Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tidur jika tidak ingin ku tiduri


__ADS_3

"Tidak mungkin Pa, Kenan tidak pernah membiarkan alkohol mengambil kendali diri Kenan, terakhir kali sebelum Kenan menikah, Kenan melakukan hubungan badan dengan Olive mantan kekasih Kenan, dan bisa Kenan pastikan dia tidak akan hamil anakku, aku selalu melakukannya dengan pengaman berkualitas dan terjamin, aku pun tidak akan lupa atau keliru karna aku melakukan dalam keadaan sadar. Jadi katakan apa yang wanita itu katakan pada kalian sampai kalian murka seperti ini."


"Gadis itu mengatakan tengah hamil dan menunjukan keterangan dari dokter serta foto hasil USG, dan yang menghamilinya adalah putraku Kenan Moses."


"Lalu kalian percaya begitu saja?"


"Kau yakin jika apa yang kau katakan adalah kebenaran?"


"Aku belum pernah seyakin ini, aku bisa mempertanggung jawabkan kata-kataku."


"Baiklah akan ku suruh gadis itu kemari beserta ayahnya."


"Dan soal tamparan tadi aku anggap sebagai hutang, Ma semua sudah jelas, aku akan ke kamar untuk menjelaskan kekeliruan ini, aku tidak ingin Shafana menganggapku sebagai pria tidak bertanggung jawab."


"Iya, Ken jika Fana meragukanmu beri tahu Mama. "


"Hmmm." Kenan hanya berdehem. "Ma katakan pada suamimu jika ingin melakukan sesuatu pastikan dulu kebenaran jangan gegabah mengambil tindakan."


"Salahkan saja si Niken mengapa datang kemari tiba-tiba mengaku hamil oleh putraku."


"Terserah,"


Papa Luki Sebenarnya merasa bersalah tapi ia memiliki ego yang tinggi untuk meminta maaf, alhasil Kenan masih kesal pada ayahnya.


.


"Mozaaa." Kenan memanggil istrinya yang tengah berdiri di depan jendela.


"Maaf membuatmu tak nyaman." Shafana merinding saat Kenan meminta maaf.


Shafana meraih rahang kenan menolehkan sedikit leher pria itu hingga terpampang jelas pipi kemerahan dengan sidik jari kelima ayah mertuanya berada di sana.


"Duduklah." Biar ku obati, Shafana menuntun suaminya ke tepi ranjang, ternyata Shafana sudah menggenggam sebuah salep anti memar di telapak tangan kirinya.


Baru Kenan mengerti Shafana adalah orang yang tulus, tanpa bertanya kebenaran atau kesalahannya dia tetap mengobatinya dengan hati-hati.


Saat jemari Shafana menyentuh kulit wajahnya yang terasa panas, Kenan memejamkan kedua matanya, bukan untuk menahan sakit, melainkan Kenan tengah menikmati sentuhan demi sentuhan yang Fana berikan.


"Mozaaa, apa yang kau dengar tadi adalah kesalah pahaman, aku benar-benar tidak mengenal siapa gadis itu, aku tidak pernah melakukan hubungan dengan orang lain yang bukan kekasihku, akupun selalu memakai pengaman saat melakukan itu. Lagipula sudah dua tahun lamanya aku tidak memiliki kekasih. sungguh kali ini aku tidak berdusta."


Entah ada dorongan dari mana sehingga Kenan menjelaskan semuanya yang ia yakini bahwa ia tidak salah dan Shafana harus mempercayainya.


"Berapa orang mantan kekasihmu yang telah kau tiduri?" Fana penasaran. "Maksudku jika di masa depan ada hal ini lagi aku bisa mengetahui kebenarannya."


Shafana membuang pandang karna masih kesal.

__ADS_1


"Dua orang, dan aku pastikan di antara mereka tidak pernah mengandung benihku. Untuk masalah tadi aku meminta Papa untuk mendatang wanita itu dan menemuimu."


"Itu tidak perlu Ken."


"Itu penting ku lakukan aku tidak ingin kau menganggapku sebagai pria yang tidak bertanggung jawab."


"Kau tidak ke kantor?"


"Tidak, hari ini aku meliburkan diri, lagi pula aku libur sehari tidak akan membuatku jatuh miskin."


"Aku mau pergi sebentar Ken."


"Kemana,?"


"Ke dokter gigi."


"Kau sakit gigi atau sakit hati."


"Tidak keduanya. Aku hanya akan mencopot kawat gigiku saja."


"Pergilah, jangan menyusahkan ku."


Datang lagi penyakit penyebalkan Kenan.


.


Niken terkejut saat melihat sosok pria tampan yang ia tebak usianya tidak jauh darinya. Niken masih terpana dengan jetampanan pria muda dihadapannya sampai ia tidak merespon bahwa Luki tengah bertanya padanya.


"Aku bertanya padamu. Apa kau mengenal pemuda di hadapanmu."


Niken menggelengkan kepala.


"Kau bilang kau hamil dengan putraku."


"Ya aku memang hamil dengan putramu."


"Putraku yang mana, aku hanya memiliki satu putra dan itu adalah Kenan Moses, pria tampan yang ada dihadapanmu."


Niken gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, bagai tak teraliri darah sama sekali.


