Teleport System

Teleport System
Episode 88 menyergap


__ADS_3

Elias diam termenung.


"Dunia akan berpaling darimu saat kau berada di bawah sedangkan orang tuamu tidak" ucap Akin.


"Aku memiliki seorang ayah" ucap Elias.


"Terus?, kau pikir aku lahir dari batu?" tanya Akin sembari menatap Elias dengan wajah datar.


"Bukan itu maksudku, aku terkadang bingung dengan sikap ayahku ia selalu berkata kasar padaku seolah ia tak menginginkan diriku, saat aku pergi ke kota salju ternyata ayah memberikan ku uang yang cukup banyak" ucap Elias.


"Sekarang aku bingung sebenarnya ayah menyayangiku atau tidak" ucap Elias.


Akin menepuk pundak Elias lalu merangkulnya"lelaki itu bukan tentang apa yang di katakan namun tentang yang di lakukan, lelaki tak pandai mengungkapkan isi hati, lelaki lebih sering menyimpannya sendiri lalu membiarkan hingga hilang secara perlahan" ucap Akin.


"Coba kau renungkan sekali-lagi kebaikan apa yang telah ayahmu lakukan untukmu, berhenti memikirkan ucapannya tapi kau pikirkan sikapnya" ucap Akin.


"Ayah selalu mengomel saat aku makan lebih banyak namun ia sering memberikan setengah makanannya kepadaku sembari berkata aku sudah kenyang makanlah dasar babi" ucap Elias.


"Ayah selalu menyuruhku untuk membantu di ladang namun ia tak pernah membiarkanku mengerjakan pekerjaan yang berat ia akan berkata, kau itu bodoh jangan merusak ladang ku pergilah ambilkan aku makanan dan juga benih di rumah" ucap Elias.


"Apa itu cukup untukmu mengubah pandangan terhadap ayahmu?" tanya Akin sembari berdiri.


"Ayahmu sering kali datang ke cam untuk menemui mu namun di tahan oleh penjaga, aku melihatnya sendiri ia berkata sangat merindukanmu" ucap Akin sembari meregangkan tubuhnya.


"Tunggu" ucap Elias sembari berdiri.


"Hentikan ocehan mu kita harus bergerak" ucap Akin.


"Siap" jawab Akin.


"Aku telah salah sangka kepada ayah" gumam Elias.


"Pasukan kalian jaga di depan tenda jika ada yang keluar bunuh saja tanpa melihat kelamin ataupun umur kecuali mereka seorang balita atau remaja tangkap saja mereka" ucap Akin sembari menunjuk ke arah beberapa prajurit yang tengah duduk bersantai.


"Siap..!" jawab prajurit tersebut sembari berdiri.


"Ingat ini adalah misi penyergapan, gunakan satu serangan untuk membunuh" ucap Akin sembari memberikan masker kepada Elias.


"Siap komandan" jawab Elias sembari memakai masker.


Merekapun pergi.


Tak perlu waktu lama seketika penjaga yang berada di depan tenda telah mati seakan terkena racun.


"Elias memilki kecepatan yang mengerikan ia bahkan dapat mengikuti kecepatan ku dalam membunuh" gumam Akin sembari membunuh para penjaga yang berada di lorong.


Akin bertugas memberi serangan fatal sedangkan Elias memastikan musuh yang terkena serangan Akin benar-benar mati.


Beberapa saat kemudian.

__ADS_1


Tiba-tiba Akin berhenti di dekat sebuah pintu yang tertutup.


"Ada apa komandan?" tanya Elias.


"Di dalam sana ada banyak musuh" jawab Akin sembari berjalan perlahan ke arah pintu.


"Hola helo belo" terdengar nyanyian aneh dari dalam pintu tersebut.


Seketika pintu terbuka.


Terlihat sebuah ruangan berwarna merah darah, ruangan itu di penuhi oleh ribuan orang yang mengenakan pakaian serba hitam dengan topeng berwarna merah.


Selain itu terlihat pula sebuah altar di ujung ruangan, ada beberapa orang yang mengenakan pakaian putih tengah memegangi seorang bayi secara terbalik.


Elias tiba-tiba melotot ke arah altar tersebut.


"Sialan..!" teriak Elias sembari melesat dengan cepat ke altar tersebut.


