Teleport System

Teleport System
Episode 116 tak di sangka


__ADS_3

"Semoga semuanya akan baik-baik saja, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi" gumam Cedric sembari menatap Harold sembari ia mengelus dada.


...****************...


"Segel petir ilahi" teriak Roberto sembari ia melempar kertas mantra ke arah Guang Ling yang tengah berdiri sembari tersenyum memandang Roberto.


Kertas itupun menempel di kepala Guang Ling, ia tak bereaksi apapun ia hanya tersenyum.


Tiba-tiba muncul sebuah petir yang begitu besar berwarna hitam menyambar Guang ling.


"Duar..!"


Ledakan yang begitu besar di hasilkan dari kekuatan petir tersebut hingga membuat pepohonan di sekelilingnya roboh secara bersamaan tak hanya itu lubang yang begitu besar dan dalam tercipta tepat di tempat Guang Ling berada.


Tiba-tiba Roberto terjatuh.


"Aku kehabisan energi" gumam Roberto sesaat setelah ia jatuh.


Perlahan armor yang terbuat dari petir menghilang dan rambutnya berubah menjadi putih.


"Aku telah melakukan yang terbaik" gumam nya sembari menatap langit.


"Tap.. tap..." suara langkah kaki yang kuat dari dalam lubang yang di kepung oleh asap.


Perlahan Guang Ling keluar dari lubang dengan tubuh yang telah hancur bahkan setengah kepalanya telah pecah, ia berjalan dengan senyum lebar ke arah Roberto.


"Sekarang sudah saatnya aku mengambil berkah yang telah kau jaga selama ini" ucapnya sembari mengangkat tubuh Roberto dengan kekuatannya.


Perlahan tubuh Roberto mengering akibat ulah Guang Ling, Roberto kelihatan pasrah ia tak dapat bergerak ia hanya diam menatap langit mendung.


"Inilah akhir dari segalanya, aku di sebut sebagai jenius namun sekarang semua itu akan berakhir" gumam Roberto.


"Andai waktu dapat di putar kembali aku ingin kembali ke masa lalu di mana hubungan kami masih baik" gumam Roberto.


...****************...


39 tahun yang lalu di istana kekaisaran Terrasen.


"Adik jangan berlari kau akan jatuh" teriak seorang pemuda yang tak lain adalah kaisar Alfonso saat ia masih muda.


"Kak Alfonso cepat tangkap aku, jangan jadi pecundang kau sangat lambat" teriak seorang balita yang tak lain adalah Roberto ketika ia masih kecil.


"Aku menangkap mu" ucap Baldan yang tiba-tiba muncul kemudian memeluk Roberto.


"Aaa tidak aku tak mau di sentuh oleh om kumis" ucap Roberto sembari ia meronta agar di lepaskan.


Alfonso dan Baldan merupakan saudara yang lahir dari ibu yang sama, mereka di kenal sebagai cahaya dan kegelapan Baldan yang memiliki bakat tak jauh berbeda dengan kakaknya memiliki menjadi bayangan untuk kakanya dan memilih untuk mengubur mimpi mengambil tahta.


Suatu ketika ayah dari Alfonso dan Baldan pulang membawa seorang wanita yang di jadikan selir olehnya, hal tersebut membuat kecemburuan yang begitu besar dari permaisuri membuat ia mencoba untuk membunuh selir tersebut berkali-kali namun semua usahanya gagal.


Saat Roberto berumur 4 tahun.


Ibu Roberto meninggal dengan alasan yang tidak di ketahui.

__ADS_1


Hari itu istana kekaisaran di selimuti oleh kesedihan akibat kepergian seorang wanita baik hati yang sangat di cintai oleh semua orang yaitu ibu Roberto.


Di aula istana.


"Ibu kenapa kau tidur di sini, ada banyak orang ayo kita pergi ke kamar" ucap Roberto sembari memegang tangan ibunya yang terbaring kaku di dalam peti.


Semua hadirin tak kuasa menahan tangis melihat tingkah Roberto.


Terlihat kaisar hanya duduk dan menatap Roberto.


Sejak saat itu sikap semua orang di istana berubah semua orang mengacuhkan keberadaan Roberto termasuk ayahnya dan juga saudaranya.


Suatu ketika.


Terlihat Alfonso tengah berlatih.


"Kak ayo main dengan ku" ucap Roberto sembari berjalan mendekati kakanya.


Tiba-tiba Alfonso menendang Roberto hingga terpental"pergilah berlatih" ucapnya sembari berjalan meninggalkan Roberto yang terbaring kesakitan.


Tak ada yang menolongnya ia terbaring kesakitan sembari menangis.


"Kesalahan apa yang ku lakukan hingga semua orang bersikap seperti ini kepadaku" gumam Roberto sembari ia membayangkan wajah ibunya.


