
.
Seorang wanita seumuran menghampiri Shafana.
Selalu saja kemalangan yang menimpa dirinya, rasanya sedari dulu hidup Fana tidak beruntung, kendati begitu ia tetap bersyukur atas hidup yang ia jalani.
"Mari kita bergabung dengan mereka."
"Eliza, aku tidak ingin pergi menemui mereka."
"Jika tidak, ingin menemui mereka untuk apa kau datang kemari Moza?"
"Aku." Shafana kembali terdiam, tidak mungkin jika ia mengatakan ia kemari bersama Kenan, bahkan Pria itu sudah mewanti-wanti dirinya.
Eliza terus menyeret mantan teman sekelasnya menuju tempat mereka berpesta, dentuman musik serta kebisingan itu membuat Shafana tak nyaman.
Shifa menghampiri Shafana lebih dulu menghadang langkah Eliza dan Fana.
"Untuk apa kakak kemari?, ingin membuktikan jika kakak sudah berubah cantik, atau ingin menjadi pusat perhatian." Shifa berkata pelan serta penuh penekanan.
"Kakak tidak ada maksud apapun Shifa."
"Atau kakak ingin mempermalukan Kenan di acara ini? Bukankah Kenan sudah menyuruh kakak untuk menunggu di mobil, jadi kembalilah kesana." Sekarang Shifa malah mengusirnya.
"Eliza seperinya aku akan kembali."
Eliza tau jika Moza terpengaruh dengan ucapan Shifa, maka dari itu Eliza menarik tangan Moza untuk menjauhi gadis bergaun Violet itu.
"Teman-teman lihat lah! Ini Moza, teman sekelas kita dulu."
Semua orang mendekat kearah keduanya tidak terkecuali Shifapun ikut menghampiri Shafanya,hanya Kenan dan Eldy yang masih diam di tempatnya.
"Moza! Kau kah itu?" Satu pria mengenali Shafana.
"Bagaimana kabarmu?"
"Kabarku baik." Shafana tersenyum gugup, semua mata melirik ke arahnya.
"Kenapa Moza jadi berbeda?"
"Tidak ada jejak-jejak ke culunan pada dirinya."
"Apakah Moza telah glow up,"
__ADS_1
"Mungkin saja Moza menyewa make up artis untuk menunjang penampilannya malam ini."
"Lalu perhiasan yang Moza kenakan menyewa di tempat mana? Aku juga ingin menyewanya." Ingin sekali Fana mengatakan bahwa perhiasan yan ia kenakan itu asli untuk membungkam mulut yang mengolok-ngoloknya.
Terdengar tawa-tawa merendahkan saling bersahutan meledek, bahkan Shifa adiknya sendiri ikut menertawakannya.
Sebenarnya sebagian orang memandang takjub penampilan Shafana kali ini, mereka lebih memilih ikut-ikutan menyudutkan gadia itu.
Shafa sangat muak berada di tempat ramai, yang isinya orang-orang yang Shafana kenal dan tentunya selalu merendahkan dan merundungnya.
"Hei tidak cukupkah kalian merundung orang lain sewaktu sekolah? Sekarang kalin sudah dewasa jadi berhentilah meremehkan orang lain." Suara berat Ziano berhasil meredakan tawa mereka.
"Bubarlah urus diri kalian sendiri." Titahnya tegas.
Akhirnya Shafana bisa bernapas lega saat kerumunan itu mulai merenggang.
Ziano mulai mengajak Shafana berbincang ringan sampai beberapa kali Fana menanggapi perbincangan Ziano dengan tawa lepasnya.
"Moza, hampir saja aku tidak mengenalimu, aku rasa juga orang-orang di sini sama sepertiku." Hampir semua teman-teman Shafana memanggilnya dengan sebutan Moza.
Kenan dan Eldy hanya memperhatikan Shafa dari kejauhan, apa lagi Kenan merasa ada yang menggelitik perasaannya saat Shafana berbincang dengan Ziano.
"Lihatlah si culun dan si cupu itu mereka benar-benar serasi, apalagi dengan pakaian yang mereka kenakan itu senada." Eldy tidak menyadari kalimat yang ia ucapkan menambah rasa tak nyaman pada diri Kenan.
"Ken, kau itu kenapa? Minummu terlalu cepat."
"Tidak apa-apa aku hanya haus."
