Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Kasihan sekali dia


__ADS_3

"Mulutmu yang lancang itu harus di hukum." Kenan mendekati tubuh Shafana yang sudah berdiri di hadapannya.


"Kau, kau mau apa menjaulah."


"Kau belum mendapat hukuman atas kelancanganmu mengatakan ingin membunuhku, kau juga dengan berani mengatakan mencintai pria lain di hadapanku." Kenan semakin memerangkap tubuh istrinya.


"Tapi aku mengatakannya di belakang, ku pikir aku mengatakan mencintai orang lain di belakangmu ternyata aku malah mengatakannya tepat di hadapanmu, yang berada dibelakangku. Ya Tuhan." Fana segera membekap mulutnya sendiri yang sudah kelepasan berbicara.


"Kau mau apa?" tanya Fana penuh curiga.


"Aku ingin melihat apa yang bisa di perbuat kekasihmu saat aku menyentuh dirimu."


Kenan melabuhkan bibirnya, tepat di bibir Shafana dan anehnya, seperti dejavu Shafana diam saja mendapatkan perlakuan itu tangannya serasa lunglai hanya untuk sekedar mendorong tubuh Kenan saja Fana tidak mampu, tubuh dan otaknya tidak bisa di ajak kerja sama.


Meskipun Fana tidak membalas tapi wanita itu terkesan menikmati ciuman suaminya. Ia hanya membiarkan Fana mengeksfor mulutnya, bahkan Fana memejamkan matanya. Kenan nenipiskan bibir di tengah ciumannya.


Karna hampir kehabisan nafas Fana mendirong pelan tubuh suaminya.


"Apa yang kau lakukan?"


"Mencium istriku di hadapan kekasihnya."


"Kau salah orang mencintainya." Tunjuk Kenan pada makam Ziko. "Dia hanya diam saja saat kekasihnya di cium pria lain, harunya dia bertindak sesuatu." Kenan melipat tangan di depan dada.


"Kau itu gila ya, bagai mana mungkin seorang yang sudah tiada berbuat sesuatu padamu."


"Aku atau kau yang gila Fana, sadarlah jika dia sudah tiada seharusnya kau berhenti untuk mencintainya. Sampai kapanpun kau tidak akan mendapat balasan dari perasaan sepihakmu." cemburu itulah yang terjadi meskipun Kenan menyangkalnya.


"Aku tidak memerlukan balasan untuk semua rasa cintaku. Tapi kau malah menciumku." Fana terlihat kesal.


"Tapi kau juga menikmatinya." ucap Kenan tenang.

__ADS_1


Tak memiliki alasan untuk membantah.


"Kau yang memulainya."


"Tapi kau yang mengakhirinya di menit ketiga." Kenan masih terlihat tenang.


"Astaga kau menghitungnya." Fana geram dengan tingkangkah suami ajaibnya.


Lama juga ciumanku batin Fana menngerutu.


"Zi, aku pamit." ucap lembut Fana ia berjongkok dan mengusap nisan Ziko. Setelahnya ia pergi meninggalkan makam itu.


"Kau berbicara lembut pada orang yang telah tida dan bukan siapa-siapa dirimu, sedangkan kau selalu berbicara kasar dan ketus kepada suamimu sendiri." Kenan menggeruti di belakang punggung Fana, dengan suara kesal.


"Jika kau ingin aku berbicara lembut maka segeralah tiada. Aku jamin aku akan berbicara lembut jiga di atas pusaranmu." Fana sudah jengkel menghadapi tingkah Kenan yang ke kanakan.


"Kau menyuruh suamimu sendiri cepat mati ya?" Kenan semakin kesal dengan kalimat-kalimat yang Fana ucapkan, bukankah setiap kata adalah doa, secara tidak langsung Fana mendoakannya cepat mati.


Akhirnya Shafana hanya diam ia tak ingin berdebat lagi saat Kenan membawa dirinya memasuki mobil milik pria itu. Keadaan Fana yang tengah datang bulan juga mempengaruhi moodnya hari ini, apa lagi Kenan lancang menguping acara curhatannya denga Ziko.


Setelah mengatakan itu Kenan melanjutkan mobilnya menuju kantornya.


.


Fana memilih mengunjungi salon langganannya hari inia berdandan sangat cantik kacamatanya ia ketakan di dalam tas, ia memakai lensa mata berwarna abu-abu di matanya terlihat sangat cantik dan seksih dengan gaun belan dada yang rendah serta pangjang gaun itu yang hanya menutupi sebagian pahanya.


Sepasang kaki jenjang itu sangat indah di saat berjalan berlenggok di lantai restoran semua mata menatap dengan memuja punggus mulus dan ramping itu seakan sengaja Fana pamerkan.


Disana sudah ada Kenan serta Arven sang asisten sedangkan rekan bisnis yang akan Kenan kenalkan pada Fana belum datang.


Kenan tak mampu mengalihkan pandangan saat Fana memasuki restoran, ia di buat kesal karna tatapan para pria di sekitar sana yang memandang Fana penuh minat.

__ADS_1


Tanpa berbicara lagi Kenan segera membawa Fana keluar restoran dan menarikFana kedalam mobilnya.


"Apa yang kau pakai?"


"Pakaian terbaru dari brend ternama."


"Kau terlihat seperti akan menghadiri kencan buta di banding untuk ku kenalkan dengan rekan bisnisku." sarkas Kena. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pakaian yang Fana kenakan baju itu memang tengah trend, hanya saja Kenan mulai posesife.


"Kau lihat cara para pria di sana menatapmu?"


"Ya aku melihatnya."


"Pria mana yang kau lihat?"


"Pria yang berbaju dan bercelana merah menyala seperti buah Chery masak, serta anak muda yang mengenakan atribut rock."


"Kau melihat seorang pria dengan kepala botak dan perut buncit yang mejanya di sebelahku? dia juga melihatmu kan?" papar Kenan.


"Ya aku melihatnya."


"Kau tau apa yang para pria dan pria betkepala botak yang duduk di sampingku pikirkan saat meliatmu?" tanya kenan lagi.


"Tidak aku tidak tau apa yang mereka pikirkan."


"Lagi pula aku terlalu sibuk dengan pikiranku mengenai pria berkepala botak itu."


"Memanggnya apa yang kau pikirkan."


"Aku heran penasaran pada ibu pria botak itu. Sebenarnya ibunya ngidam apa? sampai pria botak itu masih mengucurkan liurnya di saat usianya sudah tua." ucap Fana polos.


Gubrak.

__ADS_1


Kenan menatap istrinya heran, ingin dia berteriak sebenarnya pria itu mengeluarkan ilernya karnya tergoda akan tubuh Shafana, tapi wanita itu Shafana ia tidak akan mengerti dari isi kepala para pria.


"Kasihan sekali dia." lirih Fana sangat pelan.


__ADS_2