
Sementara itu di tengah hutan yang lebat dan gelap.
"Srap.. srap.. " pangeran Ejan berjalan menelusuri hutan yang penuh akan semak belukar.
"Menurut catatan kuno ada seorang dewa yang tinggal di dalam hutan ini" ucap pangeran Ejan sembari membaca sebuah catatan kuno.
Pangeran Ejan terus berjalan hingga ia berhenti ketika bertemu sebuah batu besar yang tertanam ke dalam bukit.
Pangeran Ejaan menutup buku dan menyimpannya kemudian ia bersiap untuk mengeluarkan sebuah pukulan ia mengumpulkan aura di sekeliling kepalan tangannya hingga membentuk sebuah lingkaran aura berwarna emas.
Secara bersamaan Ejan melepas pukulan dan berteriak"Hiaaak"
"Bussst" batu besar itu hancur menjadi kepingan debu yang sangat halus teksturnya menjadi seperti butiran tepung.
Terlihat sebuah goa yang gelap dari bekas batu yang hancur tersebut"aku menemukannya" ucap pangeran Ejaan sembari tersenyum.
Tanpa ragu pangeran Ejan berjalan masuk ke dalam goa tersebut, ia kelihatan benar-benar yakin dengan apa yang ia putuskan.
Pangeran Ejan merupakan keturunan dari salah satu kaisar yang pada zaman kekacauan kaisar tersebut menjadi kaki tangan para dewa dan ia menjadi seorang apostle, bukan tanpa alasan mengapa pangeran Ejan mendapatkan sebuah catatan yang mengatakan jikalau masih ada dewa yang tertinggal di dunia bawah karena tersegel.
Ejan sangat berambisi untuk mengambil kembali kekasihnya meskipun ada sedikit bisikan yang mengganggu pikirannya, ia mengetahui jikalau kekuatan seluruh pasukan Kekaisarannya tak akan mampu melawan kerajaan Aloka karena keberadaan raja Darsa sudah menjadi ancaman yang tak dapat di atasi oleh organisasi pagoda surgawi.
Semakin lama pangeran Ejan berjalan ia semakin meragukan keputusan yang telah ia buat ia merasakan sebuah aura yang begitu menusuk dan mengerikan dari dalam goa tersebur, sesekali pangeran Ejan berhenti untuk menguatkan keyakinannya kemudian ia maju berjalan lagi.
Lama ia berjalan namun ujung dari goa itu tak kunjung terlihat hampir putus asa ia duduk bersemedi untuk menenangkan mentalnya yang mulai terganggu.
"Terus berjalan" bisikan yang seketika muncul sesaat pangeran Ejan bersemedi.
Pangeran Ejan seketika bangun dan menganggap jikalau suara itu adalah pertanda untuknya tetap maju, kini semangat di dalam dadanya mulai terbakar lagi ia berlari sekuat tenaga menuju arah depan hingga ia mampu melihat sebuah cahaya merah yang seketika membuatnya senang karena harapannya tak sia-sia.
__ADS_1
Namun, sesaat ia sampai di ujung ruangan ia terkejut melihat isi ruangan tersebut yang terlihat begitu mengerikan di susul oleh bau bangkai yang langsung menusuk hidungnya sontak membuatnya muntah.
Ia melihat lantai yang berwarna merah akiat darah serta terlihat pula beberapa gumpalan yang kelihatan seperti daging yang hancur.
"Kemarilah aku akan membantumu" bisikan itu kembali yang seketika membuat pageran Ejan menjadi begitu berani, ia berdiri tegap dan menatap ke arah tengah ruangan yang mana di sana terdapat sebuah bola kulit yang memiliki bentuk begitu menjijikkan.
Bola itu berkedut seolah seperti jantung yang berdetak, bola tersebut di penuhi oleh sebuah tulisan aneh yang menyala seolah membakar bola tersebut.
"Pukul bola itu sekuat tenaga yang kau miliki" bisikan itu kembali lagi dengan suara yang lebih jelas dan terasa dekat.
