Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Arven mati


__ADS_3

"Kemana Fana? Kenapa jalannya cepat sekali?" Kenan mencari keradaan istrinya yang berjalan sangat cepat sampai Kenan tak melihat kemana perginya wanita itu.


Akhirnya Kenan memutuskan untuk pergi kekantor saat itu juga.


Fana sedang berada di Caffenya yang tak jauh dari rumah sakit.


Fana memanggil pegawai wanita yang juga orang kepercayaannya. Dan hanya wanita yang bernama Jessa itu yang berani masuk ke ruangannya.


"Jess, kemarin kau memberi makan Arven kan?" Arven di sini adalah seekor ikan arwana berwarna silver, yang berada di akuarium di ruangan Fana.


Ada asal usul jenapa Fana memberi nama Arven. Ikan itu hadiah dari salah satu pelanggannya sudah lebih dari tiga tahun ikan itu ia pelihara di Caffenya. Ikan itu memang berjenis kelamin jantan meskipun Fana tidak melihat kelaminn dari ikan itu tapi ia mempercayai jika ikannya jantan, setidaknya itulah yang di katakan pemiliknya dulu. Dan di saat Fana bingung memberi nama siapa ikan barunya Fana menemukan sebuah tag nama di meja yang sedang di bersihkan pegawainya, di sana tertulis Arven dan Fana langsung menamai ikan arwana itu dengan nama Arven, jadi bukan salahnya jika ikannya bernama sama dengan asisten suaminya.


"Iya, Nona kemarin saya memberinya makan. Juga tadi pagi saya mengganti airnya di bantu dengan Theo dan saya juga memberi makan." Pegawainya menjawab juga ikut meneliti ikan atasannya yang tampak diam saja.


"Tapi kenapa Arven tak selincah biasanya?" Fana memberi makan ikan itu tapi Arven hanya diam, Fana merasa heran biasanya ikan iku akan langsung melahapnya, tapi kali ini tidak.


Ikan arwana berwarna silver dengan panjang 42 Centi meter itu terlihat tidak berdaya padahal kemarin sepertinya ikan itu baik-baik saja, Fana jadi merasa bersalah karna kemarin tak memberi ikannya secara langsung.


"Apa ikannya sakit Jess?" Fana tak mengalihkan tatapannya, ia ketuk beberapa kali kaca akuarium itu tapi Arven tidak meresponnya.


"Saya tida tau Nona."


Tiba-tiba ponselnya berdering,


"Kau di mana Fana?" terdengar Ayahnya memanggil di sebrang sana.


"Aku di Caffe Ayah, ada apa?"

__ADS_1


"Cepat kemari jaga adikmu. Ayah ada urusan sebentar."


"Ikanku sakit, aku harus mengobatinya." Fana memprotes.


"Apa bagimu lebih penting seekor ikan di banding adikmu sendiri?" Ayahnya terdengar kesal saat mendengar alasan konyol puti sulungnya.


"Baiklah. Aku akan tiba 15 menit lagi." Dengan berat hati Fana meninggalkan ikannya.


"Arven maafkan aku! Adikku sedang sakit, jadi kau cepat pulih ya biar aktif lagi." Fana mengetuk-ngetuk lagi kaca akuariumnya.


"Jes, kabari aku ya jika ada apa-apa."


"Baik Nona."


.


"Arven mana berkas untuk rapat siang ini!"


"Maaf. Tuan saya belum menyelesaikannya." pria muda itu menundukan kepala penuh sesal. Tadi ia merasa pusing jadi ia meminum obat dan tertidur sebentar di mejanya.


"Maaf, kau bilang. Apa dengan maaf semuanya akan selesai, rapat di mulai 15 menit lagi tapi kenapa kau sangat tidak bertanggung jawab." Seperti biasa Kenan murka jika pekerjaan siapapun yang di pimpin olehnya belum selesai di kerjakan.


"Maaf Tuan kepala saya tadi sedikit pusing. Itu sebabnya saya terlanbat mengerjakannya, saya meminum obat dan ketiduran." Arven terlihat menyesal ini pertama kalinya Arven lalai dalam tugasnya.


"Mati saja kau."


Kenan meninggalkan Asistennya dan membawa laptop sang asistennya untuk ia kerjakan sendiri. Beruntung masih ada beberapa menit untuk mengerjakan beberapa berkas yang ia butuhkan. Saat rapatpun ia pergi sendiri, sampai rapatnya usai ia segera menghubungi istrinya dan ternyata berada di rumah sakit.

__ADS_1


.


Kenan kerumah sakit. Dan lansung memasuki ruang inap adik iparnya. Ia melihat Fana tengah duduk termenung memegang ponselnya dengan mata berkaca-kaca.


"Fana." Kenan menghampiri istrinya dan secara tiba-tiba Fana memeluk suaminya dengan erat ia menangis di pelukan suaminya sampai kemeja yang Kenan kenakan ikut basah.


"Kau ini kenapa?" Kefnan mencoba mengurai pelukan tapi Fana semakin memeluknya erat.


"Hey, kau kenapa?"


"Ken."


"Shifa, kau apakan istriku?" Kenan menatap tajam adik iparnya.


"Tidak, tidak aku tidak melakukan apapun sungguh." Dhifa menyangkalnya.


"Ken."


"Katakan kau kenapa? Hmmm?" Kenan berbicara lembut.


"Arven Ken!"


"Arven? Ada apa dengannya?"


"Arven mati. Ken!"


Degg ...

__ADS_1


__ADS_2