
tidak terasa waktu terus berjalan dan kini satu minggu sudah berlalu. keadaan Nanda sudah semakin membaik dan dia sudah diperbolehkan untuk pulang.
kini mereka berempat berkumpul di ruang tamu Radit. Nanda sudah mengambil surat terakhir ibu mereka dari Chris.
setelah ketiganya membaca surat itu Marchel dan juga Yolan sangatlah emosi mengetahui kenyataan nya perihal perpisahan orang tua mereka.
" apa yang harus kita lakukan kak" kata Yolan pada Marchel
" kita harus membalas wanita rubah itu"kata Marchel
" lalu bagaimana cara kita memulainya" kata
Yolan
" pertama kita harus cari tahu terlebih dahulu tentang semua kehidupan pribadinya" kata Radit
" lalu dimana dengan papah, bagaimana kalau papah benar-benar mencintai wanita murahan itu" kata Yolan
" aku yakin papah tidak mencintainya, papah hanya saja tidak berdaya" kata Nanda
" lalu bagaimana dengan kak Zoan?" kata Yolan
" siapa Zoan?" kata Nanda
" dia juga anak papa dari wanita itu" kata Marchel
" apakah yang dimaksud kak marchel adalah zoan yang aku kenal?" kata Nanda pada Radit
__ADS_1
" ya itu dia" kata Radit
" apakah kamu mengenal kak zoan juga?" kata Yolan
" iya, aku pernah beberapa kali bertemu dengannya dia juga adalah orang yang baik" kata Nanda
"di mana kamu bertemu dengannya" kata Marchel pada Nanda
" beberapa bulan yang lalu dia juga ada disini, dan dia bilang apartemen PUTRA yang kami bangun itu adalah milik kakaknya, berarti punya kak marchel dong" kata Nanda
" masalah ini biarkan aku saja yang mengurus, agar hubungan kalian pada zoan tidak rusak" kata Radit
" oke.... terima kasih buat bantuanmu adik ipar" kata Marchel
" jangan mengatakan ku adik ipar, aku lebih tua dari mu" kata Radit
" ya..... iya baiklah kakak ipar" kata Radit
" hahahaha.... begitu lebih baik" kata Marchel
malam ini Nanda berdiri di balkon kamar mereka. Dia sedang menikmati pemandangan an langit yang di hiasi beribu bintang dan sebuah bulan. suasana angin yang berhembus seakan-akan menemaninya untuk menikmati pemandangan malam ini.
pada saat itu Radit masuk ke dalam kamar mereka, dia tidak menemukan Nanda di dalam kamar. dia mencoba mendorong pintu kamar mandi yang tertutup, namun ketika pintu tersebut terbuka Radit tidak melihat Nanda ada di sana.
Radit mencoba mencari Nanda di balkon kamar mereka, Radit tersenyum dan menghampiri Nanda. dia memeluk badan Nanda dari belakang, dagunya disandarkan di atas bahu Nanda.
" sedang apa kamu di sini" kata Radit
__ADS_1
" aku hanya ingin menikmati indah nya bintang-bintang dan bulan di malam ini " kata Nanda
" tapi aku tidak ingin melihat mereka, aku hanya ingin memandangmu saja malam ini" kata Radit
Nanda hanya tersenyum mendengar kata-kata Radit.
" kau tahu aku ingin mempunyai anak sebanyak bintang itu, tapi aku tidak bisa" kata Nanda
" apakah hatimu belum bisa menerimaku juga sampai pada saat ini" kata Radit
" aku sudah menerimamu dan aku mencintaimu. kamu laki-laki terbaik dan sempurna yang pernah hadir didalam hidup ku" kata Nanda
" apa aku tidak salah mendengar??" kata Radit
" kamu tidak salah mendengar, aku merasa malu padamu. aku adalah wanita yang lemah dan tidak sempurna" kata Nanda
Radit membalikkan badan Nanda untuk berhadapan dengannya. dia memeluk badan mungil Nanda.
" kamu tidak perlu malu padaku aku adalah suamimu, dan kamu adalah wanita yang kuat, kamu lihat bahkan kamu bisa melewati masa-masa sulit dalam hidupmu. dan di dunia ini tidak ada yang sempurna" kata Radit
" tapi aku wanita yang cacat, sedangkan kamu laki-laki yang sempurna." kata Nanda
" kamu berkata apa, kamu tidak cacat kamu juga sempurna" kata Radit
" aku cacat tapi kamu tidak bisa melihatnya. kamu tahu, aku tidak bisa memberimu keturunan" kata Nanda
seketika Radit terdiam sepertinya dia sedang berpikir.
__ADS_1