Teleport System

Teleport System
Episode 142 akhir


__ADS_3

"Tank" Deviatan menangkis sebuah pedang yang melesat ke arah Faisal.


Melihat hal itu semua orang menoleh ke arah belakang dan atas di mana sudah di kepung oleh monster yang berguru banyak.


Dengan panik semua orang berlari masuk ke dalam portal tanpa memperdulikan konsekuensi tanpa mengetahui apa-apa mengenai portal tersebut.


Dengan samar terlihat sebuah lahan kosong di balik portal tersebut seolah sedang melihat jendela.


"Huk..!" Faisal batuk darah.


"Kalian tahan para monster selagi semua orang masuk ke dalam portal" ucap Faisal dengan nada lemah seakan sedang tertekan.


"Utamakan para perempuan dan juga anak-anak untuk masuk ke dalam portal, laki-laki yang memiliki nyali kalian harus bertahan..!" teriak Deviatan sembari menarik pedangnya dengan emosi yang meluap-luap penuh dengan amarah.


Berbeda dengan keluarga Faisal mereka bergegas untuk berkumpul melindungi Faisal.


Ibu langsung memeluk Faisal bersama adik-adiknya.


"Bajingan bagaimana mereka bisa masuk ke dalam" ucap Lioan sembari menebas tubuh para monster.


"sepertinya ada pengkhianat di antara kita" ucap Lion sembari meluncurkan serangan yang langsung membinasakan satu baris musuh.


"Kita harus menjaga pintu portal agar tetap tertib jangan sampai ada yang terbunuh karena terinjak-injak oleh orang-orang yang panik" ucap Lioan.


"Santai saja itu tugasku" jawab Lioin.


Keadaan semakin kacau ketika para monster mulai berdatangan dari segala penjuru seperti angin yang berhembus.


Faisal tak mampu untuk membantu karena ia sedang berusaha mempertahankan portal agar tetap menyala hingga semua orang masuk.


Ia harus menjaga fokus bahkan ia tak mampu membalas pertanyaan ibu yang kelihatan benar-benar khawatir hingga tak berhenti menangis.

__ADS_1


Tak sedikit orang-orang yang mati karena kecerobohan mereka sendiri di mana mereka berlari menjauh dari portal.


Semakin lama keadaan semakin menjadi monster tak berhenti untuk datang seolah seluruh dunia telah di penuhi oleh monster yang bersiap untuk memangsa para manusia yang tersisa di tempat pengungsian.


Seluruh pejuang telah berusaha sekuat tenaga mereka keringat bercucuran layaknya hujan.


Selam dua jam kekacauan ini terjadi tanpa henti hinga pada akhirnya hanya tersisa orang-orang dekat Faisal seperti ibu, ayah, Adrianto, kedua adiknya, kakek Pur, kakek sen, dan yang lainya termasuk bawahan Faisal dan juga Nicho.


"Kenapa kalian tak masuk?" tanya Faisal kepada ibu dan kedua adiknya yang sejak tadi tak berhenti memeluk Faisal.


"Kau harus masuk bersama kami" ucap ayah yang melindungi punggung Faisal bersama yang lainya.


"Kita adalah keluarga kita harus selalu bersama" ucap Adrianto.


"Deviatan, tak ada pilihan lain kau bawa seluruh keluargaku dan masuk aku akan menyusul, Lucifer dan bawahannya akan membantuku" ucap Faisal menggunakan telepati.


Sembari menahan serangan musuh Deviatan menatap Faisal.


Mendengar hal itu Lion mengangguk.


Tanpa aba-aba Deviatan serta seluruh bawahan Faisal menarik keluarga Handoko serta orang-orang terdekat Faisal untuk masuk ke dalam portal.


Dengan mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan jutaan monster tengah berlari dengan girang menuju ke arah Faisal yang tak berdaya.


Marah?, kesal?, sudah pasti mereka rasakan saat menyaksikan orang yang mereka sayangi akan mati dengan cara yang begitu tragis.


Waktu berjalan sangat lambat.


Dengan perlahan Faisal tersenyum ke arah keluarganya.


"Faisal ibu minta maaf, tak seharusnya kau merasakan ini semua ibu benar-benar meminta maaf" batin ibu.

__ADS_1


"Nak kau sudah tumbuh dewasa ayah selalu mendukung langkahmu kecuali yang satu ini, tuhan begitu kejam hingga mempertontonkan kematian tragis untuk putra ayah" batin ayah tak kuasa menahan tangis sembari ia memukul pundak Lioan dengan keras.


"Bedebah sialan kau selalu mengambil langkah yang tidak bisa di tebak oleh orang lain. Kau benar-benar membuat hati ku terasa sakit hingga aku ingin mati" batin Adrianto.


"Jangan tinggalkan aku" teriak Nadia sangat keras sesaat sebelum ia memasuki portal.


...****************...


Di dalam portal.


Terlihat semua orang terjatuh sesaat masuk ke dalam portal.


Seketika ibu bangkit dan berlari menuju portal dengan rasa khawatir ibu berlari sangat kencang berharap Faisal dapat di selamatkan.


Namun sayang portal tersebut tiba-tiba mengeras seperti kaca jendela yang hanya dapat memberikan pemandangan di balik jendela tersebut.


Terlihat dengan kabur Faisal duduk.


Tak ingin kalah ayah dan Adrianto ikut berlari menghampiri ibu yang kelihatan sangat frustasi di mana ia terus memukul portal tanpa memperdulikan tangannya yang terluka.


Dari balik portal terlihat jelas Faisal tersenyum sesaat sebelum kepalanya terpenggal kemudian menggelinding.


Semua orang terdiam termasuk ibu.


Portal perlahan menghilang.


Ibu menatap ke arah depan dengan tatapan kosong seakan tak percaya dengan apa yang sedang ia lihat dengan tangan gemetar ayah memeluk ibu yang kelihatan benar-benar syok.


"Faisal" bisik ibu sesat sebelum ia jatuh pingsan.


...****************...

__ADS_1


Tiga tahun kemudian.


__ADS_2