"Jika kau haus sebainya meminm jus atau air mineral saja, jangan meminum minuman haram itu dengan sangat buruk."
Kenan tidak menyaut matanya tidak bisa lepas dari kedua orang di ujung sana, Kenan memperhatikan Fana dan Ziano dari bibir gelasnya.
"Aku merasa Moza berbeda malam ini, aku melihat auranya begitu memancar, harus aku akui jika Moza bintangnya malam ini, tapi yang jadi pertanyaan siapa yang mengundangnya ke mari, aku sama sekali tidak membuat undangan untuknya. Eldy terus saja mengoceh membuat telinga Kenan terasa panas.
Saat tiba-tiba saja Shafana menjauh Eldy segera beranjak meninggalkan Kenan sendiri, Eldy segera mengikuti tubuh Fana menuju toilet dan menunghunya di depan toilet wanita.
Dengan sekali tarikan tubuh Fana berada di dekapan seorang pria, dan pria itu adalah Eldy. Fana segera memberontak meskipun Eldy semakin mengeratkan pelukannya, pria itu menghirup lama-lama aroma tubuh wanita dalam dekapannya.
"Lepaskan!"
"Moza, biarkan seperti ini sebentar saja."
"Lepaskan, brengsekk!"
__ADS_1
Shafana terus memberontak dalam pelukan Eldy yang kian lama semakin mengerat, bahkan Eldy dengan lancang mencium puncak kecapa Fana.
Tidak kehabisan akal Fana segera menginjak kaki pria itu dengan kuat, meskipun Eldy mengaduh tapi tidak melepaskan tubuh Fana dari dekapannya.
"Kau suka bermain kasar rupanya, aku bisa membayarmu berapapun yang kau inginkan Moza, tidurlah denganku semalam saja."
"Dasar murahan, kau pikir aku sudi tidur dengan pria sepertimu."
"Ku mohon." Eldy bahkan memohon hanya untuk meniduri satu wanita, bahkan ia belum pernah sepenasaran ini pada wanita manapun, Fana mampu membuatnya mabuk tanpa berbuat apapun.
"Dalam mimpimu saja."
Dughkk...
Dengan sangat keras Shafana menghantamkan kepalanya ke belakang dan berhasil membentur hidung Eldy, meskipun tidak sampai berdarah tapi itu cukup keras sampai Eldy melepaskan dekapannya.
"Ingat ini baik-baik Eldy, tidak setiap wanita tertarik dengan uangmu, aku bisa bekerja untuk menghasilkan uang, tapi jika kau menginginkan kepuasan dengan uangmu lebih baik kau pergi ke rumah bordir saja."
"Aku sangat penasaran dengan.." Eldy membungkam saat seseorang mendekat kearah mereka.
"Ada apa Eldy?" Kenan menelisik Eldy dan Fana bergantian, di mata gadis itu hanya ada kemarahan yang ia tunjukan untuk Eldy.
"Ada apa, mengapa si Culun itu terlihat menyeramkan?"
"Kau tanyakan itu pada temanmu." Fana meninggalkan Kenan dan Eldy yang tengah mengusap hidungnya.
"Ada apa Eldy?."
"Tidak-tidak, aku hanya menggodanya tapi dia malah menganggapnya serius dan marah.
"Kau menggodanya bagaimana sampai ia marah? Lalu kenapa dengan hidungmu?"
"Aku mengoda si culun untuk tidur bersama tapi ia malah menghantam hidungku dengan kepalanya."
"Kau memang keterlaluan, apa kau kehabisan stok wanita seksih?" Kenan menggeram kesal.
"Aku hanya bercanda Ken".
Kenan masih meragu dengan pernyataan sahabatnya, bagai manapun Moza sekarang sudah berubah pasti temannya juga ikut tertarik.
Shafana kembali ke tempatnya tadi untuk pamit pada Ziano, tapi batang hidung pria itu tak terlihat, dan Shafana memutuskan untuk kembali ke tempat di mana mobil Kenan berada. Tapi Eliza menghampirinya dan melarang Fana untuk pergi dari sana dan terus menahan langkah Fana.
Fana merasa kepalanya berdenging, dan berdenyut, tiba-tiba saja ia merasa pusing. Fana mengedarkan pandangannya mencari tempat untuk duduk, tapi tidak mendapati kursi kosong.
__ADS_1