
Kenan tak menjawab ia lebih memilih menghampiri istrinya dan memperhatikan dalam-dalam wajah polosnya istrinya yang terlelap. "Mantra apa yang kau miliki sehingga banyak pria hebat yang menginginkanmu."
Kenan tak dapat mengalihkan tatapannya dari wajah istrinya nampak manis saat terlelap.
Hatinya merasa beruntung memiliki wanita itu sebagai istri nya.
Kenan menekuk satu kakinya sampai posisinya setengah berlutut. Shifa tak dapat mengalihkan tatapannya dari interaksi Kenan dan kakaknya.
Ia tak mampu mengendalikan dirinya untuk tidak mengecup wajah wanitanya. Berkali-kali Kenan menjatuhkan ciuman di wajah itu.
Pintu ruang rawat terbuka, nampak dokter Ziano dengan seorang perawat memasuki ruangan rawat. Kenan langsung berdiri.
Bukannya Ziano memeriksa keadaan Shifa, dokter muda itu justru mendekati tempat yang di mana Fana tengah berbaring. Ternyata Ziano membawa sebuah bantal. Karna tadi Ziano baru memberikan selimut saja.
"Mau apa kau?" Kenan menghentikan gerakan Tangan Ziano yang sudah membungkuk dengan bantal di tangannya hendak meraih kepala istrinya.
"Aku mau memberikan bantal ini. Sedang apa kau di sini? kau urus kekasihmu." Balas Ziano sengit.
"Hey yang dokter di sini kau bukan aku. Sana liat ke adaan Shifa biar aku yang memberinya bantal." Kenan menarik kasar tangan dokter itu. Enak saja mau menyentuh istri orang.
__ADS_1
Akhirnya Ziano memeriksa kondisi Shifa.
"Jangan mengonsumsi nikotin atau alkohol dalam beberapa minggu ini." Ziano menegaskan.
"Hm."
"Jangan pula melakukan **** bebas, jangan sampai hal ini terulang kembali." Ziano mendengus kali ini menasehati Shifa sebagai seorang teman bukan sebagai dokter.
"Jika kau masih melakukannya jangan lupakan pengamannya." Ziano terlihat menyebalkan saat mengatakan itu.
"Sepertinya kau sangat mengetahui punsi pengaman." Kenan ikut menimbrungi keduanya.
"Jangan kau ganggu Moza! Cukup dulu saja kau merundungnya habis-habisan, jangan harap kau bisa melakukan hal itu kembali." Ancam Ziano tegas.
Ziano melangkahkan kakinya keluar ruangan.
"Ken kau terlihat mencintai Kakak!"
"Memang." Jawab Kenan tak acuh. "Aku akan meratukan istriku, itu yang ku janjikan dulu sebelum pernikahan." Kenan melanjutkan kesibukannya memperhatikan istrinya.
__ADS_1
Kenan membaringkan tubuhnya di bawah lantai berbantalkan lengannya sendiri.
"Tidurlah. Jangan mengajakku berbicara Shifa aku lelah." Kenan sudah memejamkan matanya.
Shifa akhirnya hanya diam memperhatikan kakak iparnya yang terbaring di lantai kamar rumah sakit.
Ada sekelebatan bayangan tentang bagai mana Kenan mengejar dirinya. Bagai mana pria tampan itu menyatakan cinta padanya beberapa kali.
Sungguh jika bisa Shifa mengulang waktu ia akan menerima cinta pria itu. Sayangnya ia tak dapat melakukan hal itu.
.
Pagi-pagi sekali Kenan sudah terbangun dari tidurnya, pria tampan itu berencana membelikan istrinya sarapan. Ia tak ingin kembali ke duluan oleh sang dokter tak sopan itu, yang mukanya rata bagai lantai rumah sakit, dengan aroma tubuh bau obat. Cibir Kenan dalam hati.
Ada yang aneh pikir Kenan. Ternyata ia tertidur dengan bantal dan tubuhnya terbalut selimut, Arven benar, Fana adalah orang yang tulus. Kenan sangat yakin jika Fanalah yang memberikan bantal dan selimut itu di tubuhnya.
Kenan kembali menenpon asistennya untuk menyiapkan setiap hal yang ia petlukan.
Shifa sudah bangun terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ken, bantu aku untuk ke kamar mandi."