
"Ken, apa yang kau lakukan?" Fana menatap suaminya penuh tanya dan amarah. Seorang anak mana yang rela melihat ayahnya berlutut di hadapan orang lain terlebih suaminya sendiri.
"Tidak Fana, aku tidak melakukan apapun." Kenan menyangkal tuduhan Fana.
"Fana, kau berpisah lah dengan Kenan sungguh Ayah tidak papa. Jangan kau melanjutkan pernikahanmu, Ayah tak ingin kau di jadikan samsak hidup olehnya. Ayah baru tau dari Shifa jika dulu kau sering di rundung olehnya, pantas saja kau menolak keras menikah dengannya. Seandainya saja ayah tau." Ayah Rendy menangis kembali.
"Ayah sudahlah itu hanya masa lalu." Fana memeluk Ayahnya.
"Jangan membelanya Fana dia juga merundung dan menghinamu tadi malam." Ayah Rendy semakin tak kuasa menahan air matanya, bahkan Kenan menunduk dengan air mata serta air hidung yang bercucuran.
"Ayah, itu semua tidak benar. Kami hanya salah paham sedikit, kami sudah baikan." Fana bertingkah seakan semuanya baik-baik saja.
__ADS_1
"Jangan membohongi Ayah Fana, Ayah tau apa saja kalimat hinaan yang di lontarkan pria itu padamu bahkan ayah menghitung sebanyak empat kali Tuan Kenan menoyor kepalamu." Kenan memejamkan mata mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut mertuanya, adakah kesempatan untuk memperbaiki semuanya tolong Kenan butuh Mama Papanya sekarang. Hanya kedua orang tuanya dan Arven saja yang ia butuhkan kali ini.
"Ayah ..."
"Cukup Nak ..."
"Ayah ..."
"Kenapa kau tidak bilang jika Tuan Kenan merahasiahkan pernikahan kalian karna malu mengakuimu sebagai istri." Fana sudah tertunduk dalam ia juga sakit hati jika mengingat itu.
"Fana tidak apa-apu sungguh." Fana menyunggingkan senyum yang justru menambah luka hati pada ayah dan adiknya.
__ADS_1
"Kakak." Shifa memeluk erat kakaknya ia berharap kesedihan kakaknya dapat terserap olehnya.
"Aku merahasiahkan pernikahanku dengan Fana bukan karna malu memiliki istri sepertinya, aku justru bangga. Aku hanya malu pada diriku sendiri yang mana aku selalu menghina dan merundungnya dulu malah ku peristri sekarang. Aku bukan tidak memperkenalkan melainkan belum, aku akan memperkenalkan Fana secara resmi. Ungkap Kenan jujur, tapi sepertinya tidak berpengaruh sama sekali. Ya memang sepertinya ia terlambat mengakuinya.
"Tidak perlu lakukan apapun Ken. Anggap saja tidak terjadi apapun diantara keluarga kita. Kau lanjutkan hidupmu, begitu juga dengan aku, aku akan melanjutkan hidupku." Sepertinya pdrpisahan adalah jalan terbaik untuk mereka.
Fana merasa ia sudah mentok berada di ujung lelahnya, bukannya tujuan ia menikah adalah menyenangkan ayahnya. Dan sekarang ayahnya sendiri memintanya untuk berpisah. Seharusnya ia bahagia dengan permintaan ayahnya, tapi ia malah terluka seperti ini.
"Tidak, tidak, itu tidak bisa. Kita akan mengadakan acara resepsi besar-besaran, bahkan jika perlu kita undang pihak media, kau bebas meminta mahar sebesar apapun, kau boleh mengajukan syarat apapun asal jangan perpisahan Fana ku mohon jangan perpisahan." Kenan masih menawarkan tawaran yang menggiurkan siapa saja yang mendengarnya.
"Aku akan selesaikan masalahnya, tentang siapa yang menjadi dalang dari kekacauai ini, aku akan menyeret siapapun orangnya untuk memohon maaf pada Ayah dan Fana bila perlu orang itu akan mencium telapak kaki kalian. Tolong jangan mengambil tindakan tanpa seijinku atau aku akan berbuat nekad, termasuk menghabisi nyawa kalian satu persatu." Mau tak mau Kenan mengancam ketiga orang di sana. Yang ia butuhkan adalah Mama dan Papanya juga Arven sang asistennya.
__ADS_1
.