Karena tak pendapat perhatian oleh anggota kekaisaran Roberto pun sering keluar istana untuk pergi ke kota dan berbaur dengan rakyat jelata dan rakyat miskin.


Di sana ia di terima dan di perlakukan dengan baik oleh para warga dan ia menjadikan para rakyat jelata sebagai keluarganya.


Hidup dengan tekanan yang besar Roberto berlatih sekuat tenaga hingga ia dapat mencapai ranahnya sekarang.


...****************...


Teknik penghisap Guang Ling hancur mengakibatkan ia muntah darah.


"Sial organ dalam ku terluka" gumam Guang Ling sembari ia memegangi jantungnya.


"Aku tak peduli apapun yang terjadi denganku, aku harus menang demi mereka" ucap Roberto sembari ia membakar esensi darahnya.


Kekuatannya meluap hingga membuat Guang Ling tertekan, tak membuang waktu Roberto segera mengakhiri pertarungan dengan serangan pamungkas miliknya.


"Tebasan amarah dewa..!" teriak Roberto sembari menebas Guang Ling.


Tebasanya membuat bayangan pedang yang begitu besar dan kuat dengan tiga unsur kekuatan di dalamnya yaitu petir, es, dan juga air.


Terlihat kaisar Alfonso, Baldan, dan yang lainya tiba di sana mereka terkejut melihat bayangan pedang yang begitu besar menghantam Guang Ling dan membinasakannya.


Selain itu tebasan itu membuat sebuah garis besar dan dalam sepanjang ratusan kilo ke arah benua utama.


Melihat Guang Ling telah musnah Roberto tersenyum lega sebelum ia jatuh.


Dengan sigap kaisar Alfonso menangkap adiknya dan membawanya ke tempat yang aman.


"Oh itu kau kak" ucapnya dengan nafas yang lemah.

__ADS_1


"Aku telah kehilangan hampir semua indra ku saat ini aku hanya bisa berbicara" ucapnya.


"Sepertinya ini sudah menjadi akhir bagiku"


"Apa yang kau katakan..! aku akan menyelamatkan mu" ucap kaisar Alfonso dengan panik serta air mata yang mengalir deras dari air matanya.


"Adik jangan katakan itu kami akan menyelamatkan mu" ucap Baldan sembari memegang tangan Roberto serta ia menangis.


"Kak Alfonso, kak Baldan aku benar-benar berterimakasih atas masa-masa indah dulu saat kita masih sering bermain bersama, aku tak pernah membenci kalian atas sikap kasar kalian selama ini aku benar-benar menyayangi kalian" ucap Roberto.


Seketika Alfonso memeluk adiknya dengan erat dan ia berteriak"Aaaaa.... ini semua salahku"


Melihat kejadian itu kaisar Thor kelihatan sedih, ia menancapkan senjatanya ke tanah lalu berlutut di ikuti oleh yang lainya.


"Aku tak mengira seorang tirani sepertinya dapat menangis seperti ini" gumam Harold.


"Bertahanlah aku akan pergi mencari tabib suci untuk menyelamatkan mu" ucap kaisar Alfonso sembari ia berdiri di ikuti oleh Baldan.


"Kak tolong jangan sembuhkan aku, aku ingin bertemu dengan ibu" ucap Roberto.


...****************...


40 tahun yang lalu.


Di aula kekaisaran.


Terlihat semua orang berkumpul di sana tak terkecuali Alfonso dan Baldan.


"Aku ingin kalian bersikap acuh terhadap Roberto, permaisuri akan mencelakainya jika ia melihat kita peduli kepada Roberto aku tak akan menyakiti permaisuri karena ia juga merupakan ibu dari anak-anakku" ucap kaisar.


"Alfonso dan Baldan kalian tau perbuatan ibu kalian itu salah dan untuk menebusnya kalian harus menjaga Roberto tetap hidup" ucap kaisar sembari memegang pipi Alfonso dan Baldan.


Sejak saat itu mereka bersikap acuh saat di hadapan Roberto.


Namun di saat malam hari mereka bergantian ke kamar Roberto.


...****************...


Saat Roberto tertidur.


Terlihat kaisar berjalan mendekati ranjangnya.


Kaisar mengelus dan mengecup dahi Roberto serta ia berbisik"ayah sangat menyayangimu maafkan ayah"


Tak hanya kaisar yang sering datang Alfonso dan Baldan juga sering datang melakukan hal yang sama seperti kaisar.


...****************...


"Kak aku sering bermimpi ayah datang ke kamar dan ia mengelus kepalaku sepanjang aku tertidur" ucap Roberto dengan pelan.


"Tak hanya ayah aku juga bermimpi kalian datang" ucap Roberto.


Mendengar hal tersebut tangis Alfonso dan Baldan semakin pecah mereka memeluk Roberto sangat lama hingga pada akhirnya ia meninggal dengan senyuman di wajahnya.

__ADS_1


...****************...


Bersambung....


__ADS_2