Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Kau mengenal Ziko?


__ADS_3

Shafana sekarang tengah menunggu taksi online yang dirinya pesan, tidak jauh dari Caffe yang ia miliki tapi tiba-tiba sebuah mobil berhenti di hadapannya sebuah mobil berwarna putih dan sepertinya Fana pernah menaiki mobil itu.


Benar saja saat sang pemilik mobil itu turun Fana mengenali pria itu dia Ziano temannya dulu di waktu sekolah SMA, meskipun Fana hanya berteman sekitar satu setengah tahun tapi Fana tidak terlalu dekat dengan Ziano, Fana hanya sesekali bersama pria itu tapi sisanya dia lebih memilih untuk menghabiskan waktu seorang diri.


"Kau habis dari Caffe milikmu?" Ziano berhenti tepat di hadapan wanita itu.


"Ya, aku sedang menunggu taksi pesananku."


"Kenapa kau jarang sekali membawa mobil bukankah kau bisa menyetir." tanya Ziano.


Shafana bungkam, bingung harus menjawab tidak mungkin bukan jika ia mengatakan jika sebenarnya tadi ia pergi dengan Kenan.


"Masuklah! Biar ku antarkan pulang!" Ziano membuka pintu mobil yang terletak di samping kemudi. "Silahkan Tuan putri." Ziano mempersilahkan.


Degg... Shafana masih bergeming dengan waktu yang cukup lama di tempatnya, panggilan itu hanya Ziko yang selalu memanggilnya dengan sebutan Tuan putri.


"Moza, masuklah. Aku akan mengantarmu." wanita cantik itu segera tersadar dari lamunannya.


"Terimakasih." Mereka berdua duduk bersebelahan dengan perbincangan ringan antara keduanya.


"Zi, kau dari mna?"


"Aku bekerja di rumah sakit deket Caffemu." ucap Ziano jujur.


"Oh."

__ADS_1


"Moza katakan kemana aku harus mengantarmu?" Ziano bertanya dan langsung di jawab Fana kealamat rumah lamanya karna memang Fana sedang menginap di rumah sang ayah.


Di perjalanan ban mobil yang di kendarai Ziano tiba-tiba bocor sehingga mau tak mau mereka mampir di sebuah bengkel untuk memperbaiki mobilnya.


"Minumlah! udara sedikit dingin, langitpun sudah mendung, aku rasa sebentar lagi akan turun hujan." Ziano menyodorkan teh hangat kearad Shafana.


"Termakasih."


Setelah beberapa saat menunggu mobilnya selesai di perbaiki, mereka melanjutkan perjalanan dan bertepatan dengan itu hujanpun turun dengan derasnya, bau tanah terasa pekat dipenciuman Moza, hujan pula mengingatkannya pada seseorang di masa lalu.


Entah apa yang Ziano bahas, Shafana benar-benar tidak memperhatikannya, ia hanya fokus pada senyuman Ziano yang semakin lama semakin sama dengan senyuman orang yang ia rindukan.


"Ziko ..." tanpa sadar Fana menyebut pelan nama itu.


"Kau bilang apa?"


"Oh, kukira kau mengatakan sesuatu." Ziano kembali melanjutkan ceritanya dan sukses membuat Fana lagi-lagi terpesona dengan tawa dan senyuman Ziano.


"Persis seperti Ziko, meskipun Ziano orang yang berbeda tapi mereka benar-benar mirip, astagha apa-apan aku ini, Ziko jelas lebih baik dari siapapun." Fana mengsugesti dirinya sendiri.


Ziano tampak asyik meskipun ceritanya tak Fana tanggapi. Ia masih tertawa.


"Berhenti tertawa, dan turunkan aku sekarang." bentak Fana, jangankan Ziano, Fana sendiri kaget dengan suaranya yang kasar dan tinggi.


"Oke, aku akan berhenti tertawa. Tapi jangan harap aku akan menurunkanmu di tengah jalan dengan keadaan hujan begini, ini sangat bahaya untuk di lakukan." Ziano langsung membungkam mulutnya rapat.

__ADS_1


"Maaf. Zi, aku tidak bermaksud."


"Ya tidak apa."


Shafana memalingkan wajah keluar jendela.


"Moza kau memikirkan sesuatu?" Ziano menyadari kekawatiran di wajah wanita di sebelahnya.


"Hmm."


"Ada apa?"


"Zi boleh aku bertanya sesuatu?"


"Ya, tentu. Katakan saja!" Ziano tenang menjawab di selingi senyuman yang sedari tadi membuat jantung Fana berdebar kencang.


"Kau mengenal Ziko, tanyanya hati hati."


Hening Ziano nampak diam dengan pertanyaan temannya itu.


"Kau tau? Aku beberapa tahu lalu aku memiliki seorang teman bernama Ziko, dia sangat baik, wajah dan sifatnya menyerupai dirimu. Itu lah sebabnya aku sering menghindarimu, aku selalu teringat padanya saat bertemu denganmu dan itu selalu berhasil membuatku merasa sesak." Fana berkaca-kaca saat mengungkapkan itu.


"Ya, aku mengenalnya. Ziko adalah adik kembatku." Ziano berucap datar dengan tersenyum kecut berbeda dari senyum srbelumnya.


Degh...

__ADS_1


Waktu seakan terkunci saat itu juga, pernyataan Ziano sukses membuatnya merasa terlempar ke masa-masa di mana ia dan Ziko berteman selama sebih dari empat tahun, dan di saat Ziko sudah meninggal dunia Ziano, datang sebagai murid pindahan, meskipun dengan penampilan yang hampir sama tapi mereka orang yang berbeda dengan wajah yang hanya mirip tapi berbeda.


"Moza, aku ingin mengakui sesuatu. Sebenarnya aku menyukaimu sejak beberapa tahun lalu." lemas sudah Shafana, ini bencana untuk hatinya, mengapa harus Ziano yang berhasil menggetarkan hati dan jantungnya.


__ADS_2