
"Apa kau mendengarnya Shifa?"
Zayyan bertanya tapi kesannya seakan merendahkan.
Kenan menghempas tubuh pria yang mungkin beberapa tahun lebih tua darinya, tapi sedikitpun Kenan tidak merasa gentar untuk bertindak lebih jauh jika pria itu menantangnya. Untung saja Zayyan hanya diam dan menepuk-nepuk bekas cengkraman Kenan padahal bisa di pastikan di sana tidak kotor sama sekali.
"Dasar, kekanakan." Zayyan mencibir Kenan. Dalam hati Zayyan salut dan ikut memuji tindakan Kenan untuk mempertahankan miliknya meskipun Zayyan tau tabiat pria muda di hadapannya sangat menyebalkan tapi Kenan mampu melindungi wanitanya dengan caranya sendiri. Zayyan sendiri tidak yakin jika dirinya mampu melakukan hal seperti yang di lakukan Kenan. Yang di mana Kenan menjalani rumah tangga dengan wanita yang tidak di cintainya itu adalah hal sulit, lalu di hadapannya ada wanita yang sejak dulu ia incar dan sekarang menawarkan diri sungguh itu adalah ujian terberat seorang pria.
Zayyan mengalihkan tatapan kepada kekasih keponakannya.
"Aku tidak memaksamu untuk menikah denganku, tapi aku tak akan mengulang tuk meminta." Shifa hanya diam. Zayyan malah mencari sosok Fana dan ternyata wanita itu datang dengan membawa dua gelas air putih.
"Minum lah Ken, dinginkan kepalamu. Aku tau kau haus. Jangan terlalu sering marah-marah tak baik untuk kesehatanmu." Entah Fana sedang berakting atau apapun itu tapi yang jelas Fana terlihat tulus saat mengatakan itu.
Segelas air ia sodorkan kepada tangan suaminya. Dan segelas lagi Fana serahkan pada Zayyan, pria itu langsung mengambil alih airnya tetapi belum berniat meminumnya.
"Duduk, dan minumlah Tuan."
"Maafkan atas kelancangan adik dan suamiku Tuan Hillatop. Sungguh saya menyadari ini bukan hal terpuji dalam menyambut tamu. Maafkan juga karna tindakan suamiku yang tidak sopan sebenarnya dia orang yang baik. Sekali lagi tolong maafkan kami." Fana tulus meminta maaf pada tamunya itu.
__ADS_1
"Fana kau tak perlu meminta maaf atas sesuatu kesalahan yang tidak kau lakukan." Kenan tak terima jika istrinya meminta maaf padahal Fana tidak bersalah dalam hal ini, jika ada yang harus minta maaf pada Zayyan harusnya Kenan sendiri dan Shifa, ya Shifa wanita itu sudah berbicara kasar pada tamu mereka.
"Lalu siapa yang akan meminta maaf? Apa kau? Sayangnya aku tak yakin Ken. Lebih baik diam dan minumlah agar perasaanmu membaik." Fana sudah mendekati suaminya, dan berkata dengan tutur kata yang selembut mungkin, ia tak ingin kembali memantik amarah suaminya. Meskipun di belakang orang lain Fana seringkali bertingkah menyebalkan di mata Kenan. Dan selalu mendebatnya tapi Kenan akui istrinya itu selalu menjunjung tinggi kesopanan pada dirinya di hadapan hal layak Kenan bisa membaca isi otak istrinya jika wanita itu tidak ingin menjatuhkan harkat dan martabatnya sebagai seorang suami. Kenan menuruti apa kata istrinya.
Zayyan bergeming memperhatikan Fana, yang berhasil memadamkan api amarah baik itu pada Kenan ataupun pada dirinya, Zayyanpun ikut duduk dan meminum airnya ini air putih tapi terasa sangat manis di tenggorokannya. Zayyan meneguk habis air itu hingga tandas tak tersisa dari wadahnya.
