumam pangeran Raksha penuh khawatir.


...****************...


Di sebuah kamar penginapan di kota kerjaan Aloka.


Terlihat putri Saras tengah duduk di ranjang dengan wajah panik dan khawatir.


"Mengapa kau memilih untuk kabur?" tanya Deviatan yang tiba-tiba muncul di jendela.


"Siapa kau..!" ucap Saras sembari memegang berlatih di meja ia kelihatan sangat waspada dan sedikit takut.


"Aku tak merasakan hawa kehadirannya sama sekali" gumam putri Saras.


"Tunangan mu adalah seorang yang sangat hebat" ucap Deviatan.


"Dia adalah rakyat jelata yang beruntung mendapatkan berkah dari langit, atas dasar apa kau mengatakan jika Alex itu hebat" ucap putri Saras dengan emosi.


"Jika bukan karena kau adalah calon istri yang mulia aku pasti sudah menyiksamu hingga mati" gumam Deviatan.


"Tak ada yang tau identitas dari Alex bahkan dirinya sendiri juga tidak tau" ucap Deviatan.


...****************...

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2