
Terlihat dari kejauhan Nabila tengah berjalan ke arah pohon tempat Nicho duduk.
"Benar saja, Nicho duduk di pohon itu lagi" gumam Nabila sembari menatap Nicho yang tengah duduk sendiri di bawah pohon.
Nicho melirik ke arah Nabila"sebenarnya apa mau gadis ini" gumam Nicho kebingungan.
"Eh kau tau saat malam hari tanaman akan menyerap udara dan mengeluarkan karbondioksida proses ini dikenal sebagai respirasi jadi, cukup berbahaya jikalau kau duduk di bawah pohon saat malam hari dengan waktu yang lama bahkan dapat membunuhmu" ucap Nabila ketika datang.
Nicho diam mendengar.
"Kau sendirian?" tanya Nicho.
"Aku ke sini sendiri tapi aku tidur dengan ibuku" jawab Nabila sembari duduk di depan Nicho.
"Apa kau tidak takut?, jalan menuju pohon ini sangat gelap dan juga mengerikan" ucap Nicho.
"Untuk apa takut, kau saja berani kenapa aku tidak" jawab Nabila.
"Benar juga ya" ucap Nicho.
"Eh kau sendiri di sini apa, kau dengan orang tua mu?" tanya Nabila.
"Tidak aku tidak sendiri" jawab Nicho.
"Lalu kau di sini dengan siapa?" tanya Nabila.
"Aku bersama tuhan" jawab Nicho.
Nabila terdiam"apa orang tua mu sudah tiada?" tanya Nabila dengan segan.
"Tidak mereka baik-baik saja, hanya saja aku tinggal di kota ini sendirian untuk sekolah mereka ada di kota lain" jawab Nicho.
"Wah kau hebat, kota ini sangat besar dan menakutkan tapi kau berani tinggal di sini sendiri tanpa adanya orang tua. Kau sama beraninya dengan Faisal" ucap Nabila dengan kagum.
"Ah.. biasa saja" jawab Nicho tersipu malu.
"Di mana orang tua mu tinggal?" Nabila.
"Ayahku tinggal di Jakarta pusat sedangkan ibuku tinggal di Sumatra" jawab Nicho.
"Apa mereka berpisah?" tanya Nabila.
"Kau benar, mereka telah bercerai sejak aku masih umur 6 tahun" jawab Nicho.
"Pasti kau menjalani kehidupan yang sangat sulit selama ini aku paham apa yang kau rasakan" ucap Nabila sembari tersenyum.
Nicho tersenyum"terimakasih" ucapnya.
"Kau paham apa yang ku rasakan" gumam Nicho sembari membayangkan kata-kata dari ibunya yang menyakitkan.
"Ibu dan ayahku juga tinggal di tempat yang berbeda namun, kedua orang tuaku tidak berpisah atau bercerai, ayah bekerja di luar kota yang mana membuatnya jarang pulang meski di hari besar seperti tahun baru dan lainya" ucap Nabila dengan raut sedih.
__ADS_1
"Kau harus kuat dan bersabar ayah mu sedang berjuang di luar sana" ucap Nicho menyemangati Nabila.
Nabila sedikit tersenyum dan tertawa"kamu lucu" ucap Nabila.
Nicho berdiri"Mau ku antar pulang.? ini sudah malam lebih baik kita bertemu besok pagi atau siang saja" ucap Nicho sembari mengulurkan tangannya.
Nabila tersenyum dan menyambut tangan Nicho lalu berdiri.
...****************...
Sementara itu di depan gua tempat kakek Sen berada.
"Eh Faisal sudah masuk hampir dua hari, apa dia baik-baik saja?" tanya Adrianto yang tengah duduk di dalam tenda yang terbuka lebar.
Kakek menghisap rokok lalu berkata"entahlah" kemudian ia lembut membaca buku di tangannya.
Adrianto menatap ayah yang tengah melakukan push up di atas batu, ayah membalas tatapan Adrianto kemudian berkata"aku juga tidak tahu" ucap ayah sembari terus melakukan push up.
Adrianto terlihat kesal lalu ia berbaring.
