Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Jangan menyudutkanku


__ADS_3

"Sudah Fana tak ada lagi yang tersisa di lambungmu. Percuma kau muntahkan. Kau ingin memuntahkan usus dan ginjalmu." Ingin sekali rasanya Fana memasukan muntahannya pada mulut Kenan yang tidak berakhlak.


Setelah muntahnya reda Fana menyorot Kenan dengan mata yang tajam, sampai Kenan sendiri merasa tak nyaman dengan tatapan istrinya, bulu kuduknya terasa merinding secara tiba-tiba.


"Kau pikir ini inginku? Kau pikir aku sengaja memuntahkan isi perutku." dengan sisa-sisa tenaga ia miliki Fana mengucapkan itu meskipun dengan nada yang sangat pelan.


"Lain kali aku tak akan meminta bantuanmu lagi." Fana berjalan tertatih meninggalkan kamar mandi.


Kenan berusaha meraih pundak istrinya ia berniat membantu tapi tangannya langsung di tepis. "Menjauh dariku."


Kenan mendessah frustasi, sungguh ia tak sengaja mengatakan itu pada istrinya. Mulut pedasnya sering kali berucap sendiri tanpa berpikir dampaknya, Kenanpun menyumpahi mulutnya sendiri agar kata-kata yang keluar dari mulutnya adalah kebaikan.


"Fana, maafkan aku. Aku tidak bermaksud." Kenan terlihat menyesal tapi nanti juga ia selalu berulah lagi, basi pikir Fana.


Perasaannya yang tidak ia mengerti adalah sedih setelah mendengar kalimat dari mulut suaminya, padahal ia tau jika Kenan biasa memperlakukannya seperti itu, tapi akhir-akhir ini ia merasa sangat sensitif, bahkan hanya karna hal kecil ia selalu menangis. Mungkin juga karna pengaruh hormonnya saat ini.


Kenan pergi untuk beberapa waktu. Pria itu kembali dengan segelas air putih hangat serta berbagai buah potong di dalam satu wadah.


"Minum dulu." Kenan membantu istrinya untuk bangun dan meminum air hangat yang ia bawa.

__ADS_1


"Tidak ada buah pear di lemari pendingin, adanya hanya mangga masak, pepaya, buah naga, serta melon saja. Aku tidak tau buah apa saja yang kau sukai selain buah pear itu sebabnya aku memotong semua buahnya." Kenan menyodorkan potongan buah lengkap dengan tusukannya.


"Rapi sekali potongan anda." cibir Fana, sangat kental akan hinaan, ia melihat buah yang di kupas suaminya itu tidak beraturan. Fana yakin banyak daging buah yang terpotong dan ikut terbuang dengan kulitnya.


"Tidak usah protes. Memotong buah bukan keahlianku. Yang penting aku tidak memberikanmu kulit buahnya. Jika kau ingin potongan buahmu indah lebih baik kau nikahi tukang rujak buah." Kenan kesal lantaran Fana terlihat tidak menghargai perjuangannya untuk memberikannya buah potong, padahal jari Kenan teriris sebanyak dua kali saat tadi memotong buah.


"Jika kau menceraikan aku akan pikirkan untuk menikahi tukang rujak." pernyataan Fana malah membuat Kenan semakin terjatuhkan.


"Kemarikan buahnya!" Kenan hendak menyambar wadah buah yang berada di pangkuan istrinya. "Biar ku buang saja buah ini dari pada membuat diriku terlihat tak berguna." Fana menahan wadah itu.


"Enak saja, aku lapar." Fana melahap satu persatu potongan itu, yang anehnya terasa sangat enak apa lagi potongan buah melon padahal sebelum ini Fana tidak menyukai buah melon dan buah naga, bagi Fana kedua buah itu sangat pelit saat memberikan rasa manis pada orang yang memakannya, tapi kali ini buah itu terasa sangat manis.


"Fana, kau tidak suka berbelanja?" tanya Kenan lagi.


"Suka."


"Lalu kenapa kartu yang ku berikan tidak kau gunakan?"


"Memangnya kapan kau memberiku kartu?"

__ADS_1


"Sehari setelah kita menikah. Aku menaruh dua kartu tanpa limit di dompetmu." jelas Kenan. Hatinya bertanya apa Fana tidak melihatnya sehingga ia tidak berbelanja kebutuhannya lalu kenapa wanita itu diam saja saat ia tak memberinya uang.


"Oh, ku pikir kau salah atau tidak sengaja menaruh kartu itu di dompetku. Jadi aku taruh kembali kartu itu di laci samping tempat tidurmu." terang Fana jujur. Wanita itu sedikit tak percaya jika suami perduli semenjak mereka menikah mengingat betapa piciknya pemikiran suaminya.


"Kenapa kau tidak bertanya?"


"Aku harus bertanya padamu agar aku terlihat semakin bodoh di hadapanmu, ayolah kita tidak sedekat itu dalam masalah komunikasi." Fana lebih tertarik kembali memakan buahnya.


"Nanti aku akan menyuruh orang untuk mengantarkan kartu itu padamu."


"Hmm."


"Nanti malam kita akan ke pernikahan Miranda, Arven sudah mengatur segala sesuatunya. Bersiaplah publik akan tau jika kau seorang nyonya Kenan, jangan dengarkan apapun kata orang lain selain aku." perintahnya tegas


"Hari ini aku akan kekantor, aku akan menemui pengacaraku untuk mengurus surat-surat saham dan harta yang ku miliki, agar istriku berpikir beberapa kali untuk tidak mencampakkan aku."


"Uhuk." Fana tersedak bahkan buahnya tertelan begitu saja tanpa ia kunyah terlebih dahulu.


"Pikirkan ini Fana, kau sudah mengambil seluruh yang ku miliki. Hatiku, rasaku, benihku dan juga harta yang kumiliki. Kau sudah memilikinya jadi jangan banyak bertingkah kau!" Kenan mengacungkan satu jarinya di hadapan wajah istrinya.

__ADS_1


"Heyy, aku hanya meminta sebagian hartamu, mengenai benih dan perasaanmu kau sendiri yang memaksaku untuk menerimanya. Jangan menyudutkan aku seolah-olah aku penjajah yang merampas semua yang kau miliki. Jika kau keberatan kau bisa mengambilnya kembali." Karna kesal Fana memakan buahnya semakin rakus, Ya Tuhan kenapa ada seorang pria yang bertingkah seperti playing viktim seperti ini Kenan.


__ADS_2