
"Ken."
"Ken. Hentikan aku tidak mau." Fana mencoba menghentikan sentuhan suaminya, bukan tanpa alasan Fana mengatakan itu, Fana tak ingin terhanyut dalam sentuhan suaminya, ia juga sering tertekan karna suaminya selalu saja protes saat Ia bersuara, padahal apa enaknya bercinta tanpa suara.
"Stt, jangan melarangku. Kau milikiku kau memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhanku." Kenan kembali mencumbu istrinya.
"Keluarkan, Fana, lepaskan semuanya."
Tapi bedanya kali ini Fana tak ingin bersuara ia lebih memilih diam, karna tiba-tiba wajah Ziano terlintas di matanya. Kadang ia bertanya kenapa rasa itu harus ada di tengah statusnya yang rumit.
Tapi bisa saja Kenan menceraikannya bukan pria itu tidak pernah menyimpan perasaan padanya.
Kenan menghentikan cumbuannya. "Kenapa kau diam?" Fana hanya memalingkan wajahnya.
"Jangan coba-coba memikirkan pria lain saat bersamaku! Atau aku akan mengeluarkan otakmu dari tempatnya." Kenan melotot saat mengatakan itu ia berucap tepat di dekat telinga Fana. Sampai-sampai Fana di buat merinding dengan nafas suaminya yang berhembus.
"Ya Tuhan pria penindas itu seperti cenayang yang bisa membaca pikiranku." batin Fana meringis.
"Terima, balas dan nikmati setiap sentuhanku atau aku akan membuatmu kehilangan satu kakimu." Kenan semakin menindas Fana.
"Buka mulutmu." Kenan benar-benar kesal karna tak mendapat balasan dari setiap mentuhan yang ia lancarkan.
"Aku sedang tidak berminat Ken. Lebih baik kau pergi ke tempat sepupu Eldy, bukankah kau sangat menyukai wanita liar? Setidaknya itu yang kudengar dari perbincangan kalian."
__ADS_1
Kenan mengulum senyum, oh ternyata dari tadi istrinya sedang cemburu pantas saja wanita itu berubah sangat menyebalkan, pikir Kenan.
Fana merutuki mulutnya kenapa bisa-bisanya ia malah membahas sepupu Eldy, seakan dirinya tengah cemburu pada pria itu. Apalagi Fana sempat melihat bibir Kenan yang berkedut menahan senyum.
Kenan semakin berniat ingin menggoda istrinya.
"Benarkah aku boleh pergi menemui wanita liar?"
"Pergi saja siapa yang melarangmu? Sekalian saja kau jangan pulang." Fana mendorong dada suaminya dan beringsut duduk.
"Baiklah." Kenan teringat wajah Fana yang terlihat kesal saat membahas Shifa jadi untuk kali ini ia akan memanfaatkan situasinya.
"Di karnakan sepupu Eldy sedang berada di luar negri jadi aku akan mendatangi wanita yang juga di perbincangkan Eldy, aku rasa dia juga wanita yang liar." Kenan meraih kemejanya yang sempat ia buka tadi,
"Hmm. Aku harus melakukannya karna istriku sendiri menolak untuk menyenangkanku." menyadari raut Fana yang menegang membuat Kenan berada di pintu kemenangan.
"Kau suadah gila?"
"Aku memang gila sedari dulu."
Shafana terkejut mendengar kenekadan suaminya. Ia tidak menyadari jika Kenan sedang bersandiwara. Kenan tidak segila itu meskipun dia bukan orang baik, dia masih memiliki adab.
Fana langsung berdiri dan membuka sendiri pakaiannya dengan terburu-buru sampai habis ia berada dalam keadaan polos. "Lakukan apapun yang kau mau, jangan pernah mencari kesenangan bersama wanita lain."
__ADS_1
Shafana sangat menyayangi ayah dan adiknya. Bagai mana jika benar ada scandal antara Kenan dan Shifa, maka ayahnya kan terluka. Lagi pula ia tidak ingin Shifa terperangkap dalam jerat Kenan. Tidak Fana pungkiri bahwa Kenan adalah pria tampan bukan tidak mungkin jika Shifa bisa saja tergoda.
Kenan terkekeh dengan penuh kemenangan sungguh ia lebih bahagia di bandingkan memenangkan tender paling menguntungkan sekalipun. Akhirnya ia memiliki senjata agar istrinya bisa ia kendalikan dengan semua fantasi yang ada di otaknya.
"Kau janji akan menuruti keinginanku?"
Mau tidak mau Fana menganggukan kepala pasrah. Ia tidak memiliki pilihan.
Kenan tersenyum. "Kemari. Duduklah di pangkuanku." pria itu menepuk kedua pahanya.
Shafana meneguk gumpalan salivanya yang mendadak terasa alot. Ia berjalan mendekat dan duduk di pangkuan suaminya dengan tubuh polosnya.
Sungguh Kenan tengah menahan diri sebisa mungkin agar ia tidah kehilangan kendali dan tidak membanting tubuh seksih itu keatas ranjang.
"Lakukan tugasmu." Kenan membawa pergelangan tangan istrinya untuk ia kecupi, ia tuntun jemari itu munyentuh mata kancing yang sebelumnya sudah ia kancingkan.
"Bukalah ..."
Shafana mengerjapkan bola matanya, "Kau buka saja sendiri."
"Aku menyukai wanita liar. Jadilah wanita liar saat di hadapanku." Kenan kembali mencumbu leher istrinya.
Kenan mengelus punggung telanjjang istrinya. Halus itulah yang ia rasakan.
__ADS_1
Shafana membuka satu persatu kancing baju suaminya. Setelah terbuka ia mengusap dada dan bahunya. Sebelah tangannya meraba pelan perut kotak pria gagah itu. Kenan menikmati sentuhan istrinya, matanya terpejam dengan wajah yang mendongak saat Fana mengecup lehernya. Sumpah demi apapun Kenan menyuainya.