Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Bingung


__ADS_3

"Arven mati. Ken." Kalimat itu sukses menbuat Kenan sekaku batu. Benarkah asistennya mati?


Kenan mengerjapkan matanya beberapa kali mencoba mengoreksi pendengarannya, mengkin saja ia dalah dengar.


Dengan tidak sabar Kenan meraih pundak Fana yang menempel erat di dadanya, Ya Kenan tidak punya pilihan lain selain memaksa melepas pelukan istrinya supaya lebih jelas ia mendengarkan.


"Katakan siapa yang mati?" Kenan segera bertanya, tidak sabar menunggu jawabasn istrinya. Hatinya berharap semoga bukan nama Arven yang keluar dari mulut istrinya, Kenan memiliki salah pada asistennya itu, ia membentak serta memarahi asistennya karna tugasnya yang tidak selesai tepat waktu. Padahal Arven sudah mengatakan jika ia sedang tidak sehat tapi Kenan tetap memarahinya dan apa tadi ...


Kenan menyumpahi asistennya mati, yaTuhan Kenan tidak sungguh-sungguh saat mengatakan itu. Kata-kata itu keluar begitu saja saat dirinya tengah kesal akan sesuatu tolong kuping untuk kali ini saja semoga kau salah dengar pinta Kenan dalam hati.


"Arven Ken, Arven mati."


"Arven?"


"Ya Ken, Arven mati, tadi dia sepertinya sedikit sakit dan sekarang dia telah mati."


Cluss.


Hati Kenan mencelos seketika, bayangan akan dirinya memaki dan membentak Arven berputar kembali. Pria tinggi itu tidak membantah sama sekali atau melakukan pembelaan saat Kenan memarahinya habis-habisan.


"Dari mana kau tau jika Arven mati?" Kenan masih berusaha menyangkal.


"Ada orang yang menghubungiku. Bahkan orang itu mengirimkan bukti jika Arven sudah mati." Fana masih bercucuran air mata mengingat foto ikannya mengambang di permukaan air akuarium.


"Apa orang itu dapat di percaya?"

__ADS_1


"Ya Ken."


Kenan yang sibuk menyesal sampai lupa untuk melihat foto yang di maksud Fana.


"Maafkan aku Arven."


"Padahal tadi Arven hanya sedikit sakit dan ku kira dia baik-baik saja." Kenan bergunam pelan sampai Fana tak bisa mendengarnya.


"Aku belum sempat meminta maaf padanya." Kenan menyesali ucapan kasarnya tadi, bisa di katakan ini kali pertama ia menyesal telah memarahi Arven, padahal penuda itu sangat patuh padanya.


"Aku sudah cukup lama mengagumi dan menyayangi sosok Arven, tapi dia meninggalkanku lebih dulu. Aku menyesal tidak menemaninya kemarin saat waktunya makan." Fana semakin terisak.


Kenan melotot mendengarnya. Belum selesai keterkejutannya akan kematian Arven, istrinya malah mengakui menyayangi dan dan mengagumi sudah pasti Fana menyukai Arven kan? Tapi kenapa tidak bilang sejak awal.


Fana mengangukan kepalanya cepat, ia juga menyusut hidungnya yang mengeluarkan cairan bening.


"Kenapa kau tidak bilang sejak awal?"


"Untuk apa?" Fana terlihat sedih.


"Lalu apa Arven menyukaimu?" Kenan bertanya was-was.


"Sepertinya iya, saat aku datang ia selalu melihat ke arahku." Fana berterus terang.


"Kau sungguh menyukai Arven?"

__ADS_1


"Iya Ken."


"Kapan kalian pertama kali berjumpa?"


"Tiga tahun lalu."


"Kenapa tidak bilang jika kau menyukai Arven? Jika kau bilang mungkin kalian sudah memiliki hubungan sekarang." sentaknya.


"Hubungan? Kenapa kau berbicara seperti itu?"


"Kau bilang kau menyukai Arven itu artinya kau tertarik pada Arven dan itu cukup untuk memulai hubungan."


"Tertarik saja tidak cukup untuk memulai sebuah hubungan karna Arven ... " Fana menghentikan tangisannya ia menyadari jika suaminya tengah salah paham akan nama Arven yang mati. Pasti Kenan mengira Arven yang di maksud adalah asistennya.


Jujur saja ada rasa panas dalam jiwa Kenan, ada sebongkah rasa tak nyaman yang berusaha Kenang sangkal.


Shifa hanya duduk dan memperhatikan keduianya, ia masih terlalu lemas untuk terlibat di antara kakak dan kakak iparnya.


Itu saja tidak cukup untuk membuatnya tenang. Baiklah Kenan akan menunda kekesalannya pada Fana, ia lebih memilih merenungi kesalahannya.


"Arven adalah pemuda yang cerdas juga baik, aku bekerja sangat bagus juga rapi, dia mengikuti aku sudah 8 tahun. Tapi aku tadi memarahinya hanya karna hal sepele bahkan aku menyumpahinya mati. Padahal aku tidak bersungguh-sungguh waktu berkata itu, aku berdosa padanya aku bersalah, aku belum meminta maaf padanya. Aku menyesal Fana."


Kenan menundukan kepala, cairan bening keluar dari susut matanya. Fana dapat melihat penyesalan di wajah tampan itu.


Fana juga di buat bingung akan kata yang harus ia gunakan agar Kenan tidak marah dan bisa saja yang mati adalah dirinya.

__ADS_1


__ADS_2