Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Hidangan sehat.


__ADS_3

Kenan dan Shafana menuruni tangga untuk makan malam, Kenan mengaitkan jemari tangannya ke tangan sang istri entahlah itu untuk berpura-pura romantis di hadapan orang tuanya, atau justru itu keinginnya sendiri.


"Kalian harus pergi bulan madu." ucap papa di srlaakan malamnya


"Ken akan atur jadwal secepatnya Ma, Mama tidak usah kepikiran masalah ini ya."


"Pergilah Ken, biar papa yang mengatur beberapa urusanmu."


"Baiklah, tapi Ken juga butuh waktu untuk menyelesaikan pekerjaan Kenan."


Semuanya melanjutkan makan malam dengan keheningan, terlebih Shafana yang tak habis pikir mengapa bisa Kenan mengatakan akan pergi bulan madu bersamanya.


"Apakah Kenan sedang berencana untuk melenyapkanku? Apa dia akan mendorongku dari menara atau hotel tinggi yang berada di sana? Aku harus bagai mana? Aku tidak siap mati dalam keadaan perawan." Dalam batin, Fana menjerit.


.


Tak ingin kembali di permainkan Shafana meloloskan diri dari hadapan suaminya, ia lebih mengurungkan ritualnya malam ini dari pada harus menghadapi tingkah suaminya yang terkesan aneh akhir akhir ini.


"Dasar menyebalkan, lebih baik aku tidur saja dari pada harus menghadapi pria kejam sepertinya." Shafana menarik selimut untuk metupi seluruh tubuhnya sampai ke leher.


"Kenapa sekarang kau terlihat sangat cantik, aku bahkan lupa kapan terakhir kali kau terlihat jelek." Kenan berdiri menjulang di sisi tempat tidur matanya tak lepas dari wanita yang telah resmi menjadi istrinya.


Kenan mengitari tempat tidur dan terbaring di sebelah Fana.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku, mengapa semua yang ada padamu tiba-tiba terlihat indah." Kenan lagi-lagi membatin.

__ADS_1


Kenan mendekatkan wajahnya pada wajah cantik itu, Fana semakin cantik tanpa kacamata sialan itu, bulu matanya yang lentik terlihat jelas, Kena sangat menyukainya.


Wajah keduanya semakin dekat, Kenan dapat merasakan hembusan nafas yang teratur dari wanita itu, hidung mereka sudah bersentuhan saat tiba-tiba.


"Apa yang kau lakukan? Kau ingin mencuri ciuman dariku." Shafana berucap serak.


Kenan terkejut, saking kagetnya ia sampai meloncat dari tempat tidur.


"Kau sudah bangun?"


"Ya aku bangun, aku itu tertidur bukan mati."


"Galak sekali dia." Kenan kembali membatin.


"Dasar aneh." Fana beranjak memasuki kamar mandi.


Perut Kenan terasa sakit tiba-tiba, dan terpaksa harus menggedor kamar mandi.


"Fana cepatlah keluar perutku sakit!"


"Ya sebentar." Shafana keluar dan langsung ke meja rias ia enggan melewatkan rutinitas malamnya, meskipun malam kini sudah mulai larut.


Selama Shafana di meja rias Kenan sudah bulak balik ke kamar mandi, jika tidak salah menghitung Kenan sudah empat kali bulak balik.


"Kau kenapa?" Shafana mendekati suaminya, tanpa sadar ia mengusap keringat yang mengembun di kening Kenan, untuk sesaat Kenan tertegun dengan perlakuan istrinya.

__ADS_1


"Aku sakit perut."


"Tadi sebelum makan malam kau makan sesuatu yang lain?"


"Tidak, setelah makan siang aku tidak memakan apapun."


"Kau yakin?"


"Hmm."


"Coba kau ingat-ngat barang kali kau jajan sembarangan di luar." Kata jajan sembarangan kini terdengar ambigu di telinga Kenan, jajan sembarangan seumur-umur Kenan belum pernah jajan selain melakukannya dengan kekasihnya. Sial yang istrinya maksud pasti bukan jajan yang itu.


"Aku tidak jajan sembarangan, untuk apa aku jajan di luar sedangkan di rumahku ada hidangan sehat meskipun penampilannya tidak menarik." Kenan membalas dengan kalimat ambigu pula, tapi sayang Shafana terlalu polos dan tidak menyadari maksud suaminya.


"Ya, sebaiknya kau jangan jajan di luar akan lebih dehat jika kau memakan hidangan yang ada di rumah."


"Tapi sayang pemiliknya tidak pernah menawariku." Kenan kembali menjawab di luar jalur yang istrinya maksud.


"Kau ini, semua hidangan yang di rumah ini milikmu kau tidak perlu menunggu di tawari, jika kau ingin kau bisa mengambilnya sendiri tanpa meminta ijin."


Kenan menyeringan penub kemenangan. "Ya lain kali aku akan memakannya meskipun tidak di tawari."


.


.

__ADS_1


__ADS_2