Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Uhuk


__ADS_3

"Mulai sekarang ketuklah pintu saat memasuki kamarku! Ingat aku sudah menikah." Ucapan itu seakan mempertegas apa yang di lihat Papanya.


"Lanjutkan, Papa benar-benar tidak melihat apapun."


"Baiklah, Papa mertua, tolong tutup kembali pintunya kami akan melanjutkan kegiatan kami yang tertunda."


"Ah, ya tentu, tentu Nak kalian harus melanjutkannya, silahkan lanjutkan perang kalian!."


Luki kembali menutup pintu, meninggalkan anak dan menantunya.


Sebelum Kenan meluapkan amarahnya Fana segera berlalu memasuki kamar mandi. "Shafana Moza, beraninya kau!" Kenan berteriak sedangkan Shafana hanya terbahak, sampai tawanya terdengar di telinga Kenan.


Kenan mendorong pintu kamar mandi dan ternyata sudah di kunci wanita itu dari dalam, makian dan umpatan kasar Kenan tunjukan untuk Shafana, terdengar samar di rungu wanita itu karna ia sudah menyalakan kran air. Beberapa kali Kenan menggedor pintu kamar lalu setelahnya kembali hening, hanya ada suara gemercik air saja.


"Rasakan, kau pasti lelah kan mengedor kamar mandi terus menerus, jika mendobrakpun akan sia-sia, pintu kamar mandi ini sudah aku kunci dua kali di tambah dengan slot berteknologi." Sungguh puas ia dapat mengerjai suaminya.


DORR... DORR...


Dua bidikan Kenan letuskan ke arah kunci dan pintu kamar mandi langsung terbuka lebar. Tanpa menunda lagi Kenan masuk kedalam kamar mandi. Karna terkejut Shafana langsung mengangkat tangan keatas dan ia letakan di belakang kepala, wanita itu tidak menyadari jika dirinya sedang basah kuyup, bahkan air dari sowerpun masih menghujani tubuh polosnya yang membatu.


Kenan tertegun melihat tubuh telanjang di hadapannya yang mengkilat karna basah, isi di balik pakaian kuno yang selalu Shafana kenakan benar-benar menyimpan keindahan yang nyata. Tubuh yang mulus seputih susu tanpa celah, hanya terdapat satu titik tahi lalat di sebelah atas bagian kiri keintiman gadis itu, seakan tak puas Kenan lagi-lagi menyapu tubuh indah itu dengan kedua indranya, menilai dengan seksama, Astagha Kenan tidak percaya ini jika tidak melihatnya langsung, kelembutan si culun itu ternyata lebih besar dari perkiraannya terlihat sintal, mengkal dan menantang.


Belum puas Kenan menikmati hal menakjubkan ini tiba-tiba sudah terdengar pintu terbuka dengan kasar, dan seketika suara menyapa pendengarannya Kenan meyakini itu Papa dan Mamanya. Kenan meraih handuk dan membungkus tubuh basah istrinya yang masih belum sadar dari keterkejutannya, dengan sigap ia mematikan shower.


"Ada apa? Kami mendengar suara tembakan Ken?"


Ingin mengelakpun rasanya percuma, pistol masih di genggamannya.


"A-Anu Ma." Kenan menyembunyikan Shafana di belakang tubuhnya, tak ingin tubuh setengah polos Shafana bisa di lihat oleh orang lain meskipun orang tuanya sendiri.


"Kenapa kau bermain-main dengan pistol? jangan katakan... " Papanya tidak melanjutkan ucapannya saat melihat Engsel pintu tercerai berai, ia menebak itu ulah anaknya untuk menakuti menantunya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa besok pintunya akan benar kembali."


"Ken, harusnya kau menggunakan pistol yang lain jika berperang dengan istrimu." Mamanya masi mencoba mencari tubuh menantunya yang di sembunyikan sang putra di balik tubuh kekarnya. Hanya terlihat kaki serta betis telanjang menantunya di mata Mama Lily.


"Apa yang Mama cari? ayo kita pergi" Ajak sang Papa.


"Fana Are you oke?"


Hening. Tidak ada jawaban.


"Mama jangan bertanya macam-macam Fana pasti malu, masa di rumahnya sendiri tidak memiliki prifasi, di malam pertama di rumah ini di intai seperti ini." Kenan yang menjawab, karna ia tau Shafana masih dalam mode terkejut.


"Kau yang berulah Kenan."


"Ayo, jangan janggu mereka." Papa menyeret istrinya untuk meninggalkan pengantin baru itu.


"Ingat jangan kemari, meskipun menatu kalian meminta tolong."


Deg...


Shafana nenyadari keadaan, apa dinya akan mati malam ini? di rumah mertuanya dengan keadaan telanjang serta masih prawan. apa yang harus ia lakukan tidak akan ada yang bisa ia lakukan, semakin takut ia saat menyadari Kenan masih menggenggam pistol di tangan kanannya.


"Ampun Ken!"


"Ampun? tadi saja kau menantangku, sekarang kau malah terlihat seperti kerupuk yang terkena air langsung melempem."


"Aku tadi hanya bercanda."


"Bercandamu sungguh tidak lucu, bisa-bisanya kau memfitnah aku tertarik padamu, kau bukan seleraku."


"Sekali lagi kau berbuat seperti itu akan aku ledakan isi kepalamu." Kunan menoyor kening Shafana nenggunakan ujung pistol itu.

__ADS_1


Kenan kemudian meninggalkan istri culunnya karna sebenarnya ia tak tega melihat Shafana yang gemetar ketakutan, lagi pula dirinya tak yakin jika terus bersama gadis itu dirinya bisa mengendalikan Hasratnya yang sudah lama terpendam.


Kenan memang bukan seorang perjaka lagi, tapi ia juga bukan seorang Cassanova yang bisa menghabiskan malamnya bersama seorang wanita, dirinya hanya pernah bercinta dengan wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya. terhitung dia meliki dua mantan kekasih dan bisa di pastikan Kenan sudah mencicipi kedua mantannya.


"Aku yakin pasti kedua bukitnya sangat mengkal dan kenyal, tapi caranya meniup leher serta dadaku waktu itu, otakku mulai geser sepertinya atau setan mesum sedang merasukiku."


.


Empat orang berada di atas meja makan dua pasangan keluarga Moses yang berbeda usia tengah menikmati makan malam.


Dikarnakan Shafana kedinginan ia menggunakan pakaian yang berleher panjang sampai menutupi area leher jenjangnya sampai ke dagu.


"Makan yang banyak sayang kau membutuhkan tenaga yang Extra untuk melanjutkan ronde kalian nanti." Mama Lily mengguda menantunya.


Kenan mengutuk tindakan bodoh istrinya yang dengan sengaja memancing pikiran konyol ibu dan ayahnya.


Shafana menyadari godaan mama mertuanya dan hanya bisa meringis saat menyadari tatapan suaminya yang seakan menyalahkannya.


"Ma, Fana ingin mengakui sesuatu, sebenarnya, sebenarnya kami hanya tadi kami, kami... " Shafana mendadak gagu saat berbicara.


"Fana habiskan makananmu, jangan sampai Mama semakin mengolokku."


"Tapi aku harus menjelaskan hal tadi Ken."


"Sudahlah Mama Papaku juga pernah muda."


Papa dan Mamanya kompak mengulum senyum.


"Pa, sepertinya Kenan lebih perkasa darimu! "


Uhuk,, Uhuk..

__ADS_1


.


__ADS_2