
Setelah kakak dan kakak iparnya pergi Shifa segera kembaliku ruang tengah tempat dimana kekadihnya berada.
"Ken, kenapa kau malah memberi ijin kepada Shifa sih untuk membawa kekasihnya menginap?" wanita itu terlihat emosi dan menepis genggaman tangan suaminya.
"Lalu kau mau apa melarangnya? begitu, Shifa itu keras kepala dia tidak akan mau mendengarkan kata-katamu juga si Noval novela itu sudah meminta ijin pada Papaku."
"Sepertinya kau sangat mengenal Shifa!." sinis Shafana yang hanya di tanggapi datar oleh Kenan.
Kenan mendekatkan diri kearah istrinya yang kini hanya membatu di tempatnya. Anehnya Fana tidak menjauhkan tubuhnya meskipun dirinya merasa risih. Justru Shafana malah menikmati aroma tubuh dari suaminya yang selalu menguarkan aroma wangi yang nyaman untuk ia nikmati.
"Tapi jika ayah mengetahui Shifa membuat pesta di rumah ini, dia akan marah."
"Tidak bisakah kau diam saja? Kau tidak usah mengadu pada ayahmu. Aku sangat tidak menyukai orang yang suka mengadu." ungkap Kenan jujur.
"Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku." skak matt, Shafana selalu memiliki jawaban atas ucapan Kenan.
"Daripada kau terus cerewet lebih baik kau obati lukaku." Kenan membuka kemejanya di hadapan wanita itu dengan gaya santai. Fana membulatkan matanya dengan wajah yang terasa panas, Kenan menikmati reaksi yang di perlihatkan istrinya pipi itu tampak merah merona layaknya tomat yang siap panen.
"Lain kali mulutmu harus aku tempel lakban, agar gigimu tidak melukaiku!" kalimat Kenan seakan menyadarkan Fana dari tindakan mata liarnya.
"Gigiku?" Fana spontan menyengirkan giginya ke depan cermin.
"Ya gigimu melukai pundakku juga dada dan lenganku." Kenan menurunkan kan tangan seksih yang berada di hadapannya. "Lihat ini!" pria itu menunjukan beberapa bekas gigitan di dada dan lengannya.
__ADS_1
"Kapan aku melukainya?" Fana masih dengan pikirannya yang belum terkoneksi. Tentu saja Shafana tidak menyadari tindakannya karna ia melakukan itu di bawah kesadarannya saat sedang di terbangkan.
Kenan semakin memajukan tubuhnya sampai lutut keduanya bersentuhan.
"Menjauhlah."
"Kenapa kau menyuruhku menjauh, padahal kau sendiri bisa menjauh." Fana refleks mundur satu langkah karna pinggangnya di tahan tangan besar milik Kenan.
Kenan malah mendekatkan dan memiringkan wajahnya menenui telinga istrinya, Shafana yakin jika barusan Kenan telah mengecup daun telinyanya.
"Ken, jangan lancang! Di rumah ini bukan hanya ada kita bagai mana jika Shifa tiba-tiba maduk kemari, pintunya tidak di kunci." Kenan hanya mengulum senyum saat ia menyadari istrinya menggigil dalam dekapannya Fana juga gelisah terbukti dengan kakinya yang tidak bisa diam mengetuk-ngetuk lantai yang ia pijak..
"Maksudmu, aku harus mengunci pintunya agar aku bisa berbuat lancang padamu?"
"Bukan itu maksudku."
"Lalu?" Kenan mengecup bibir istrinya "kunci pintunya dan obati lukaku. Kau harus bertanggung jawab atas yang kau perbuat pada diriku." Kenan melepas rengkuhannya dan berjalan menuju ranjang.
Shafana mengunci duakali pintu kamarnya dan saat ia berbalik, suaminya sudah tertelungkup di atas ranjangnya menyodorkan satu buah salep.
"Naik lah!"
Shafana langsung menaiki punggung Kenan, Suaminya sangat terkejut hingga ia terbatuk-batuk.
__ADS_1
"A-apa aku berat?" Fana kembali turun dari tubuh itu.
"Kenapa kau menaiki tubuhku?"
"Kau yang menyuruhnya." ucapnya tak acuh dan segera mengoles luka cakaran di punghung suaminya dengan perlahan.
"Awww. .." secara alami Kenan meringis perih. "Aku menyuruhmu naik ke tempat tidur bukan ke atas tubuhku." Fana hanya mencebik kesal.
Saat Kenan meringis Fana kembali meniup lukanya, sampai Kenan menejamkan mata merasakan rasa yang timbul selain rasa perih.
"Jangan meniupnya."
"Ya."
"Apa sudah selesai?"
"Sudah, aku akan tidur."
"Kau tidak boleh tidur."
"Kenapa? Kau bilang pada Shifa kita harus istrirahat, kenapa sekarang justru kau melarangku tidur."
Kenan merubah posisinya jadi terlentang dan mengambil satu tangan istrinya dan menyentuhkannya pada bukti gairahnya yang kini sudah tegak menantang.
__ADS_1
"Setidaknya tidurkan dulu milikku." disertai senyuman penuh maksud.