"Bocah ini" ucap Akin sembari membunuh dua orang yang membuka pintu sebelumnya.


"Stang..!" serangan Elias yang di tahan oleh seorang pria besar.


Elias terpental ke tanah.


"Dia kuat" ucap Akin sembari menatap orang yang memukulnya serta ia berusaha untuk berdiri.


Pria besar sebelumnya melompat ke arah Elias.


"Duask..!" tanah di bawah Elias retak hingga membuat kakinya masuk ke dalam.


"Stup..!" kepala Elias di pukul hingga ia terpental.


"Apa ini akhirnya hayat ku?" gumam Elias sembari menatap orang-orang berjubah saat ia melayang, pandangannya mulai kabur.


"Dask..!" Elias terpental hingga ke dinding dan membuatnya berlubang.


Eliaspun tak sadarkan diri.


"Elias...!" teriak Akin sembari menebas musuh di hadapannya.


"Aku salah strategi, kami akan mati di sini" gumam Akin dengan panik.


Dalam sekejap Akin telah di kepung oleh prajurit musuh yang sekuat pria besar tadi.


Terlihat pria besar menerjang Elias lalu memukuli wajahnya tanpa ampun hingga membuat dinding di sekitar basah dengan darah.


Elias tak sadarkan diri.


"Elias...!" teriak Akin sembari mengeluarkan aura yang terbakar membuat prajurit di sekelilingnya menjadi abu.

__ADS_1


Akin seakan tak sadarkan diri matanya memutih ja berjalan dengan dengan tatapan kosong serta ekspresi datar.


Semua prajurit musuh yang menyentuh sedikit saja api yang di keluarkan Akin akan mati menjadi abu.


Tiba-tiba Elias melayang, tubuhnya di penuhi oleh cahaya putih yang menyilaukan mata.


Akin terus berjalan dengan perlahan ke arah Elias yang tengah mendapat sebuah pencerahan.


...****************...


Sementara itu di kota Dristia.


Terlihat Harold tengah duduk di meja makan sendirian.


Tiba-tiba ia tersenyum"akhirnya Akin membangkitkan hati membaranya" gumam Harold.


"Kesulitan apa yang ia alami sekarang?, sepertinya sangat sulit, andai saja aku berada di sampingnya" gumam Harold


"Black" pintu di buka oleh Donal.


"Bagaimana dengan keadaan kota Dirta?" tanya Harold.


"Kota Dirta telah berhasil kita ambil alih, kota tersebut dapat menghasilkan 250 ribu koin emas dalam enam bulan, seluruh pemimpin yang menolak telah kami singkirkan" ucap Donal sembari berjalan mendekati Harold.


"Baiklah selain itu apa ada lagi?" tanya Harold.


"Jenderal bagaimana dengan pemindahan pasukan dan juga peremesmia nya?" tanya Donal.


"Untuk itu kita tunggu keputusan dari yang mulia, lebih baik kita mengatur rencana untuk mengambil alih kota berikutnya" ucap Harold.


"Tunggu jenderal bukannya yang mulia telah berkata dengan jelas jikalau kita di perintahkan hanya mengambil kota Dirta saja?" tanya Donal.


"Yang mulia ingin lebih dan sudah tanggung jawabku untuk mengabulkan permintaan yang mulia" kawan Harold.


"Jadi kota apa yang akan kita serang?" tanya Donal.


"Kota yang memiliki pelabuhan" jawab Harold.


"Apa yang anda pikir adakah kota Kerapus?" tanya Donal.


"Benar itu yang ku mau" jawab Harold.


"Mengapa anda memilih kota ini?" tanya Donal.


"Kota Kerapus memiliki pelabuhan yang mana mempermudah perjalanan ketika ingin pergi ke suatu tempat yang jauh, selain itu juga tempat itu menjadi penghasil ikan paling baik di kerajaan ini" kawan Harold.


"Apa hanya itu?" tanya Donal sembari ia mengambil sebuah peta.


"Selain itu yang mulia pernah mengatakan ingin memiliki rumah di samping sungai agar ia dapat melihat matahari terbit dan terbenam serta pemandangan yang indah" ucap Harold sembari memperhatikan peta tersebut.

__ADS_1


...****************...


Bersambung..


__ADS_2