"Lalu Siapa sebenarnya Pria yang menghamiliku, dia juga mengaku sebagai anakmu Kenan Moses dan memberikan alamat rumah ini." Niken terkejut ia bingung harus mencari kemana pria itu unyuk ia mintai pertanggung jawaban.


"Itu artinya kau telah di tipu." Ringan sekali Kenan mengatakan itu tanpa beban sama sekali.


"Karna Kenan palsu tidak ada saya mohon pak tolong nikahkan Kenan asli denhan putri saya." Pria setengah baya itu memohon pada Luki.

__ADS_1


"Enak saja, aku sudah menikah, aku akan menuntut kalian karna telah mencemari nama baikku." Kenan berujar sengit, dasar tidak tahu diri enak saja memintanya menikahi wanita tidak jelas sedang hamil pula.


Wajah pria paruh baya itu terlihat murung dan menyesal, berbeda saat tadi pagi ia datang ke rumah Kenan, yang di tampilkannya hanya senyum bangga dan penuh antusias, tadinya ia merasa bangga akan memiliki menantu seorang pewaris Moses tapi ternyata semua itu hanya mimpi saja.


Shafana tiba saat semua orang tengah berbicara, penampilannya kali ini benar-benar berbeda, tanpa pagar gigi, rambutnya di ikat asal berbentuk bun tapi ia menyisakan beberapa helai rambut bagian depannya, ingin rasanya Kenan mengelinapkan wajahnya diantara leher gadis itu, aroma mawar menguar dari tubuhnya.


"Mozaaa," Tanpa sadar Kenan memanggilnya.


"Ini menatu kami, maaf kalian boleh pergi dan ingat jangan sampai hal ini terulang, karna kalian aku sampai menampar putraku, maka minta maaflah kalian pada putraku."


Hanya pria tua itu yang minta maaf, sedangkan gadis yang bernama Niken masih terdiam dengan pandangan kosong.


"Duduk sayang kita minum teh bersama." Mama selalu memperlakukan Fana dengan baik.


"Kau tak ingin minta maaf pada putramu sendiri." Kenan menyindir sang ayah.


"Aku minta maaf jika aku salah, soal tadi aku tidak bersalah, itu salah mereka lagi pula mereka sudah minta maaf."


"Alasan."


Keempatnya berbincang ringan, Tapi mata Kenan tidak lepas dari diri Shafana semua ia perhatikan meski dalam kebisuan.


Seusai makan malam Kenan dan Fana memasuki kamar mereka.


Kenan membuka brankas dan mengambil satu kotak perhiasan.


"Mozaaa."


Kenan mendekatkan diri pada gadis itu, Shafana Refleks memejamkan kedua matanya bagai dejavu ia mengira Kenan akan menciumnya, sampai beberapa saat ia menunggu tidak ada pergerakan, hanya ada sesuatu kecil yang melingkari lehernya dan terasa dingin.


Sebuah kalung emas putih berliontinkan batu jamrud berwarna biru keunguan yang menghiasi leher jenjangnya. kulitnya yang putuh hampir menyatu dengan rantai kalung itu. Wajah Kenan mendekati lehernya, giginya menggigit pengait kalung itu guna mengencangkannya.


Hidung Kenan menyentuh leher Fana hal itu menimbulkan rasa aneh untuk keduanya, Kenan kesulitan menelan salivanya, jakunnya naik turun dengan nafas memburu, Aroma tubuh Fana membangkitkan naluri kelelakinya. Kenan mendadak merasa gerah dengan jakun yang naik turun. Begitu juga dengan Shafana tubuhnya langsung menegang hebat saat ujung hidung Kenan menyentuh lehernya, bahkan Fana juga merasakan rasa hangat saat nafas Kenan membelai kulitnya. Demi tuhan Shafana ingin meleleh saat itu juga, ia tidak bergerak yang ia lakukan hanya meremass ujung pakaiannya untuk melampiaskan prasaan yang ada.


Kenan menjauhkan diri, memandang lekat kalung yang melingkar di leher Shafana, "Jangan coba-coba melepaskannya." Nafasnya terasa hangat saat bibirnya bergerak diatas bibir Fana yang semerah Cherry masak.


Shafana terperangah saat kini wajahnya dan wajah Kenan berjarak sangat dekat, bahkan ia bisa melihat pori-pori wajah pria itu dengan jelas.


"Ka-kalung apa ini." Fana bertanya dengan memegang liontinnya.


"Jangan merusaknya."


"Itu kalung pemberian Mama, jadi jangan sampai kau merusak atau menghilangkannya, jika itu sampai terjadi mati kau! "


"Jika kau takut kalung ini rusak atau hilang, lebih baik kau yang menyimpannya." Shafana menyadari bahwa dirinya ceroboh ia tidak mau kalung ini membebaninya kelak.

__ADS_1


"Itu sebabnya kau memiliki tanggung jawab utuk menjaganya agar tidak rusak apalagi sampai hilang, kalung itu melambangkan status dan kedudukanmu saat ini, awas saja jika kalung itu hilang aku akan memakaikanmu tambang kambing." Kenan masih mengancam Fana. Shafana sendiri tau harga dari kalung itu setara dengan sepuluh harga rumah mewah. Fana harus menjaganya dengan baik jangan sampai kalungnya hilang, maka ia juga bisa kehilangan kepala.


"Tidur, jika tidak ingin ku tiduri."


__ADS_2