"Aku masih bingung mengapa ayah sering di panggil sebagai black death saat di asosiasi sedangkan apa yang ku lihat sehari-hari tak menggambarkan nama panggilan itu sama sekali" gumam Adrianto sembari menatap langit-langit tenda.
Kakek masuk ke dalam tenda"kau kenal siapa dia?" tanya kakek sembari memberikan selembar foto.
Adrianto bangun dan menerima foto tersebut.
"Hmmm.."
"Siapa pria tampan ini dia kelihatan sedikit mirip denganku" ucap Adrianto sembari memberikan foto tersebut kepada kakek yang tengah duduk di sampingnya.
"Itu adalah ayahmu saat masih muda" jawab kakek sembari menyimpan foto tersebut ke dompetnya.
"Apa..! itu ayah,' bagaimana bisa ia terlihat sangat tampan seperti itu" ucap Adrianto terkejut.
"Hei jangan remehkan ayahmu, ayah mu adalah superstar di sekolah aku sering mendengar cerita mengenainya" ucap kakek.
"Kek apa kau mengetahui cerita di balik nama black death?" tanya Adrianto.
"Oh..! nama besar ayah mu, memang dia tak pernah cerita?" ucap kakek.
"Aku pernah bertanya dan ia menjawab jikalau nama itu di dapat karena ia memiliki rudal hitam yang mematikan" jawab Adrianto.
"Duh ayahmu memang keterlaluan" ucap kakek menggelengkan kepala.
"Ayahmu bernama Bastian Delphi saat itu ia berumur 22 tahun, seorang perwira tangguh dan berbakat dari asosiasi, Bastian berasal dari keluarga bangsawan Delphi yang khusu bekerja sebagai pembunuh bayaran asosiasi" ucap kakek.
...****************...
Di sebuah jalan raya yang ramai akan pejalan kaki.
__ADS_1
Terlihat seorang pria tampan tengah berjalan sembari merokok, wajahnya menjadi sorotan setiap pejalan kaki hingga membuat mereka gagal fokus bahkan ada yang terjatuh dan tertabrak pohon terutama para wanita.
Pria itu adalah Bastian, ia berjalan dengan percaya diri tatapan tajam ekspresinya datar.
"Aku harus pergi ke asosiasi untuk mendapatkan misi" gumam Bastian sembari melirik ke beberapa pengendara motor yang tak menggunakan helem.
Bastian berhenti sejenak di tengah jalan untuk menyalakan rokok.
"Brak...!" seorang wanita terjatuh karena menabrak tubuh Bastian.
Bastian terdiam menatap wanita tersebut yang tengah kesakitan memegangi kepalanya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Bastian sembari mengulurkan tangannya.
"Plak..!" tangan Bastian di pukul.
"Coba jangan berhenti di tengah jalan, kau menghalangi orang yang sedang berjalan..!" teriak wanita itu dengan keras penuh emosi sembari ia berdiri.
Bastian terdiam dengan tangan yang masih menghadap bawah.
"Dasar bajingan mesum..!" teriak wanita itu kemudian ia pergi dengan kesal.
"Aneh" gumam Bastian sembari menyalakan roko dengan mata terus tertuju pada wanita itu.
"Kriing..!" telpon Bastian berbunyi.
"Halo ada apa?" tanya Bastian setelah mengangkat telpon dari hp Nokia jadul.
"Target ada di kordinasi, kerjakan dalam waktu 2 jam jika selesai akan di beri bayaran sebanyak 10 juta" ucap seorang pria dari telpon.
"Anggap saja beres" ucap Bastian sembari mematikan telpon.
Seketika Bastian menghilang tanpa jejak.
...****************...
Di sebuah hutan yang lebat lebih tepatnya di tengah hutan terlihat sebuah cam yang di bangun dengan tenda terpal.
Terlihat pula puluhan pria tengah berdiri memutari sekelompok anak-anak yang di ikat dan di buat duduk berkumpul.
Anak-anak itu menangis ketakutan meminta ampun dan tolong, para pria hanya diam dan juga beberapa sedang mengobrol.
Setiap orang memegang senjata api.
"Tolong..! ampun.. tolong"
Teriak para bocah meminta ampun dengan keras dan memelas.
...****************...
Bersambung...
__ADS_1