
Kenan pulang lebih awal satu jam lebih awal dari biasa di karnakan jarak dari kantor ke rumah ayah mertuanya lumayan jau, bukan lumayan lagi melainkan sangat jauh.
Acara nanti malam di pesta pernikahan Miranda Kenan sudah meminta waktunya secara khusus kepada temannya itu.
"Aku tidak ingin Kita berangkat bersama." Fana sudah memiliki rencananya sendiri.
"Kenapa seperti itu, aku tak ingin terjadi sesuatu pada bayiku." Kenan menolak keinginan istrinya ia tak ingin jika terjadi sesuatu dengan istri dan calon bayinya. Disamping ia menghawatirkan bayinya, Kenan juga mengkhawatirkan istrinya takut jika masih ada temannya yang tidak menyukai istrinya.
"Aku berjanji bayimu akan baik-baik saja. Aku akan menjaganya, dia juga bayiku, aku menyayanginya." Fana mengelus lembut perut ratanya.
Keduanya memang berangkat masing-masing, tetapi Fana berangkat dengan Arven yang mengantarnya, Kenan mempercayai asistennya untuk menjaga istri serta calon anaknya.
Pesta sangat meriah dengan dekorasi yang sangat indah. Hampir semua orang yang berada di sana Fana mengetahui namanya satu persatu. Ya bagai mana Fana bisa lupa jika orang-orang di sana adalah orang yang meninggalkan kenangan buruk untuk dirinya.
Shafana memilih menaiki pelaminan seorang diri, tanpa menunggu Kenan atau pun Arven yang menunggu tuannya tiba.
Semua mata memandang dengan tatapan memuji yang nyata.
"Itu Moza."
"Kenapa makin kesini dia semakin memukau."
"Sepertinya dia sudah berubah menjadi seorang ratu."
__ADS_1
"Kudengar dia adalah pemilik caffe Moza di kota ini."
Dan masih banyak lagi kalimat-kalimat lainnya.
Adapula yang masih membenci Fana, dan menganggap jika itu adalah ajang pamer atau penvitraan Fana di sana.
"Nona, kau datang?" James membungkukan sedikit badannya. Untuk menyapa Shafana Moza di atas pelaminan.
"Sayang apa yang kau lakukan?" Miranda mencekal tangan tangan pria yang baru beberapa jam menjadi suaminya. Ia tak rela sang suami yang merupakan manager keungan di kantor yang mana pemiliknya adalah Kenan teman sekolahnya, James membungkuk di hadapan gadis yang selalu ia perlakukan dengan buruk semasa sekolah dulu.
"Jangan membungkuk padanya." Miranda terpekik tampa sengaja pada suaminya membuat semua orang memandang kearah mereka.
"Memangnya kenapa?" Fana menaikan satu alisnya. Penampilannya membuat semua orang yang pernah menghina dan merendahkannya terbungkam begitu saja.
"Mira. Jaga ucapanmu." James menegur istri barunya.
"Oh, benarkah? Tidak usah terlalu sombong Nona, aku bahkan mampu membeli ginjalmu yang kotor dengan uang yang ku miliki." Miranda melotot ia tidak percaya jika orang yang berbicara di hadapannya adalah orang yang sama yang selalu ia dan teman-temannya rundung semasa sekolah dulu.
Tak ingin terjadi kekacauan Eldy, pamit pada zidan dan Azka untuk menghampiri pengantin juga Moza temannya. Ia tak ingin terjadi sesuatu pada wanita hamil itu, ia juga kesal karna Kenan terlalu lama datangnya.
"Moza, mari duduk jangan terlalu lama berdiri. Kudengar kau tengah hamil tak baik jika terlslu lama berdiri." Eldy mengajak Fana untuk turun dari pelaminan.
"Ya, Nona, jika tidak Tuan Kenan akan marah melihat Nona berdiri di sini." James juga menyarankan Fana duduk.
__ADS_1
"Ya James Kenan akan memarahi wanita tidak tau diri ini karna berani merusak pestaku. Padahal aku tidak mengundangnya. Teman-teman lihatlah si Culun dan buruk rupa ini tengah menyamar menjadi seekor angsa yang anggun, aku justru geli melihatnya." Miranda meludah ke arah samping pelaminan.
"Jaga tingkahmu Miranda, atau Kenan akan menempatkanmu dalam bahaya." Eldy memperingati Miranda.
"Hey kalian, lihatlah Eldy sepertinya mulai menyukai si culun ini karna penampilannya malam ini. Hati-hati Eldy setelah jam dua belas malam Moza akan berubah kembali menjadi upik abu." Miranda terkekeh.
"James, didik istrimu atau aku akan mengadu pada suamiku agar kau kehilangan pekerjaanmu." Fana tersenyum penuh arti. Ya Fana memang menantikan ini, di saat teman-temannya menertawakannya. Dan dia akan berada di atas angin saat suaminya memberitahui jika ia dan Kenan telah menikah.
"Baik Nona."
"Memang siapa suamimu? pria tua yang bau tanah." Miranda dan sebagian orang menertawakan ke haluan tan Culun mereka.
"Siapa yang kau panggil pria tua dan bau tanah?" tiba-tiba Kenan sudah mendekat.
"Ah, Sayang aku kau datang." Fana mengecup bibir Kenan sekilas. Membungkam mulut yang tadi menertawakan dirinya.
Hampir semua orang di buat terkejut.
"Sayang bagai mana jika aku mengidam sesuatu? Ingin memecat orang misalnya." Fana berujar manja dengan bergelayut di lengan kekar suaminya.
"Tentu saja, aku akan mengabulkannya. Kau tengah mengandung bayiku." Kenan mengelus lembut rambut istrinya. Kenan tau istrinya tengah berperan tapi ia sangat mengukai tingkah manja wanitanya.
"Kenan, siapa Moza?" Miranda bergetar saat bertanya itu pada teman sekolahnya.
__ADS_1