Tanpa menunggu pangeran Ejan segera mengeluarkan serangan sama seperti yang ia lakukan di mulut goa namun, kali ini berbeda ia menggunakan kekuatan yang lebih kuat di banding sebelumnya.
"Aku menggunakan kekuatan full yang bahkan ayahanda tak pernah melihatnya" gumam pageran Ejan sesaat ia sebelum melepaskan serangan yang dashyat itu.
"Duaks.. !" serangan itu melesat seolah menjadi seperti kame Kamehameha milik goku yang terlihat begitu kuat.
Serangan itu mampu membinasakan bola tersebut hingga tak menyisakan apapaun sesaat bola itu hancur kekuatan yang di luncurkan oleh Pangeran Ejan seketika di serap oleh sebuah entitas yang tidak di ketahui tak hanya serangan itu kekuatan Ejan juga tertarik masuk ke dslamnya.
Sosok itu memiliki tubuh yang gagah dengan memakai jubah yang menutupi segalanya bahkan wajahnya tak terlihat, di belakang punggungnya terdapat sebuah sayap burung berwarna hitam.
"Bersujudlah di hadapan primordial terkuat azazel!" ucap mahkluk tersebut dengan suara yang teringat sedang bahagia dengan nada yang tinggi bercampur tawa.
...****************...
Tiga bulan berlalu Faisal telah berhasil menguasai ketnik rahasia milik raja Darsa, kemampuannya menuai pujian dari raja Darsa dan juga saudara-saudaranya.
Setelah tiga bulan berlalu mulai bermunculan kasus mengenai pembatantai suatu kota yang di lakukan oleh sosok misterius, berita ini cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia hingga membuat seluruh pemimpin di dunia mengantisipasi hal tersebut dengan cara memperketat penjagaan setiap kota.
Organisasi pagoda surgawi mulai melakukan penyelidikan yang menyatakan sebuah fakta jikalau semua korban yang mati memiliki ciri fisik yang sama yaitu mereka menjadi seperti mumi kering yang di hisap hingga mati.
__ADS_1
...****************...
"Kau telah mendengar berita itu, Raksha?" tanya raja Darsa, ia duduk di singgasana sembari memegang sebuah kertas yang terlihat seperti koran.
"Barsha dan Karsha juga menemukan beberapa jejak yang memperkuat dugaan mu kak" jawab pangeran Raksha yang mana ia tengah membersihkan pedangnya sembari ia duduk di tangga tepat di bawah singgasana raja Darsa.
"Sepertinya zaman kedamaian akan segera berakhir, seorang dewa telah bangkit aku takut kita tak akan mampu melawannya seperti dulu. Andai saja sahabatku masih hidup" ucap raja Darsa sembari berdiri dan berjalan turun dari singgasana miliknya.
(Primordial merupakan para makhluk yang telah hidup sebelum adanya dunia kedudukan mereka berada di atas dewa yang mana para dewa tersebut merupakan salah satu bentuk ciptaan para primordial tersebut.)
(Semua narasi yang berada di novel ini hanya FANTASI, misalkan ada yang berbeda pendapat saya meminta maaf terlebih dahulu.)
Terlihat Faisal masuk ke dalam aula.
"Ada apa menantuku hingga kau datang menemui kami di saat seperti ini" ucap pangeran Raksha.
"Kota bulok telah di serang oleh mahkluk yang aneh saat ini kota telah hancur setengah, mereka meminta bantuan kita" jawab Faisal tanpa berbasa-basi.
"Sialan..!" teriak raja Darsa seketika sebelum ia menghilang.
Dengan sigap pangeran Raksha berdiri dan meniupkan sebuah terompet yang terbuat dari tanduk sapi purba yang mana suara yang di hasilkan sangat keras hingga seluruh kerajaan dapat mendengarnya.
15 orang panglima perang seketika muncul berlutut di hadapan pangeran Raksha.
"Bawa seluruh pasukan ke kota Bulok" ucap pangeran Raksha seketika sebelum ia menghilang.
Bersamaan dengan itu 15 panglima itu juga ikut menghilang bersama dengan pangeran Raksha.
Tak menunggu lama Faisal juga mengikuti mereka.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...