"Terimakasih Tuan Hillatop sudah berkenan kemari untuk bertanggung jawab, tapi saya tidak bisa memaksa Shifa untuk menikah dengan anda, Putri saya berhak memutuskan apa yang akan menjadi masa depannya." Ayah Rendy terdengar bijaksana dalam mengatakan itu, sangat berbanding terbalik dengan apa yang di lakukan Rendy pada Fana. Fana memohon agar tidak menikah dengan Kenan. Pria tua itu tetap memaksa tak perduli betapa banyak Fana memohon. Sakit itulah yang Fana rasa, perbandingan antara anak satu dengan anak lainnya memang kerap kali melukai batin sang anak tanpa orang tua sadari.
Sebisa mungkin Fana menahan kuat air matanya agar tidak terjatuh. Kenapa semudah itu ayahnya melukainnya dengan cara sepele tapi sukses membuat hatinya berdenyut ngilu.
Kenan yang menyadari raut wajah istrinya segera membawa istrinya untuk menuju kamar. Kenan tidak menunggu Zayyan maupun Shifa berbicara kenbali ia berinisiatif untuk membawa istrinya pergi supaya tidak mendengar keputusan apapun, terserah mereka mau melakukan apa. Tugasnya hanya melindungi istrinya.
Setelah tiba di kamar Kenan langsung memeluk istrinya. "Jangan pernah merasa tersisihkan sekarang kau memiliki aku. Cukup tetap menjadi istriku maka tak akan ku biarkan apapun mengusikmu, sebisaku aku akan melindungimu." Kenan berbisik dan mencium dalam puncak kepala istrinya.
Wangi rambut istrinya begitu Kenan sukai perpaduan wangi bunga mawar dan rempah jelas sangat menenangkan.
Kadang di saat seperti ini Fana tidak menyangka jika yang barusan mengatakan hal yang menenangkan jiwanya adalah Kenan, sang pria kejam nan menyebalkan menjadi pria paling baik versinya.
"Jangan menangis, nanti air telingamu ikut keluar." Fana memukul pelan dada bidang suaminya, baru ia sanjung sedikit pria itu sudah berulah kembali.
__ADS_1
"Aku tidak congekk Ken, aku juga tidak memiliki kemampuan untuk mengeluarkan air dari telingaku." Fana masih menggerutu.
"Tapi mengeluarkan air yang lain bisa kan?" Kenan mengangkat dagu istrinya, ia usap pelan air mata yang juga membasahi kemeja yang ia kenakan.
"Air lain?" Fana mengerutkan kening ber pikir, lagi-lagi Kenan salah langkah, hello ini Fana otaknya belum sampai kearah sana. Akhirnya Kenan menyerah dan menyusun rencana baru agar Fana yang lugu mendagi sedikit encum.
Tapi belum mulai rencannya Kenan di buat tak tega untuk mengelabui istrinya.
"Ken terimakasih, karna kau tidak mempermalukan aku tadi di hadapat semua orang, meskipun itu hanya sandiwara tapi aku sangat berterimakasih." Fana mendongak dengan hidung yang juga sudah memerah.
"Hmm." Ingin menyangkal jika yang Krnan lakukan itu bukan sandiwara tetapi mutlak keinginannya, tapi Kenan tidak mempunyai alasan untuk semua itu. Cinta? benarkah? Ia sendiri pun tak yakin.
"Ken sebenarnya aku was-was saat datang bulan setelah mempunyai suami." Fana mengutarakan gelisah hatinya.
"Was-was kenapa?"
"Pelangganku bercerita jika suaminya jajan di luar." Fana menggerakan kedua jemari membentuk tanda kutip. "Saat istrinya tengah datang bulan, dan suaminya mengatakan jika ia tidak tahan, katanya sangat ingin itu sedangkan istrinya tidak bisa melakukannya. Apakah kalian para pria tidak bisa menahannya beberapa hari? kenapa harus berkhianat seperti itu? Aku takut kau melakukan hal yang sama. Jadi katakan apa yang bisa ku lakukan agar kau tidak seperti Mas Joko." Fana menundukan kepalanya.
Pucuk di cinta ulampun tiba, inilah cara Tuhan menolongnya Kenan selalu bersukur setiap keinginannya selalu di beri jalan, Ah ini adalah kesempatan Kenan bersenang-senang mengajarkan Fana berbuat mesum pasti menyenangkan.
__ADS_1
.