Terpaksa Menikahi Gadis Culun

Terpaksa Menikahi Gadis Culun
Aku cukup tau diri


__ADS_3

Di pelukan ini lah Fana memiliki ketenangan, beberapa waktu terakhir Fana merindukan pelukan Ayahnya untuk menenangkan kegundahannya. Tapi sepertinya Ayahnya enggan untuk memberikannya sebuah pelukan.


"Jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri. Hanya aku yang boleh menyalahkanmu." Kenan berbisik tapi istrinya tidak menanggapinya.


Fana mengurai pelukannya saat terdengar pintu ruang tindakan Shifa di buka, Ayahnya segera menghampiri sang dokter untuk menanyakan keadaan putri bungsunya.


"Dok, bagaimana keadaan putri saya?"


Ziano hanya menhela nafas, untuk sesaat ia meneliti ke dua wajah teman sekolahnya ada beberapa pertanyaan di benaknya.


"Keadaannya sudah stabil hanya saja, janin dalam perutnya telah gugur pak, saya yakin anak bapak sebelumnya mengonsumsi obat peluruh kandungan, dan untuk kebenarannya hasil tesnya akan keluar beberapa jam lagi." Ziano menjelaskan sedikit apa yang terjadi pada Shifa.


"Janin dalam rahimnya masih rentan, karna baru berusian beberapa minggu. Jadi saat ada ancaman dan mengenainya janin itu akan luruh karna masih segumpal darah, beruntung pasien tidak perlu melakukan oprasi untuk membersihkan rahimnya." Ziano menyambung kembali kalimatnya.


"Ya, Tuhan." Rendy meluruhkan dan melemaskan pundaknya yang kaku karna ketegangan sedari tadi.


Sungguh, Rendy tidak menyangka jika Shifa akan berbuat nekad, meskipun Shifa keras kepala tapi selama ini anaknya tidak pernah mengecewakannya, oleh sebab itu Rendy selaku orang tua selalu menuruti keinginannya.

__ADS_1


"Moza, benarkah Shifa adikmu?" Ziano bertanya, sejak tadi pertanyaan itu mengganggu sebagian besar otaknya. Bagai mana bisa mereka adik Kakak? Tanpa ada yang mengetahui satu orangpun semasa sekolah.


Fana mengangguk pasrah, tak ada niatnya untuk kembali berbohong jika Shifa memang adiknya, adik kandungnya. "Ya, Shifa memang adikku, Zi."


"Lalu sedang apa pria angkuh itu di sini?" Ziano memberikan tatapan heran, bahkan keningnya ikut mengkerut.


"Dia, dia." Fana bingung mau menjawab apa. Ia tak ingin mempermalukan Kenan kembali.


"Apa dia kekasih adikmu?" Tiba-tiba saja Ziano menyimpulkan, tidak mungkin jika Kenan kekasih Moza kan? Mengingat betapa arogant dan sensi tingkah Kenan pada Moza temannya.


"Ya. Iya dia kekasih adikku." Putus Fana cepat. Setelah mengatakan itu Fana menggit lidahnya sendiri.


"Boleh saya menemuinya." Rendy meminta ijin.


"Tentu, pak. Hanya saja bergantian ya, jangan sampai mengganggu waktu istirahatnya." Ucap Ziano sopan.


Ziano pamit untuk pergi sebentar. Setelah ayah dari pasiennya pergi.

__ADS_1


"Moza, aku pergi sebentar nanti aku kembali lagi ya." Ziano tersenyum. Memperhatikan pakaian temannya yang hanya mengenakan gaun tidurnya, meskipun tidak pendek tapi cukup terbuka, memamerkan lengan serta kaki jenjangnya. Sangat cantik


"Apa yang kau lihat?" Kenan menyadari tatapan kagum teman dokternya.


"Apa?"


"Dasar dokter cabul. Enyah kau! jangan memperhatikan Fana di hadapanku." Kenan mendorong kasar bahu dokter itu.


"Memangnya siapa kau? Melarangku." Ziano mendengus tak suka "Sudahlah aku pergi saja. Moza, aku permisi ya." Berbanding terbalik dengan ucapannya pada Kenan yang ketus, ucapan Ziano sangat lembut saat berbicara pada Fana.


Hah, memang begitu kelakuan pria selalu bersikap manis dan berbicara lembut di hadapan gadis yang ia suakai. Ah bukannya benarnya jika Ziano menyukai Fana, waktu itu Ziano sendiri yang mengatanya jika kalian lupa.


Berbeda dengan Kenan, pria pemarah itu terang-terangan mengatakan tidak menyukai Fana, bahkan sering memperlakukannya dengan kasar menyebalkan.


"Heh, Culun. Kenapa kau mengatakan iya saat Ziano mengatakan jika aku kekasih adikmu?" Kenan menggebu saat mengutakan itu, dirinya tidak terima jika istrinya tidak mengakuinya.


"Memangnya apa yang harus kujawab? Haruskah aku mengatakan pada Ziano jika kau suamiku? Hahaha ... " Fana tertawa meledek. "Lucu sekali kau, bukannya kau sendiri yang melarangku mengatakan jika kau malu mengakui aku sebagai istrimu. Sudahlah Ken aku cukup tau diri untuk tidak mempermalukanmu." Fana tersenyum getir kali ini.

__ADS_1


Kenan membatu di tempatnya, ada rasa sakit di sudut lain hatinya, entah karna ucapn istrinya atau karna ulahnya sendiri.


__ADS_2