
Pagi harinya setelah melewati malam panas, Shafana terbangun dalam keadaan polos, di sampingnya sudah kosong entah kemana Kenan pergi? Mungkin saja pria itu sudah pergi bekerja atau pergi meninggalkan istrinya begitu saja sungguh Fana tidak tahu.
Untuk sesaat Fana terdiam dalam lamunannya dengan memeluk tubuhnya sendiri yang kini hanya terbalut sehelai selimut, tanpa sengaja ia melihat sebercak noda darah di seprai putihnya pertanda ia sudah resmi menjadi mantan perawan. Kembali teringat kejadian semalam membuat seluruh permukaan wajahnya memanas seketika, ulasan tentang bagaimana suaminya menggagahinya hingga berulang kali benar-benar membuat dirinya merasa tersipu.
"Kau sudah bangun?"
Sebuah suara berat yang tiba-tiba terdengar seksi di telinganya membuat Fana mengalihkan tatapan ke sumber suara dengan bulu kuduknya rang meremang. Terlihat tubuh tegap itu menghampirinya dengan dada terbuka nampak menantang untuk ia sentuh, jangan lupakan sisa-sisa air yang menetes dari rambut pria itu menambah pesona Kenan.
Kenan masih sibuk dengan menggosok rambut yang setengah basah di kepalanya menggunakan handuk kecil yang tersampir di bahunya.
"Kau, kau tidak bekerja?" Shafana bertanya gugup.
"Ini weekend, untuk apa aku berkerja? Lagi pula aku sudah kaya sejak lahir."
Shafana menegak salivanya dengan susah payah saat suaminya menuju ke arahnya.
"Kau mau mandi sekarang?"
Fana hanya diam, dalam hatinya ia bertanya-tanya mengapa bisa Kenan setenang itu, satelah semalam mereka melakukan hubungan badan, apa mungkin Kenan melakukannya dalam keadaan tidak sadar katna mabuk.
"Apa semalam kau minum?"
__ADS_1
"Ya, semalam aku minum beberapa gelas." ucapnya tenang denga ekpresi datarnya.
Ternyata benar dugaan Fana jika suaminya melakukan itu dalam keadaan mabuk, wajar saja, jika semalam Kenan sadar tidak mungkin pria itu menidurinya.
"Pantas saja." ungkap Fana lirih, tapi Kenan mendengar nada kecrwa di sana.
"Aku memang minum. Tapi aku tidak mabuk, aku masih ingat bagaimana dan apa saja yang telah kita lewati tadi malam." Fana mendongak menatap ndtra suaminya.
"Kau mengingatnya?"
"Tentu saja, aku tidak pernah membiarkan alkohol atau apapun mengambil alih kesadaranku." Kenan menatap balik mata istrinya, yang kini menampilkan wajah sendunya.
"Lebih baik, kau lupakan saja apa yang kita lakukan semalam aku juga akan melakukan hal yang sama. Jika saatnya tiba nanti kau boleh menceraikanku." Fana hendak bernanjak dari duduknya.
"Apa kau bilang? Ingin melupakan kejadian semalam." tanyanya tak percaya.
"Ya. Bahkan aku sudah melupakannya." sengit wanita itu.
Kenan merasa tak terima dengan pernyataan istrinya, dan segera menarik tubuh mungil istrinya hingga terbaring di ranjangnya dan segera mengungkungnya kembali.
"Beraninya kau melupakannya. Baiklah biar ku ingatkan kembali apa saja yang kita lakukan semalam." Kenan langsung menyerang tubuh istrinya kembali. Menikmati tubuh mungil itu dengan gairah yang menggebu.
__ADS_1
Dengan keadaan yang sama-sama polos kenan kembali memulai keinginannya yang sempat ia tahan tadi pagi saat ia terbamgun dari tidurnya.k
Sekuat apapun Shafana mengelak pada akhinya ia hanya bisa pasrah di bawah kuasa suaminya yang sedang menuntaskan hasrat biologisnya pada sang istri, Kenan akui tubuh ini begitu enak dan memabukan. Memang ini bukan kali pertama Kenan melakukan penyatuan, Kenan pernah melakukan hal ini beberapa kali dengan mantan kekasihnya dulu, tapi Kenan berani bersumpah jika kali ini dia sangat tenang melakukannya tidak di campuri rasa khawatir sama sekali meskipun ia melakukannya tanpa pengaman mengeluarkannya di dalam, sungguh kapanpun Kenan sudah siap jika ia harus menjadi ayah diusia mudanya.
"Berisik." Kenan memprotes. Shafana terus mendesahh di bawah kuasanya dan bahkan sesekali berteriak menyerukan namanya.
Seketika Fana membungkam mulutnya menggunakan tangan kanannya. Apa pria di atasnya tidak faham bagai mana rasanya. Sedangkan Kenan hanya menggeram berat sebagai ungkapan rasa yang menghinggapi dirinya.
"Ken!!!!"
Terdengar panggilan dari luar di sertai ketukan pintu.
"Mengganggu saja." Kenan mendengus kesal.
"Ken, ada Mama. Menyingkirlah!"
"Tidak bisa, aku belum sampai. Biarkan saja Mama menunggu di luar."
Mamanya terus-terusan mengetuk pintu tanpa tau situasi keadaan sepasang manusia di dalam kamar itu.
"Ken!!" lagi-lagi Mamanya memanggil.
__ADS_1
"Ken, sepertinya penting Mama terus memanggil."
"Aku tidak perduli, jangan merusak kosentrasiku, lebih baik kau ikut bergerak sepaya aku cepat sampai." Kenan terus memacu pinggullnya dengan sangat semangat.