Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Berasa jadi bos


__ADS_3

"Baik Fana, aku akan mengurusnya. Jadi akhiri marahmu dan pulanglah kerumah kita."


"Tidak semudah itu Ken, aku perlu menenangkan diri." ujar Fana lemah.


"Kau itu sedah hamil muda, kata dokter itu adalah fase di mana kau akan merasa lemah dan butuh dukungan, lalu siapa yang akan ada di sampingmu, jarak rumah Ayah dan kantorku sangat jauh butuh waktu hampir dua jam Fana sampai di kantor aku lelah jika harus bolak-balik." Kenan mengerangg frustasi, semoga saja Fana mau mengerti sehingga mereka tinggal di rumah Kenan.


"Jangan khawatir, aku seorang piatu sejak sejak lama. Aku terbiasa menjalani kehidupan tanpa dukungan siapapun bahkan di masa sulit sekalipun." Fana menatap langit-langit kamar, jiwanya mengelana dimana ia sering kali mendapat penolakan dari orang sekitar kadang sang ayah pun seringkali mengabaikannya. Itu sebabnya ia menjadi pribadi yang tertutup dan tidak suka bergaul. Ia menyibukan dirinya dengan bekerja serta menulis sesuatu.


"Lagi pula, kau tidak perlu ikut untuk tinggal di rumah Ayah." lanjutnya lagi.


"Kau itu kanapa? Apa karna sedang hamil anakku kau berbuat seenaknya begitu?" Kenan tak suka saat di bantah, padahal tadi Kenan berbicara baik-baik tapi Fana malah menyulut emosinya. Wanita itu semakin menyebalkan.


"Kau yang kenapa? Lebih baik kau pulang saja dari pada kau merusak moodku." Fana mencebik, biarkan saja Kenan jengkel padanya syukur-syukur Kenan menceraikannya pikir Fana.


Kenan lagi-lagi menarik nafas ia harus mengalah setidaknya demi masa depannya dan Moci.


Kenan yang tadinya mulutnya bebas mangap menjadi gatal karna pembicaraannya harus ia kontrol, sekarang ia berada dalam masa training, bisa bisa di eliminasi sekarang.


Fana mengambil ponselnya ia membuka aplikasi online agar ada ia dapat menyantap makanan ia inginkan, tapi ia tercenung sebentar. Sepertinya asyik jika sekarang mengerjai Kenan kesempatan ini sangat jarang ia dapatkan. Selama beberapa bulan menikah Fanalah yang di kerjai Kenan habis habisan untuk itu ia akan balas dendam.

__ADS_1


Ya Tuhan maafkan Fana harus menjual nama bayinya agar pria arogan itu dapat Fana kendalikan, ibarat kata Kenan seperti kerbau yang di cucuk hidungnya saat bersinggunyan dengan bayinya.


Ekting di mulai. Fana kembali menaruh ponselnya. Dan jari lentiknya mulai mengelus pelan permukaan perutnya yang rata.


"Moci lapar?" tanyanya, entah lah pada selang intus di tangannya atau pada selimut yang menutup perut ratanya.


Kenan masih memperhatikan interaksi Fana dengan apalah Kenan tidak tau, bayinya baru berbentuk titik putih saja tadi di foto USG tidak mungkin Fana mengajak bayinya berbicara. Mata yang tajamnya tak lepas dari wanita itu.


"Mau makan nasi padang?" tanyanya lagi sangat lembut. Bahkan Kenan sampai melongo melihat istrinya berbicara selembut dan sepelan itu.


Kenan berpikir apakah orang hamil tingkat halusinasinya tinggi, atau ia menjadi punya kekuatan super, menjadi wanita indigo misalnya.


"Aku mendengar kau yang berbicara bukan bayiku." ujar Kenan tenang.


"Itu karna aku yang menjadi juru bicara bayiku. Sana cepat cari nasi padang anakmu lagi pengen jika keturutan nanti anakmu ngiler seperti peria botak di restoran tempo hari." Ancam Fana, pikiran Kenan langsung di terbaikan kekejadian tempo hari ia bergidik ngeri sendiri anaknya pasti rupawan jangan sampai seperti pria botak itu batinnya.


"Baiklah, aku akan menyuruh Arven." Kenan berdiri.


"Sebenarnya Ayah bayiku Kau atau Arven?" Fana melipat tangan di dadanya.

__ADS_1


"Memangnya kau pernah begituan dengan Arven?" Tanya Kenan marah.


"Bukan begitu Ken, jika anakmu yang ingin maka Ayahnya yang harus mencarinya. Itupun jika kau tak ingin anakmu ileran." Tetang Fana malas.


"Oh, Kirain."


"Ya, sudah aku akan mencaarinya sendiri. Apa lauknya?"


"Rendang dan ayam bakar." Fana menelan ludah saat membayangkan makanan nusantara yang kaya rempah memanjakan indra perasanya.


"Baiklah."


"Beliin juga buah pear." tambah Fana lagi.


"Itu yang ingin kau atau bayiku?" tanya Kenan sinis.


"Itu aku yang ingin, jika tidak makan buah aku selalu mual Ken, pergilah aku sudah lapar." Usir Fana dengan mengibaskan semua jari tangannya.


Kenanpun menurut. Fana tertawa cekikikan. "Ah aku berasa jadi bos bisa menyuruh pria arogan itu." Fana kembali terbaring di ranjangnya dengan hati yang berkembang-kembang.

__ADS_1


__ADS_2