Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tidak mungkin


__ADS_3

"Kau pikir kau hebat bisa mengaturku. Berkacalah Fana. Aku berbuat baik padamu hanya karna orang tuaku jangan besar kepala kau. Kau merasa cantik begitu, jangan lupakan bagai mana awalnya kita menikah." Kenan kembali membentak Fana, menoyor kembali keningnya. Sepertinya emosinya benar-benar keluar kali ini.


Meskipun tidak sakit akan toyoran di kepalanya tapi berhasil meremukan perasaannya.


"Tuan. Anda mabuk." Arven berusaha meredakan amarah atasannya.


"Diam Arven, berkali-kali wanita Culun itu menyuruhku memecat temanku sendiri. Dia pikir aku sangat menurut padanya. Dia pikir dirinya cantik berlaku begitu." Kenan berbicara pada pilar yang dia pikir adalah Arven yang berubah jadi dua.


"Aku pusing. Dimi juga mengatakan wanita itu mendatanginya dan memakinya tadi pagi." Papar Kenan.


"Aku memang mendatanginya tapi aku tidak memakinya." sanggah Fana.


"Diam Kau!"


"Aku akan tetap membiarkan dia bekerja di kantorku. Jika kau keberatan kau boleh pergi dari rumahku." usir Kenan akhirnya.


"Baru beberapa bulan kau menjadi istriku sudah sudah belagu. Dia saja yang sudah bertahun-tahun bersamaku menghomati dan menghargai aku, hanya karna aku memujimu setelah bercinta kau jangan besar kepala, aku selalu melakukan itu setelah bercinta dengan mantan kekasihku. Dasar tidak tau di ..." Kenan tak dapat melanjutkan ucapanya.


Bugh ...

__ADS_1


Arven melayangkan bogeman mentahnya, "Aku bilang kau sedang mabuk maka hentikan omong kosongmu."


"Maaf, Nona Moza, Tuan Kenan memang seperti itu jika tengah mabuk berat, bahkan Tuan pernah memukuli Tuan Luki." Aku Arven jujur.


Arven menarik tubuh Kenan tapi Kenan memberontak, Bak mendapat kekuatan badak Arven dibuat tidak berkutik.


"Kau lihat karna hanya membelamu Arven melukaiku. Arven aku memecatmu. Harusnya kau bersukur karna menikah denganku atau kau akan menjadi perawan tua yang buruk rupa."


"Cukup Kenan, cukup. Kau tidak perlu memecat Dimi atau siapapun. Tadinya ku pikir Dimi yang akan menghancurkan pernikahan kita. Tapi ternyata yang menghancurkan rumah tangga kita adalah Kau sendiri Ken. Aku akan mengajukan surat gugatan cerai untukmu. Dan aku juga akan pergi malam ini juga dari rumahmu." Sekuat mungkin Fana menahan air matanya agar tidak jatuh.


Entah apa yang Dimi katakan pada suaminya sampai Kenan semurka itu padanya. Mulut pedas dan hinaan Kenan membanting jiwa Fana hingga ke dasar.


"Lakukan apapun wanita sundall, pergi yang jauh." Kenan membanting tubuhnya di atas kursi sofa.


Fana meraih kunci mobilnya dan berniat pergi. Tapi Arven menahan langkah kakinya.


"Biar ku antar Nona."


"Tidak usah, Arven aku bisa sendiri."

__ADS_1


Meski di larang tapi Arven tetap memaksa ia mengikuti mobil Nonanya dari belakang. Fana pulang ke rumah Ayahnya. Fana tidak menceritakan kemalangan yang menimpanya. Masih untung Kenan tidak menganiaiannya.


.


Saat menjelang siang Kenan terbangun karna perutnya yang lapar.


Ia di buat heran kenapa ia tertidur di ruang tengah. Ada yang janggal. Meskipun masih pusing ia mencari keberadaan istrinya tapi tak kunjung di temukan.


Akhirnya Kenan memanggil pelayan karna tidak bisa mengingat apapun. Ternyata semalam ia mabuk berat.


Pelayan Kenan memaparkan apa yang di lihat dan di dengarnya.


"Tidak mungkin." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Jangan berbohong padaku siallan atau ku penggal kepalamu." Kenan menjambak rambut pelayan wanita yang sudah mulai tua.


"Tuan cek saja CCTV. Dan lihat bibir Tuan juga berdarah, Asisten Arven yang memukul Tuan." ucap pelayan itu ketakutan.


.

__ADS_1


__ADS_2