Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
menyendiri


__ADS_3

Keduanya pamit pada Mama Lily, dan mengendarai mobil yang dikemudikan langsung oleh Kenan.


Tempat acara kali ini diadakan di salah satu hotel mewah di ibu kota, yang kebetulan pemilik hotel ini adalah ayah dari teman mereka yang menjabat sebagai ketua tim basket di sekolah mereka dulu, dia adalah Eldy, Eldy juga adalah tetua yang dulu selalu menghina Shafana, bahkan pria yang bernama Eldy itu pernah menyiram tubuh Fana menggunakan air pel.


Tidak ada berbincangan di mobil itu, yang ada hanya keheningan yang menemani mereka, Kenan fokus mengemudi sedangkan Shafana hanya mengalihkan pandang keluar jendela.


"Ingat ini. Disana kau harus jaga sikap. Jangan mempermalukan aku, jangan menyapaku, dan jangan mengajak aku berbicara, menjauhlah semampu yang kau bisa." Kenan memberikan Rambu-rambu yang harus di lakukan Shafana di acara peta nanti.


"Kau mendengarku tidak? Atau telingamu tak berguna hanya sekedar menempel tanpa ada gunanya sama sekali." Shafana masih membisu ia enggan untuk berdebat atau hanya sekedar menyauti perkataan Kenan. Sampai-sampai kenan merasa jengkel dengan kebisuan Shafana.


Saat sudah sampai di tempat parkir Kenan memarkirkan mobilnya, dan segera membuka sabuk pengaman, sedangkan Fana masih bergeming di kursinya tanpa berniat beranjak sedikitpun.


"Turun!"


"Turun! Kau tuli?" Entah sudah berapa kali Kenan mengatakan tuli padanya.


"Pergilah! Aku menyusulmu nanti"


"Pergilah!"


"Terserah." Sentaknya, Kenanpun turun dari mobil seorang diri, ia membanting pintu mobil dengan sangat keras, meskipun ia sedikit tak enak tapi ia segera menepisnya lagi pula keinginan si culun untuk tetap tinggal di mobilnya.

__ADS_1


Pesta di adakan di ballroom hotel luxury , salah satu hotel bintang lima, termewah yang ada di kota tersebut. Tema yang di gunakan adalah gorden pool yang mana dekorannya sangat mewah dan berkelas, di tengah ada kolam renang yang di biasi dengan beberapa balon dan lilin.


Kenan menghampiri teman-temannya, berjaba tangan, pelukan serta ciuman pipi adalah hal yang wajar yang di lakukan Kenan untuk menyapa temam-teman lamanya, setelah beberapa saat berbasa-basi Kenan mendatangi Eldy sahabatnya waktu mereka sekolah dulu.


"Hey Bro.. Bagai mana indahkan pestanya."


"Hmm, ya kau pandai dalam hal mendekor."


"Lihatlah siapa yang datang!"


Kenan mengikuti kemana Eldi menunjukan tangannya, di sana ada seorang gadis cantik yang berbalut gaun berwarna violet dengan mahkota kecil di kepalanya, gadis itu adalah Shifani Moza.


"Hai, Tetimakasih atas pujiannya." Shifa tampak merona menanggapi pujian temannya.


"Kau berbincanglah dulu dengan Kenan, aku akan mengambil minum lebih dulu."


Eldy meninggalkan keduanya dalam kecanggungan.


"Ken, dimana kak Fana? Jangan bilang dia tidak ikut lagi, atau kau sengaja melarangnya ikut ke acara pesta ini karna kau malu, malu untuk mengakui jika kau sudah menikah dengan Kak Fana."


"Bukan urusanmu, oh ya di mana kekasih hati, yang katamu sangat kau cintai? Sampai kau melarikan diri di hari kita menikah. Atau dia sudah bosan padamu dan pergi dengan gadis lain." Kenan menyeringai penuh ledekan.

__ADS_1


"Dia ada urusan, kenapa saat membahas Noval kau seperti sangat tidak menyukai kekasihku itu"


"Ya aku memang tidak menyukainya."


"Ayolah, Ken kau sudah menikah dengan kakakku, sebaiknya kau move on dariku, kami ini saling mencintai"


"Cih, saling mencintai, mungkin kau saja yang mencintainya, sedangkan penerus Hillatop itu selalu mencintai setiap gadis yang ia temui."


Shifa meradang mendengar ucapan kakak iparnya. "Berhenti mengatakan seolah-olah kau sangat mengenal Noval, urus saja istrimu fokuslah memperbaiki penampilannya agar lain kali kau tidak merasa malu saat mengajaknya ketempat ramai seperti ini." Shifa tertawa penuh kemenangan.


"Aku memang mengenal pria breng sek itu, bersiap siaplah kuatkan hatimu jika kemungkinan terbenarnya kau akan segera di campakan pria itu."


"Kau!"


Eldy menghampiri keduanya yang tengah melempar tatapan tajan, tangan Shifa bahkan mengepal kan telapak tangannya dengan sangat erat, menahan emosi atas perkataan kakak iparnya. Dia pikir siapa dia betani-beraninya menjelekan Noval di hadapan kekasihnya srndiri, dasar gagal move on.


.


Fana menyusul Kenan seorang diri ia enggan untuk berbaur dengan teman-temannya yang tidak pernah menganggapnya ada, akhirnya ia hanya berdiri di pojok ruang pesta sendirian.


Fana lebih memilih duduk termenung dari pada menghampiri orang lain

__ADS_1


__ADS_2