
Kenan dan Shafana berjalan-jalan mengelilingi kebun binatang karna istrinya yang ngotot mengajaknya ke sana. Mau tak mau Kenan menuruti, seakan tidak ada pegalnya Fana sangat bersemangat mengitari seluruh sudut kebun binatang tanpa satupun yang enggan ia lewati.
"Minumlah!" Kenan menyudorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutup botol dari kemasannya.
Shafana meraihnya dan segera meneguknya, ia berpikir seandainya saja sikaf manis Kenan bertahan lama, namun sayang pria itu sering berubah-ubah layaknya bunglon.
"Ken, kau diamlah di sini aku ingin memberi makan kuda poni itu." tunjuk Fana dan segera berlalu, Fana membeli seikat rumput dan menberi makan hewan menggemaskan berwarna putih dengan rambut berjambul panjang dahi kepala hingga ke punggungnya.
Binatang yang sangat lucu.
"Duduk, dan minum dulu setelah ini kita cari makan." Kenan kembali menyerahkan botol minuman yang langsung Fana teguk hingga air dalam botol itu tandas berpindah ke tenggorokan Fana.
"Aku makan mie dalam cap saja."
"Jangan itu tidak sehat Fana," seumur-umur Kenan belum pernah mencicipi makanan itu.
"Aku sangat lapar akan sangat lama jika mencari tempat makan terlebih dahulu." Fana tetap memesan Mie dalam cup yang di seduh menggunakan air panas, tak sulit mendapatkan makanan itu karna memang penjualnya bertebaran di area kebun binatang itu.
"Cobalah." Fana menyerahkan satu cup mie yang di sertai dengan potongan sosis di dalamnya.
Ragu-ragu Kenan meraoh makanan itu.
"Makanlah, hanya satu porsi tak akan membuatmu mati Ken." Fana meniup mie yang mengepulkan asap dan segera melahapnya dengan sangat antusias, Kenanpun melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Bagai mana rasanya.?"
"Tidak terlalu buruk."
"Kau menyukainya?"
"Lumayan." Kenan melanjutkan makanannya di selingi minuman es teh manis. "Setelah ini kita makan di resto milikmu ya." usul Kenan.
"Boleh."
Keduanya melanjutkan makan dan seperti permintaan Kenan keduanya mampir di salah satu Caffe milik Fana.
Saat keduanya tengah makan ada seorang pria yang mendatangi Kenan.
"Iya. Kau apa kabar? Sudah seminggu kita tidak bertemu." Kenan berdiri dari duduknya dan memeluk tubuh sahabatnya menepuk pelan bahu masing-masing secara bergantian.
"Kau." Eldy kaget dan reflek menunjuk, sedangkan Fana hanya memutar bola matanya malas.
"Kau makan dengannya Ken?" Kenan gelagapan, ia bingung untuk menjawab Kenan belum siap jika ada orang lain mengetahui hubungannya dengan Shafana.
"Kau itu benar-benar Ken, mengajak makan si Culun di Caffe mewah ini." Eldy tidak mengetahui jika tempatnya makan saat ini ownernya adalah Fana.
"Dia yang mengajakku makan di sini." Kenan mengelak.
__ADS_1
"Kau itu kejam sekali Ken, kau tidak kasihan padanya bagai mana jika ia tidak bisa membayar" Eldy berbisik pada Kenan tapi Fana masih bisa mendengar kalimat yang Eldy ucapkan. "Biarkan aku yang meneraktirmu dan kau kali ini." Eldy ingin mendapat pujian dari Fana sengaja ia mengeraskan suaranya.
"Tidak usah, kau makanlah sepuasnya Eldy kau tidak usah membayar." Fana sedikit tersinggung dengan kalimat Eldy tadi.
"Jangan seperti itu Moza, makanan dan minuman di tempat ini sangat mahal."
"Tidak apa, kau bisa memesan sepuasmu."
"Memangnya kau mempunyai banyak uang untuk membayar?" Kenan menendang tulang kering Eldy yang langsung meringis kesakitan.
"Kau taukan Caffe ini namanya apa?" tanya Kenan.
"Moza."
"Ini Caffe milik si culun itu bodoh." Kenan berbicara dengan pelan tapi kata demi katanya ia tekankan.
"Miliknya.?" tanya Eldy dengan pertanyaan bodohnya.
"Kupikir kau hanya bodoh, ternyata kau juga tuli." Dengkus Kenan.
"Caffe ini sungguh milik si Culun.?"
"Iya, itu sebabnya Caffe ini bernama Moza, kan nama si Culun itu Shafana Moza." Kenan berbisik.
__ADS_1
Astagha Eldy merasa sangat malu wajahnya langsung memerah seketika, orang yang ia anggap remeh ternyata pemilik dari Caffe itu, ya tuhan rasanya ia sudah tidak memiliki muka. Kenan menyadari apa yang di rasakan sahabatnya ia segera mencari topik lain agar Eldy tidak merasa di permalukan.