Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Tidak perlu berterima kasih


__ADS_3

Kenan pergi untuk menelpon Asistennya agar mengantarkan baju ganti untuknya dan Fana, mengenai mertuanya peduli setan akan pria tua itu.


Shafana baru keluar setelah melihat adiknya yang kini sudah sadarkan diri di temani ayahnya.


Di ruang tunggu juga ada dua orang lain wanita yang berbeda usia yang sepertinya juga tengah menunggui kerabat mereka juga.


"Moza, ini." Ziano menyerahkan sebuah nampan di atasnya terdapat mangkuk berisikan bubur ayam di dalamnya juga sebotol air mineral.


Fana mendongak menatap pria yang kini berdiri menjulang tinggi di hadapannya, tidak ada lagi jas putih yang membalut tubuh kekarnya.


"Ini apa Zi?"


"Sarapan untukmu, jangan sampai kau juga ikut sakit karna tak makan, ini sudah pukul delapan lebih dan aku tau kau belum sarapan." Ziano ikut duduk di sampingnya.


Entah kemana Kenan pergi, setelah berbincang tadi Kenan pergi dan menghilang sampai sekarang mungkin saja pria itu marah, atau justru pulang.


"Terimakasih, Zi." Fana langsung melahap makanannya tanpa sungkan lagi, sejak tadi Fana memang sangat lapar.


Tak memakan waktu lama Fana sudah menghabiskan makanan dalam wadahnya, serta air mineral yang ia tenggak hanya bersisa separuhnya saja di botol itu.


"Kau kenyang?" Ziano mengusap sekilas rambut Fana, yang membuat wanita itu sedikit terjengkit karna tindakan temannya yang terkesan tiba-tiba.


"Ya, terimakasih." Fana sedikit beringsut mundur ia merasa tak nyaman jika seandainya ada yang melihat perhatian yang di tunjukan Ziano.


"Sama-sama." Ziano nampak berbinar menatap temannya yang kembali menengguk minuman.


"Apa rumah sakit ini menggajimu hanya untuk mojok dan berkencan dengan seorang wanita." Pertanyaan yang sarat akan cemoohan itu terdengar jelas di telinga Ziano dan Fana, yup orang itu tak lain dan tak bukan adalah Kenan Moses. Yang selalu berkata seenak jidatnya.

__ADS_1


"Mau apapun yang aku kerjakan tidak akan merugikanmu. Jadi berhenti menghakimi profesiku." Ziano tak kalah berucap sinis.


BRUKK ...


Kenan sedikit membanting nampan dengan kedua mangkuk di atasnya ke kursi stainles yang ada di sana, sepertinya isi makanan dalam wadah adalah bubur yang sama yang barusan Fana habiskan tanpa sisa.


"Dok, ada Pasien." Seorang perawat menghampiri Ziano dan berkata sopan di sertai anggukan.


"Ya, saya akan ke sana. Mari." Ziano mempersilahkan perawat berjalan terlebih dulu jadi ia bisa mengikutinya dari belakang.


Mangkuk bekas makana Fana masih berada di sana. "Makanlah." Kenan berujar, ia tak ingin bertanya tentang apa saja yang istri serta dokter cabul itu ucapkan pria itu masih tetlihat kesal.


"Iya." Fana mengambil satu mangkuk dari nampan yang di bawa suaminya, terlebih dahulu ia memakan kerupuk diatas bubur. Jujur saja Fana sudah kenyang tapi ia tak berani untuk menolak makanan yang di bawa duaminya, bisa-bisa lehernya langsung di gorok menggunakan sendok yang tengah Kenan pergunakan untuk makan.


Ternyata setelah melakukan panggilan pada Arven Kenan langsung ke kantin untuk membeli sarapan. Setelah selesai mengantri dan mendapat makanan Kenan lansung menuju di mana Fana berada.


Sedangkan kedua wanita yang di sana hanya diam mendengar dan memperhatikan, kepo sekali kedua orang itu.


"Bagai mana keadaan adikmu?"


"Dia sudah lebih baik. Ken," Fana masih memakan malas buburnya tapi ia tak berani menolak.


"Kenapa makannya hanya di aduk-aduk saja? Kau tidak suka?" Kenan mendelikan matanya.


"Tidak, kok aku menyukainya." Fana langsung melahap cepat bubur itu.


"Kupikir kau tidak menyukainya. Jika kau bilang iya, aku pasti mengganti daging di bubur itu menggunakan dagingnu." Kenan selalu terlihat serius saat mengatakan sesuatu. Sampai kedua wanita di sana kompak menelan ludahnya kasar.

__ADS_1


Menyeramkan pikir mereka kompak. Dan segera pergi dari sana menuju ruangan di dekatnya.


Setelah keduanya menghabiskan makanan, Arven tiba di sana dengan membawa baju ganti serta dalaman keduanya. Pria yang merupakan asisten Kenan itu juga membawa satu bungkus pembalut dengan merk dan ukuran yang sama seperti yang Fana gunakan.


Kenan mengambil barang-barang dari tangan Arven, dan langsung menyuruhnya pergi.


"Arven, aku akan ke kantor nanti siang. Kau kerjakan dulu pekerjaanku, pastikan data untuk rapat nanti sudah siap sebelum aku tiba." Kenan memberi perintah dengan berwibawa, yang Fana sendiri selalu terkagum-kagum.


"Baik, Tuan. Saya permisi." Arven akan segera berlalu.


Tidak ada terimakasih atau ungkapan sejenisnya, yang Kenan ucapkan. Arven sudah terbiasa akan hal itu. Meskipun kesal karna tadi ia sempat di buat malu karna masalah pembalut tapi ini adalah tugasnya.


"Terimakasih Arven." Fanalah yang mengucapkan kata itu.


"Sama-sama Nona. Saya undur diri."


"Tidak perlu berterimaksih. Ini sudah tugasnya."


Kenan menyodorkan satu kantong pakaian istrinya setelah memastikan isinya, juga dengan pembalutnya."Bersihkan dirimu, dan ganti pembalutmu." Kenan berkata dengan dingin nada kesal masih terpampang jelas di wajahnya.


Fana segera mengambilnya dan hendak berlalu.


"Kau tidak mengucapkan terimakasih padaku."


"Tidak perlu berterimakasih, ini sudah tugasmu." Fana menirukan gaya bicara suaminya dengan kesombongannya yang khas.


Kenan melotot menyadari Fana tengah cosplay menjadi dirinya.

__ADS_1


__ADS_2